Akankah Kembali

Akankah Kembali
Perdebatan


__ADS_3

Waktu pertemuanpun tiba. Sean datang lebih awal di kafe X karena dia tak ingin berangkat bersama Evan. Dia duduk di balkon luar lantai dua kafe tersebut. Melihat pemandangan kota yang terlihat sedikit padat dengan lalu lalang kendaraan. Namun masih sangat asri karena di pinggiran jalan raya tertanam rapi pohon-pohon besar yang rindang.


Menunggu kedatangan Evan membuat hatinya berdebar tak karuan. Bukan saja karena rindunya, tapi karena topik pembicaraan kali ini akan sedikit serius dan memakan emosi.


"Ah.. Sudahlah. Ini kan hanya percakapan biasa" Sean berbicara sendiri sambil mengatupkan kedua tangannya di atas meja, kakinya yang dari tadi menghentak-hentak kecil membuatnya semakin tidak nyaman dengan situasi tersebut.


Lima belas menit kemudian Evan datang. Tampangnya cool, dia berjalan tegap tanpa melirik kesana-kemari. Entah dia tadi mencari Sean atau bahkan sudah hafal dengan perawakan Sean dari jauh, sehingga ia langsung saja menemukan tempat di mana Sean duduk menunggunya.


Evan menarik kursi dan kemudian mendudukinya. Tepat berhadapan, wajah mereka saling memandang. Membuat jantung Sean berdegub kencang dan salah tingkah melihat wajah Evan yang tampan. Ia sudah lupa tujuannya bertemu adalah ingin membicarakan perihal gadis lain.


"Hai, apa kabar?" Sapa Evan lebih dulu. Dia sadar Sean sedang terpesona melihatnya datang.


"Ha.. hai. Tidak begitu baik. Kau sendiri?" Jawab Sean.


"Ku lihat kamu baik-baik saja melihatku datang. Apa kamu merindukanku setelah semalaman kamu mematikan ponsel?"


"Tidak juga. Untuk apa aku merindukan laki-laki milik gadis lain". Wajah Sean terlihat bersungut-sungut.


"Oke, tenang dulu. Kita pesan minum. Kalau aku bersalah, aku akan siap untuk kamu siram dengan minumanmu. Bukankah selalu begitu adegan-adegan yang suka ditonton gadis-gadis di Ftv?". Evan mulai gemas melihat Sean yang terlihat cemburu. Dia berbicara sambil sedikit menyunggingkan bibirnya.


Tidak menunggu Sean menjawab. Evan langsung saja mengangkat tangannya memanggil pelayan yang sedang berdiri di sebelah meja kasir.


Pelayan pun datang dan mencatat pesanan Evan.


Tanpa bertanya Evan memesan dua gelas orange juice dan dua makanan ringan. Evan tahu, siang-siang begini kekasihnya sangat hobi minum orange juice. Sudah dia perhatikan selama mereka berpacaran.


Tak berselang lama pesananpun datang.


Mereka masih enggan untuk memulai pembicaraan.


Tiba-tiba Sean mengawali obrolan.


"Kenapa kamu manggil pelayan cewek. Genit amat sih? apa memang ini sifatmu, selalu tebar-tebar pesona!" dengus Sean

__ADS_1


"Kenapa, kamu cemburu ya? Dia itu kan kerja, lagian cuma pelayan itu yang sedang tidak sibuk" tanya Evan sambil tersenyum.


" Tidak, kenapa aku harus cemburu. Sudah jelaskan saja permasalahan pokok kita. Mengakulah jika memang si Eria itu kekasihmu" Sean membuang kasar tatapannya ke arah jalan raya.


"Baiklah Sean. Dengarkan, dia memang kekasihku..."


Tak sempat melanjutkan kata-katanya, Sean langsung saja memotong pembicaraan dan nyerocos kesana kemari tanda tak setuju dengan Evan.


"Apa kamu bilang? Berani sekali membohongiku! Aku tidak pernah menyakitimu, bahkan dari awal kita berkenalan aku selalu bersikap baik padamu. Aku kan sudah bertanya padamu waktu itu, kamu single atau punya pacar. Kamu jawab sedang single. Hahaha aku bodoh sekali mempercayaimu. Dimana ada orang selingkuh yang mengaku dirinya sedang ada hubungan dengan seseorang!" Sean berbicara dengan nada tinggi.


"Hei..hei.. tenang. Aku belum selesai bicara. Duduklah dengan tenang" Evan dengan tenang memegang tangan Sean di atas meja.


