Akankah Kembali

Akankah Kembali
Percobaan


__ADS_3

Setelah Sean membersihkan wajahnya, ia membersihkan tubuhnya. Mandi dengan air hangat dalam sebuah bathtub dengan busa beraroma wangi dan lembut. Berharap setelah ini akan merasa segar dan akan sangat nyaman terbebas dari keringat untuk istirahat.


Setelah selesai mandi. Ia mengambil sebuah handuk dalam sebuah laci dibawah washtafel. Namun ia baru ingat bahwa tidak membawa pakaian ganti kedalam kamar mandi.


"Sayang! Boleh minta tolong sesuatu?" teriak Sean memanggil Suaminya.


"Ya! Kenapa Sayang?" Evan menjawab dengan masih berbaring di kasur.


"Boleh minta tolong ambilkan bajuku dalam koper?" Teriak Sean lagi. Ia berfikir akan bersembunyi di balik pintu kamar mandi ketika Evan datang membawa bajunya.


"Maafkan aku, aku sangat lelah Sayang. Ambil sendiri ya!" Seru Evan.


Senyum licik Evan merekah, berharap istrinya akan keluar dengan hanya menggunakan selembar handuk saja ditubuhnya, dan ia sangat menanti momen saat Sean mengganti baju dihadapannya.


"Aduh, gimana nih? Masa aku harus keluar pakai handuk aja. Gak mungkinlah, nanti dikira aku menggodanya." Batin Sean.


Namun setelah beberapa saat, memang sudah tidak ada jalan lain lagi. Sean membulatkan niatnya untuk keluar kamar mandi hanya dengan memakai selembar handuk.


krekk...


Suara Pintu kamar mandi terbuka pelan. Sean mengintip Evan yang sedang berbaring bermain ponsel.


"Aman. Dia lagi asik main ponsel!" Gumam sean lagi.


Sedangkan Evan berpura-pura tak mengetahuinya, agar Sean bergegas keluar dari kamar mandi itu.


Benar saja, beberapa menit kemudian Sean keluar hanya dengan balutan selembar handuk. Ia berjalan segera menghampiri kopernya, namun sayang seribu sayang. Sean menarik kopernya menuju kamar mandi dan membawanya masuk kedalam.


Membuat Evan sedikit kecewa dengan apa yang tidak sesuai denga harapannya.


"Sialan! Pikiran kotorku tidak berhasil. Padahal dia kan istriku, aku bisa aja masuk kesana. Tapi ini sangat memalukan" Gumam Evan.


Tak sengaja ia terbayang sosok Sean yang tadi sedang berjalan menghampiri kopernya. Membayangkan rambut basah yang diikat tinggi, pundak dan kaki yang mulus, membuat naluri kejantanannya tergugah.


Selang beberapa waktu Sean keluar dari kamar mandi, ia menggunakan stelan piyama berwarna pink, kemudian duduk di hadapan meja rias dan mulai mengeringkan rambut.


Dalam diam Evan memperhatikan istrinya tersebut, pikirannya tak karuan melihat Sean mengkibas-kibaskan rambutnya kesana kemari yang seolah melambai-lambai ingin dibelai.


"Tenang Evan. Kamu nggak boleh menerkamnya seperti singa lapar" Gumam Evan.


Tak berapa lama, Sean selesai dengan aktifitasnyam Ia memutuskan untuk berbaring di sebelah Evan.


"Permisi ya sayang. Aku lelah sekali, aku akan tidur di sampingmu" Ucap Sean permisi sambil membaringkan tubuhnya.


"Untuk apa kamu meminta izin? Tidurlah, aku masih membalas pesan dari teman-temanku" Balas Evan sambil mengusap rambut Sean.


Tanpa membalas, Sean mulai menarik selimutnya dan tertidur membelakangi Evan.

__ADS_1


Lama kelamaan Evan sudah tak tahan dengan aroma wangi yang tercium di ujung hidungnya. Dalam hatinya bergolak semua naluri lelakinya.


Kemudian Evan menaruh ponselnya, dan tidur memeluk Sean dari belakang. Mengendus-endus bau wangi dari rambut istrinya, dan mulai mennciumi leher dan pundak Sean.


Sean sekejap membuka mata setelah merasa ada yang aneh dengan tidurnya. Ia melihat tangan yang melingkar di perutnya dan merasakan ciuman bertubi-tubi yang ia dapatkan dari Evan.


Tak terasa semua itu membuat jantung Sean berdegub kencang, aliran darahnya menghangat, ia terbuai dengan suasana romantis tersebut.


