Akankah Kembali

Akankah Kembali
Diriku dan Emosiku


__ADS_3

Malam pun tiba.


Menginjak pukul 20.00 Sean menidurkan Renatta dengan berbagai macam cerita khas anak kecil sebagai pengantar tidur.


Tak butuh waktu lama, Renatta sudah pulas terbuai mimpi-mimpi indah di masa keemasannya.


Kemudian Sean mengecup lembut kening putrinya dan bergegas ke kamar pribadinya.


Ia mengganti pakaian dengan balutan baju tidur transparan dengan secarik G-string. Berharap suaminya segera datang dan menuntaskan hasrat yang sedari pagi sudah Sean tahan sekuat tenaga.


Ia memakai wewangian yang disukai Evan dan kemudian berbaring menunggu kehadiran sang pujaan hatinya tersebut.


Pukul 20.30 berlalu...


Pukul 21.00 berlalu..


Sean merasa bosan dan akhirnya tertidur dengan berselimut tebal menutupi seluruh tubuhnya.


Selang tiga puluh menit, Evan datang dan melihat istri dan anaknya telah tertidur pulas. Ia bergegas memebersihkan diri dan ikut berbaring di samping Sean.


Ketika ia menyibakkan selimut, terlihat jelas pakaian yang dikenakan Sean sangat menggoda. Tapi ia tidak tega jika harus membangunkan Sean yang sudah seharian sibuk mengurus Renatta dan mencari ilmu.


Cup....


"Maafkan aku, Sayang. Malam ini aku tidak menepati janji." Bisik Evan kemudian mengecup kening Sean.


Ia pun akhirnya tertidur pulas tanpa menyentuh Sean sedikitpun.


Pukul 00.30


Sean terbangun dan melihat suaminya sedang asik tertidur. Emosinya memuncak. Ia merasa sangat sebal.


"Tidakkah dia tau baju tidurku ini sangat menggoda? Atau memang dia acuh tak ingin menyentuhku!" Sean menggerutu.


Ia tak bisa tidur lagi karena emosi dan hasrat yang sudah memuncak sampai ubun-ubun.


Waktu pun berlalu. Ia beranjak dari ranjangnya untuk mengambil segelas air yang berada di sebelah jendela kamarnya.


Ia mengambil air itu dan menengguknya perlahan, berharap emosinya mereda. Kemudian ia berjalan hendak kembali ke ranjang. Tapi langkahnya terhenti, melihat bayangannya yang begitu seksi dan anggun di sebuah cermin besar dalam kamarnya.


Ia mengelus rambutnya perlahan,


"Betapa indah rambut ini... Tapi suamiku pun tak ingin menyentuhnya." Sean membatin.


Kemudian tangannya turun ke leher dan bermuara di dadanya yang semakin berisi tanpa balutan bra.


"Ini juga! Kurang apa sih, kok dia diem aja?" Sean terus saja membatin.


Ia memutar-mutar tubuhnya dan melihat setiap inchi kulit mulus yang ia miliki.


Kedua tangan yang terus meraba itu membuat bulu kuduknya merinding. Kemudian ia memutuskan ke kamar mandi dan menuntaskan hasratnya dengan sebuah mainan yang ia sembunyikan di balik jajaran stok alat mandi di sebuah rak yang tinggi.

__ADS_1


Ia menyalakan air bathtup untuk menyamarkan aksinya dan kemudian duduk bersantai di atas closet duduk berwarna putih dan mulai bermain-main disana.


Kenikmatan yang tidak ia dapatkan dari seorang suami sedikit terobati dengan adanya benda itu.


Ia bisa mengatur kecepatan yang ia inginkan, menarik dan mendorongnya sesuai keinginan batinnya, hingga akhirnya setelah beberapa waktu, ia bisa mendapatkan tujuannya malam itu.


Tubuhnya gemetar dan lemas. Aliran hangat terasa membasahi dudukannya. Ia menelan saliva dan menatap jauh ke langit-langit kamar mandi.


Setelah Energinya sedikit kembali, ia menceburkan diri ke dalam bathup berisi air hangat. Kini emosinya sangat rileks.


Ia menggosok tubuhnya lembut dan bergegas menyelesaikan mandi di pagi buta itu.


Setelah selesai mandi, ia mengeringkan rambut di luar kamar agar tidak mengganggu suami dan anaknya.


Lebih dari lima belas menit ia berada di luar kamar. Dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali berbaring di samping suaminya yang masih terlelap hingga fajar mulai mengintip bagian bumi yang mereka pijaki.


"Haaaa...... Sudah jam enam, Sayang!" Sean terperanjat ketika tak sengaja membuka mata melihat jam dinding.


"Ha! Apa! Apa! Ayo bangun!" Evan tak kalah kaget.


