
Empat bulan telah berlalu.
Setelah kejadian Sean terjatuh, mereka menikmati indahnya pengantin baru layaknya pengantin baru pada umumnya.
Kehidupan yang mulai terbiasa tanpa sedikitpun rasa canggung diantara mereka, membuat mereka sangat terbuka antara satu sama lain. Saling mengerti isi hati dan sangat menjunjung tinggi nilai pernikahan.
Tibalah suatu ketika Sean merasa tidak enak badan, membuat ia merasa malas untuk berangkat bekerja.
"Sayang.... Bangun!" Sean menggoyang tubuh Evan pelan.
"Sudah waktunya kerja ya, Sayang?" Jawab Evan masih terpejam.
"Belum. Tapi aku tiba-tiba nggak enak badan nih." Ucap Sean.
"Coba Sini aku liat!" Evan menempelkan punggung tangannya di kening Sean.
"Aku nggak demam. Kayaknya masuk angin deh. Perutku rasanya nggak enak banget." Ucap Sean lemas.
"Aku buatin teh hangat ya! Kamu disini aja." Evan bangkit dari ranjang kemudian berjalan menuju dapur.
Sekitar sepuluh menit Evan berada di dapur, kemudian ia membawa segelas teh hangat ditangannya.
"Coba minum ini dulu!" Ucap Evan.
Sruppp....
Sean meminum tehnya.
"Sayang, aku bener-bener nggak enak badan. Aku libur kerja aja, ya?" Tanya Sean.
"Iya, yang penting kamu cepet sehat." Evan mengusap kepala Sean lembut.
Kemudian Evan bergegas membuat sarapan dan menyiapkannya tepat sebelum jam kerja Evan tiba.
Mula-mula ia menyuapi Sean yang masih berbaring sambil menonton tivi di kamar. Kemudian ia beranjak mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.
"Sayang, Aku berangkat kerja dulu ya!" Evan menghampiri Sean dan mengecup keningnya.
Tiba-tiba...
Hooeeekkkk!!!!!!!!
Sean memuntahkan isi perutnya mengenai kemeja Evan yang licin nan rapi.
"Hah! Kamu nggakpapa, Sayang?" Tanya Evan terkejut.
"Aduh maafin aku, Sayang. Aku nggak sengaja." Jawab sean lemas.
"Kamu pucat banget. Sebentar lagi kita periksa ke dokter." Evan melepas kemejanya dan membersihkan sisa muntahan Sean sebelum ia mandi lagi.
"Nggak usah, Sayang. Kamu pergi kerja aja. Kalau udah muntah gini lebih enakan kok rasanya." Jawab Sean
__ADS_1
"Kamu yakin?" Tanya Evan ragu.
"Iya beneran. Udah sana mandi!" Jawab Sean yakin.
Kemudian Evan membersihkan diri dan mengganti kemejanya.
Kali ini ia berharap tidak ada lagi tragedi, karena tidak ada waktu lagi untuknya berlama-lama dirumah.
"Sayang, Aku berangkat ya. Kabari aku kalau kondisimu memburuk!" Ucap Evan mengecup kening itu lagi.
Hoeekkk!!!!
Sean seperti ingin memuntahkan isi perutnya, namun kali ini tidak ada sedikitpun yang keluar dari mulutnya.
Evan yang terkejut langsung mengambil langkah seribu untuk melangakh mundur. Berjaga-jaga agar tidak terkena muntahan untuk kedua kalinya.
"Kamu yakin nggak mau periksa?" Evan mengernyitkan dahi.
"Nggak! Kamu jijik ya liat aku muntah? Udah sana pergi. Nanti kamu telat!" Sean mengibas-kibaskan tangannya sebal.
"Bukan gitu. Kayaknya kamu gak baik-baik aja deh. Periksa aja lah!" Tegas Evan.
"Nggak mau! Aku cuma mau istirahat dirumah." Cemberut Sean.
"Oke oke! Jangan cemberut gitu. Kalau belum enakan, nanti sore sepulang aku kerja kita periksa! Jangan menawar lagi!" Ucap Evan tegas.
"Iya... Iya..." Sean mengalah.
Ditempat kerja ia sangat khawatir dengan Sean. Baru kali ini ia mengetahui istrinya sampai muntah-muntah jika masuk angin.
Wajah pucat Sean masih teringat jelas dalam pikirannya. Rasanya benar-benar ingin segera pulang.