"Kamu bilang tenang? semua gadis tidak bisa tenang jika kekasihnya berbohong. Apalagi mengenai gadis lain. Tolong jujurlah. Dia sendiri yang mengatakan bahwa kamu kekasihnya. Bahkan ada beberapa foto yang benar-benar itu dirimu dan dirinya". Sean masih emosi, tapi suaranya lebih pelan dari yang tadi.


Malu kali ya sama sekitar, atau baper di alusin sama Evan.. hehehe entahlah.


"Ssttt... dengarkan dulu" Evan menutup bibirnya dengan telunjuk, isyarat agar Sean diam dan mendengarkan.


"Begini. Eria memang kekasihku, tapi itu dulu sebelum berpacaran denganmu" lanjut Evan.


"Ya..ya.. Baiklah. Aku sudah nggak ada hubungan dengan dia. Hanya saja dia selalu mengejarku. Aku juga nggak tau kenapa dia seperti itu. Apa memang aku terlalu tampan sehingga dia tak mau berpisah denganku" Evan berbicara sambil mengangkat bahu di kalimat terakhirnya.


"Ih Pede banget kamu. Itu karena kamu mempermainkannya terlalu dalam. dia jadi baper deh" Wajah kesal masih diperlihatkannya pada Evan.


"Hey sayang, aku tidak pernah mempermainkan wanita" Evan menjelaskan dengan ringan.


Sean ternganga mendengar panggilan dari Evan. Membuatnya terlihat konyol dan itu sangat memalukan. Dalam hatinya sungguh tidak percaya.


"Sayang? Benarkah dia memanggilku sayang? ini pertama kalinya dan benar-benar so sweet".


Kemudian Sean menutup mulutnya dan berpura-pura merapikan bajunya. Ia menunduk, enggan untuk menatap Evan yang sedari tadi tersenyum melihat kelakuan Sean.


"Kamu kenapa? bukankah sudah biasa memanggil kekasih dengan sebutan sayang" Evan mulai menggoda Sean.

__ADS_1


"ii...iya.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Sean, dia sangat salah tingkah.


"Jangan pernah melukaiku lagi. Aku tidak akan bisa menghadapinya. Ini pengalaman pertamaku menjalin hubungan dengan laki-laki" Sean melanjutkan.


"Aku tidak pernah menyakitimu, walau itu hanya niat". Evan meyakinkan.


"Kamu emang gadis biasa, tapi entah mengapa kamu punya pancaran yang berbeda dalam hatiku. Kamu tidak seperti kekasih-kekasihku yang lalu. Mereka hanya ingin bersenang-senang dan menuntut sesuatu yang lebih dewasa dalam sebuah hubungan". Evan membatin dalam hatinya.


"Baiklah aku percaya sama kamu Evan" Sean berkata dengan sedikit senyum manis di bibirnya.


"Bisakah kamu memanggilku sayang?" Tanya Evan


"Mm... Baiklah, tapi jangan paksa aku. Karena aku belum terbiasa" Jawab Sean.


"Baiklah" Timpal Evan.


Pembawaan Evan yang tenang dan kalem membuat Sean tak kuasa mengeluarkan emosinya bertubi-tubi.


Ia larut dalam pesona Evan. Hanya dengan penjelasan ringan tak berbobot, Sean dengan mudah percaya penjelasan Evan. Mungkin Sean sedang dimabuk cinta, jadinya dia begitu mellow. hehe


Setelah perdebatan singkat itu. Evan memutuskan untuk mengantar Sean pulang. Tak terasa juga waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.


****


Setelah mengantar Sean sesampainya dirumah, Evan masuk ke kamar dan membuka ponselnya. Dia mendapat pesan dari Eria.


Ting..


📩 "Sayang apa yang kamu lakukan sama gadis cupu itu? aku melihatmu menemuinya di kafe X".


Evan pun membalasnya


📨 "Bukankah biasa saja jika pasangan kekasih makan siang bersama. Dan ingat jangan memanggilku sayang".

__ADS_1


📩 "Ini bukan dirimu. Kamu nggak pernah menghampiriku saat makan siang atau makan malam. Aku harus bekerja keras untuk bisa membuatmu berangkat makan bersamaku" protes Eria.


📨 "Itulah bedanya denganmu. Dia tak perlu bersusah payah untuk meraih hatiku. Peringatan terakhir dariku, jangan pernah melakukan hal buruk lagi pada Sean. Atau teman-temanku yang akan membereskanmu. Oh ya, jangan pernah mengganggu hubungan kami lagi" Evan mengancam Eria.


__ADS_2