Mereka pun bergegas mandi dan mempersiapkan diri masing-masing.


Mereka sudah tidak terpikir untuk sarapan atau menyiapkan Renatta seperti biasanya.


Setelah semua sudah Siap, Evan menyiapkan dua mobil dengan tergesa-gesa. Sedangkan Sean membangunkan Renatta dan langsung mengajaknya kerumah Bu Nita.


"Sayang, jangan ngebut. Ini masih jam tujuh seperti biasanya. Hanya saja kita tidak sempat sarapan dan memandikan Natta! Hahahahaha!" Ucap Evan sambil terbahak.


Renatta yang terlihat masih mengantuk mendekapkan pelukannya di leher Sean, tanpa tahu apa yang sedang terjadi.


"Oke, Bos kecil. Jangan nakal sama Nenek ya! Papa kerja dulu. Cup!"


Evan berpamitan pada putrinya.


Kemudian ia mengecup kening Sean pula, dan bergegas menuju kantor.


Sedangkan Sean dan Renatta berlalu menuju rumah Bu Nita.


"Maaf ya, Cantik. Mama nggak sempat mandiin Natta, nggak sempat sarapan juga.." Ucap Sean


"Iya, Mama. Natta mandi sama nenek boleh?" Tanya Renatta.


"Iya. Boleh dong. Jangan lupa sarapan juga ya sama nenek. makan yang banyak biar sehat." Ucap Sean memberi semangat.


"Heem." Jawab Renatta mengangguk.


Merekapun akhirnya sampai di rumah Bu Nita. Sean keluar dari mobil dan menggendong Renatta.


"Hallo cucu nenek! Loh... Kok kusut banget sih Sean?" Tanya Bu Nita keheranan.


"Maaf, Bu. Sean kesiangan. Jadi belum sempat mandiin dan kasi sarapan buat Natta." Sean tersenyum kecut menahan malu.

__ADS_1


"Oh, gitu. Sini gendong Nenek! Ayo mandi dulu terus makan." Bu Nita meraih Renatta dan merayu cucunya itu.


"Baik, Bu. Sean berangkat dulu. Terima kasih." Sean berpamitan.


"Iya. Hati-hati jangan ngebut!" Balas bu Nita.


****


Sesampainya di parkiran, Sean keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Setelah menutup pintu, ia menyisir rambutnya dengan jari bergantian dengan bercermin di kaca mobil depan. Ia berharap penampilan kali ini tidak semrawut seperti rutinitas tadi pagi. Ketika ia membalikkan badannya.


Deg!


Seorang lelaki bertubuh kekar dan tampan menyapa Sean. Yang ternyata adalah Dhareen.


"Selamat pagi, Sean!"


"Eh.. Iya Pagi." Sean terkejut.


"Maaf kalau mengejutkanmu." Ucap Dhareen.


"Eng..nggakpapa. Permisi aku mau ke kantin dulu." Ucap Sean sambil menundukkan kepala.


"Apa boleh aku temani?" Tanya Dhareen.


"Terserah kamu saja." Sean terus berlalu meninggalkan Dhareen.


Namun siapa sangka, Dhareen tidak meninggalkan Sean. Ia malah mengikuti langkah Sean menuju kantin.


Mereka pun akhirnya duduk di sebuah bangku yang berhadapan.


Tanpa ragu Sean memesan dan menlahap secangkir minuman hangat dan sebuah sandwich berisi limpahan keju didalamnya, tanpa menghiraukan Dhareen.


Dhareen hanya terdiam mengamati Sean yang sedang asik dengan makanannya.


Setelah makanan itu habis. Sean membuka percakapan.


"Kamu ngapain ngikutin aku?" Tanya Sean sedikit ketus.


"Tidak. Aku tidak mengikutimu." Jawab Dhareen santai.


"Ini buktinya apa? Sejak aku turun dari mobil kamu ngikutin aku." Sean mulai sewot.


"Aku pikir kita berteman. Bukankah suamimu juga tau itu?" Jawab Dhareen dengan gaya yang sok cool.


"Berteman? Sejak kapan? Suamiku hanya tidak tau yang sebenarnya. Kita kan baru saling kenal waktu itu." Sean manyun.


"Intinya suami kamu kan udah tau. Oke kita sekarang berteman. Ayo pergi ke kelasmu sekarang!" Ucap Dhareen sambil beranjak dari kursi tanpa menunggu jawaban dari Sean.


"Dasar laki-laki aneh!" Gerutu Sean.


Sean yang baru sadar sudah masuk jam pelajaran juga ikut beranjak dan berjalan menuju ruangannya. Ia tak ingin ketinggalan pelajaran sedikit saja. Sebab, impiannya begitu sangat nyata di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2