Sedangkan dirumah, Sean asik menonton tivi dan memainkan ponselnya tanpa beranjak dari ranjang. Ia benar-benar malas, bahkan untuk sekedar membasuh wajah dan menggosok gigi. Akan sangat menjijikkan jika orang mengetahuinya.
Sekali waktu ia pergi ke dapur mengambil buah atau makanan ringan di meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar dan bermalas-malasan didalam sana.
Kali ini perutnya benar-benar lebih baik dari sebelumnya. Meskipun ia tidak makan, namun perutnya masih terisi berbagai macam makanan ringan.
Hingga waktunya tiba, Evan pulang dari bekerja.
"Sayang, Aku pulang!" Teriak Evan berirama.
"Iya, Sayang." Sahut Sean.
Kemudian Evan masuk kamar dan melihat Sean yang berbaring dengan setumpuk makanan di sebelahnya.
"Kamu udah baikan?" Tanya Evan heran.
"Udah dong. Gini doang!" Ucap Sean angkuh sambil menepuk perutnya.
"Haaah, syukurlah!" Ucap Evan sambil berjalan mendekat pada Sean.
__ADS_1
"Eits, Stop! Mandi dulu." Sean mengibas tangannya ke arah kamar mandi.
"Okee okee..." Evan berbalik arah menuju kamar mandi.
Setelah Evan membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian kasual. Ia menghampiri Sean dan merapikan makanan-makanan yang berserakan, menaruhnya di sebuah meja kecil.
"Sayang, Kamu belum mandi ya? Bajumu belum ganti dari pagi." Ucap Evan mengernyitkan dahi.
"Iya aku belum mandi. Kenapa?" Jutek Sean.
"Tumben banget. Biasanya nggak gitu." Jawab Evan lirih.
Kemudian Evan duduk disamping Sean, ketika hendak mencium istrinya itu, tiba-tiba...
Hoeeeeekkkkk!!!!!
Sean memuntahkan isi perutnya diatas selimut.
Evan terperanjat dan langsung keluar mencari lap untuk Sean dan muntahannya.
Evan kembali dengan sebuah kaleng kecil, beberapa lap dan sekotak tisu.
Kemudian ia menggulung selimut kotor itu dan membersihkan Sean.
"Sayang, periksa yuk! Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Tadi kamu bugar banget, seketika pucat setelah muntah." Ucap Evan.
"Tapi aku nggak mau, Sayang. Aku mau tiduran aja." Rengek Sean.
"Tapi aku nggak mau kamu lama-lama sakit." Ucap Evan.
"Pokoknya aku nggak mau. Kalau kamu maksa, aku marah nih!" Sean memaksa.
"Terus aku harus gimana? Diem aja liat kamu muntah-muntah?" Tanya Evan kesal.
"Aku nggakpapa, Sayang! Aku mau kasur ini khusus untukku sementara ini. Udah kamu duduk aja disitu!" Ucap Sean menunjuk sebuah sofa panjang di dekat jendela kamar.
"Apa aku harus tidur disitu juga?" Tanya Evan
"Iya Sayang. Pliiiisssss!" Sean memohon sambil memamerkan wajah manisnya.
"Haaaahhh!!! Ya sudahlah.. Oh iya, Kamu mau makan apa, Sayang?" Tanya Evan.
"Emmmm.... Aku lagi nggak pengen makan. Kamu makan sendiri ya, Sayang. Aku mau roti tawar aja deh, sama segelas susu hangat." Jawab Sean.
"Oke deh tunggu sebentar." Ucap Evan.
Tak lama kemudian Evan datang dengan membawa permintaan Sean.
Namun kali ini mereka tidak makan bersama. Evan memilih makan di sofa sambil menonton tv, sedangkan Sean asik makan di atas ranjang dan bermain ponselnya.
Evan sedikit merasa aneh dengan kelakuan Sean. Namun tak ada jawaban apapun atas keanehan sikap Sean mulai dari tadi pagi hingga malam itu.
__ADS_1
Setelah makan malam, Sean beranjak dari tempat tidur dan memebersihkan diri tanpa mandi. Membuat Evan sangat keheranan, biasanya Sean menyempatkan mandi meskipun ia sedang sakit atau sangat sibuk. Ia juga biasa menggunakan parfum yang semerbak wanginya, Namun hari ini tidak. Seperti bukan Sean, menurut Evan.