
Waktu masih menunjukkan pukul 13.00, Evan sudah sampai di rumahnya. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri, mengapa sama sekali tidak peka dengan perilaku Pak Dony selama ini. Membuatnya bergidik dan merasa jijik.
Kemudian ia pergi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi, Evan duduk di ruang keluarga melihat-lihat acara tivi. Hari ini Sean masuk pagi, jadi otomatis jam-jam seperti ini ia tidak akan bisa membalas pesannya.
Meskipun raganya bersantai, tapi pikiran Evan sangat sibuk berfikir. Ia hampir saja putus asa. Satu tahun sudah dilewati, tapi ia belum mendapatkan pekerjaan yang mapan.
Evan menerawang jauh, pikirannya menembus masa depan. Bagaimana nasibnya jika ia tak kunjung mendapat pekerjaan yang baik dan mapan.
Fikiran-fikiran seperti itu membuat hati Evan gelisah.
****
Di waktu yang sama, Sean sedang merapikan pakaian-pakaian di sebuah rak besar. Ia tak merasakan apapun dengan kejadian yang Evan alami. Hanya saja ia ingin sekali menemui Evan karena rindu. Ia berencana akan pulang secepatnya dan meminta Evan untuk bertemu.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dengan ramah memanggil namanya dari belakang,
"Hai Sean, pulang nanti kita makan-makan yuk. Kita nggak berdua kok, Ada Cantika, Vero dan Daniel"
Ternyata laki-laki itu adalah Rifky, Seorang tenaga teknisi yang berperawakan tinggi semampai dengan gayanya yang slengekan.
"Eh kamu. Tapi aku ada acara nih" Sean mencoba menolak.
"Halah bentar aja napa sih. Deket sini doang. Mau ketemu pacar ya? Tanya Rifky
"Iya dong." Jawab Sean singkat.
__ADS_1
"Udah bentar aja. Nggak usah bawa motor, nanti gue tunggu di bawah, boncengan aja ama gue. Soalnya hari ini gue lembur, jadi abis makan-makan gue balik lagi kesini" Paksa Rifky
"Aduh gimana ya?" Sean ragu
"Pokoknya gue tunggu ntar." Kata Rifky sambil berlalu meninggalkan Sean.
"Waduh, gagal deh ketemu sama Evan" Sean membuang nafas lemas.
Waktu pulang pun tiba, Karena tak ingin temannya menunggu, maka ia turun ke lantai basement untuk menemui Rifky. Maklum saja mereka tidak turun bersamaan, karena mereka semua tidak bekerja dalam satu Brand Counter. Tempat mereka berpencar, namun seseorang akan menemukan dan berkumpul secara otomatis dengan teman yang sejalan bukan? Ini adalah opini yang hampir nyata. (menurut author, hehehe)
Ternyata Rifky sudah menunggunya di atas motor. Sean bergegas menghampirinya agar lekas berangkat, sebenarnya dalam hati ia sangat ingin menolak, tapi apa daya, Sean merasa sungkan jika menolak permintaan teman-temannya.
Tak butuh waktu lama, mungkin hanya sekitar 10 menit motor Rifky sampai di sebuah tempat makan sederhana. Tiga teman mereka rupanya sudah duduk saling bercanda, Rifky dan Sean menghampiri ketiganya dan ikut bergabung dengan mereka.
Ini hanya sekedar makan bersama, tak ada yang spesial.
Setelah makan-makan selesai, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, Sean kembali ke parkiran tempat kerjanya untuk mengambil motor. Ia bergegas pulang kerumah.
Sesampainya dirumah ia langsung membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya di kasur.
"Hari ini lelah sekali.. Oh iya! Aku lupa, nggak ngabarin Evan sama sekali" Gumam Sean sambil menepuk keningnya.
Dengan cepat ia meraih ponselnya. Benar saja, dua pesan masuk, dan banyak sekali panggilan tak terjawab dari Evan.