Evan yang mengetahui bahwa Sean terbangun langsung membalikkan tubuh Sean, menempatkannya persis dibawah tubuhnya.


Ia mulai menciumi bibir Sean dengan liar. Nafasnya memburu. Sebelah tangannya mulai membuka satu persatu kancing Sean, dan memainkan bagian atas itu dengan lembut.


Ciuman itupun turun ke dada dan membuat Sean tak kuasa menahan kenikmatan, ia melepaskan nyanyian-nyanyian surgawi yang membuat Evan merasa sangat bersemangat.


Ketika sentuhan itu berada di perut Sean. Sean tersadar dan langsung menahan tangan Evan.


"Sayang maafkan aku. Jangan sekarang, aku belum siap" Bisik Sean di telinga suaminya.


Sekejap Evan terperanjat dengan penolakan Sean dan menghentikan aksinya.


"Oke kalau itu maumu" Ucap Evan sedikit ketus.


Mungkin karena pengaruh darah muda yang masih berkobar, membuatnya sedikit tak terima jika kemauannya yang satu ini di tolak mentah-mentah.


Evan kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan disana, lebih dari tiga puluh menit Suaminya berada di dalam sana.


Ketika Evan keluar, ia langsung berbaring di sofa di sebelah tempat tidur, memandang Sean yang terlihat seperti orang yang tidur nyenyak membuatnya sedikit lega karena menahan malu dengan penolakan istrinya barusan.


"Percobaan pertama gagal. Lihat saja nanti, kamu tidak akan bisa menolaknya" Gumam Evan licik.


Perlahan Evan memejamkan matanya dan mulai tertidur pulas.


Sedangkan Sean mencoba mengintip Evan dari balik selimutnya. Ia sangat lega melihat suaminya yang tertidur pulas. Ia takut bahwa kejadian barusan akan terulang lagi, karena Sean benar-benar sangat minim pengetahuan tentang hubungan seperti itu.


"Maafkan aku sayang. Aku akan mencari informasi dulu mengenai hubungan ini. Walau saja teman-teman kerjaku selalu mengatakan ini adalah kenikmatan yang bisa membuat ketagihan, tapi aku tidak tau harus berbuat seperti apa" gumam Sean.


Waktupun berlalu, mereka terlelap dengan mimpi masing-masing.


Tak terasa jam makan malam pun tiba, perut Sean keroncongan dan membuatnya ingin sekali bangun untuk makan malam.


Dilihatnya Evan masih tertidur pulas.


Ia memberanikan diri mendekati Evan dan membangunkannya.


"Sayang, bangun yuk aku lapar nih" Ucap Sean sembari menggoyang-goyangkan tubuh Evan lembut.


Srettttt....

__ADS_1


Bukkk...


Tangan Sean di tarik Evan, Sean terkejut dan langsung menindih Evan yang sedang berbaring.


"Aduh!" Sean terkejut.


"Tidurlah sejenak disini" Evan masih memejamkan mata.


"Tapi aku lapar" jawab Sean


"Iya sebentar lagi" balas Evan santai


"Kamu nggak lagi marah kan Sayang?" Tanya Sean.


Namun Evan tidak menjawab pertanyaan Sean.


Berulang kali Sean bertanya ini itu, Evan hanya diam tak bergeming, sambil terus memeluk istrinya itu.


Sean pun gemas karena tak mendapat respon.


"Evan! Aku lapar." Suara Sean lantang.


"Hei! Apa yang kamu katakan barusan?" Evan terkejut dan membuka matanya.


"Evan. Ayo kita makan Evan! Iya Evan.. Evan.. Evan.." Sean menggoda suaminya dengan nada mengejek.


Kemudian Evan melepaskan pelukannya dan beranjak dari tidurnya.


"Kamu udah berani ya! Aku ini suamimu. Cepat panggil aku Sayang!" Evan terlihat emosi.


"Hahahahaha. Kamu menggemaskan sekali kalau lagi marah. Hahaha. Iya deh Sayang.. Ayo kita makan" Jawab Sean menyudahi godaannya.


Evan menghembuskan nafas pasrah. Karena memang ini menunjukkan waktu makan malam.


"Cepat ganti bajumu" Perintah Evan.


"Kamu juga belum ganti baju" Terang Sean


" Aku gini aja gak masalah. Siapa yang peduli dengan ku?" jawab Evan..


"Kamu gak adil ah" Balas Sean


"Cepat ganti kalau kamu nggak mau terlambat makan malam" perintah Evan.


Kemudian Sean bergegas mengganti pakaiannya, ya! tentunya didalam kamar mandi.


Evan pun ternyata juga mengganti pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2