📩 "Sayang aku jemput ya. Motormu biarkan saja disana, kan ada yang jaga 24 jam. Besok aku yang antar kamu kerja. Kamu bisa membawanya setelah jam pulang" pesan pertaman Evan
📩 "Tunggu aku jangan kemana-kemana" pesan kedua Evan
__ADS_1
Kemudian Sean membuka catatan panggilan, 28 panggilan tak terjawab dari Evan. Sean terkejut dan langsung menelfon balik kekasihnya itu.
Benar saja, Selama bekerja Sean mematikan ponsel dan menaruhnya di dalam tas. Saat bekerja, tas karyawan wajib masuk dalam loker. Karena masuk area sangat tidak diperbolehkan membawa apapun termasuk ponsel, yang mereka bawa hanyalah kunci loker milik masing-masing.
Sedangkan Sean ketika pulang kerja sudah diburu waktu menemui teman-temannya. Tidak ada waktu dan tentu saja ia melupakan ponselnya yang belum dinyalakan.
Sayang sekali, usaha Sean untuk menghubungi Evan akhirnya gagal. Kini ponsel Evan yang mati.
Sean merasa sangat bersalah pada kekasihnya itu, dan tubuhnya jadi melemas. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan.
Sean menjalani hari-harinya tanpa bersemangat. Sudah empat hari lamanya Evan tidak membuka pesan darinya, membuatnya tak nyaman dan merasa hubungannya digantung.
Sebenarnya ia sangat ingin mengunjungi Evan di rumahnya. Tapi itu sangat tidak mungkin, Meskipun ia tahu lokasi rumahnya, tapi ia sama sekali belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya dirumah Evan. Keluarganya pun belum ada yang mengenal Sean. Akan sangat memalukan jika seorang gadis mencari lelaki dengan mendatangi rumahnya.
Berulang kali Sean mengirim pesan permintaan maaf pada Evan, tapi sama sekali tidak ada respon. Sakit sekali hatinya menerima perlakuan yang menurutnya tidak jelas seperti ini.
"Keterlaluan sekali dia. Hanya karena aku lalai untuk menghubunginya sekali saja, dia udah ngambek kayak gini. Aku harus gimana donk sekarang?" Gumam Sean
Dalam hatinya berkecamuk berbagai macam perasaan, antara marah dan rindu, juga perasaan sebal pada situasi seperti ini. Rasanya ingin sekali menemui Evan dan mencakarnya karena emosi.
"Kamu tega sekali Evan. Tiba-tiba kamu menghilang setelah sekian lama kita menjalin hubungan. Ini hanya masalah sepele, kenapa begitu mudahnya kamu pergi dan menggantung hubungan ini" Sean masih membatin, kali ini ia sangat sedih.
Sudah hampir tiga tahun mereka menjalani hubungan. Berbagai masalah mampu mereka selesaikan bersama. Tapi tidak untuk masalah kecil sekarang ini. Evan tidak pernah seperti ini sebelumnya, menghindar bahkan tak dapat dihubungi.
Berbagai kemungkinan buruk sudah disiapkan oleh Sean. Meski hatinya sangat berat. Evan adalah cinta pertamanya, bukan hal kecil bila hubungan ini bisa bertahan hampir tiga tahun. Mengingat Evan adalah laki-laki yang sangat tampan dan pembawaannya yang penuh kharisma. Sangat banyak gadis yang mengejarnya, Namun kenyataan mengejutkan bahwa Evan menolak mereka mentah-mentah demi menjaga hubungannya dengan Sean. Menurut Sean, Evan tak seperti laki-laki seumuran pada umumnya, yang masih senang bermain game daripada bekerja, Evan juga bukan laki-laki yang suka mempermainkan wanita. Sudah di buktikannya selama ia berhubungan dengan Evan. Sedikitpun sifat Evan tidak pernah berubah, ia tetap menjadi laki-laki yang tenang dan penuh kasih sayang, tidak arogan dan tidak temperamental.
Evan pun selalu mengalah pada Sean yang lebih banyak cerewet dan sedikit manja padanya.
__ADS_1
Kali ini Sean tak habis pikir dengan perubahan sikap Evan. Ingin rasanya memperjelas dan menyelesaikan masalah tanpa sebab yang jelas ini, namun ia sudah putus asa, karena tidak ada jalan untuk menemui kekasihnya itu.