Akankah Kembali

Akankah Kembali
Pindah Rumah


__ADS_3

Selang beberapa hari, Sean dan Evan bersepakat mengambil hari libur bersamaan. Mereka ingin segera menempati rumah hadiah dari Pak Barata.


Tidak begitu berat sebenarnya, hanya memindahkan pakaian dan beberapa perabotan yang memang dibutuhkan, untuk sekedar melengkapi perabotan yang sudah tersedia.


Maka dari itu mereka menolak untuk dibantu siapapun. Karena mereka pikir akan sangat merepotkan jika melibatkan kedua keluarganya untuk pekerjaan ringan seperti ini.


Mereka bekerja sama dan saling membantu, dimulai pukul 10.00 hingga petang datang.


Bukkkk!!!!


Sean melempar tubuhnya diatas ranjang sambil merentangkan kedua tangannya.


"Haaaahhh.... Akhirnya selesai juga ya, Sayang." Ucap Sean menatap langit-langit.


"Iya, Sayang. Kini kita tinggal berdua, sangat menarik bukan?" Lirik Evan yang sedang berjongkok menutup laci kecil disamping ranjang.


"Mulai deh pikirannya kotor!" Dengus Sean.


"Eh, apanya yang kotor? Aku belum mengatakan apa-apa." Evan membela diri.


"Aku udah paham pikiranmu itu, Sayang!" Ucap Sean memejamkan mata sejenak.


"Lalu? Apa kamu bersedia malam ini ha? ha?" Evan bertanya dengan alis yang naik turun bermaksud menggoda.


"Hahh. Aku capek, butuh istirahat." Ucap Sean kesal karena teringat Evan telah meninggalkannya ditengah perjalanan di malam yang lalu.


Evan bangkit dari tempatnya, lalu ikut berbaring menghadap ke tubuh Sean.


"Jangan gitu donk. Kan yang kemarin lusa belum selesai." Ucap Evan genit sambil memeluk istrinya itu.


"Yang mana? Kan udah selesai! Buktinya kamu pergi begitu saja kan ninggalin aku!" Emosi Sean mulai terpancing.


"Oooohhh, jadi kamu ngambek nih? hihihi". Ledek Evan.


"Ih.. Ngapain ngambek! Sudah ah, aku mau mandi dulu." Sean bangkit dari ranjang.


"Hei! Jangan ngambek dong. Nanti malem nggak bakal aku tinggal deh, beneran." Pinta Evan menahan tangan Sean.


"Nggak ah! Lepasin aku gerah nih mau mandi." Sean menarik tangannya dan bergegas masuk kamar mandi.


Kebetulan Kamar utama dirumah baru ini memang memiliki sebuah kamar mandi minimalis yang sangat nyaman. Tak jauh dari kamar mereka sebelumnya.


Setelah selesai mandi Sean keluar kamar dengan menggunakan sehelai handuk yang melingkar di dadanya, sehelai lagi untuk menggulung rambutnya yang basah. Ia sengaja akan mengganti bajunya dihadapan Evan.


"Lihat nih aku ganti baju! Ntar kalo udah kepengen, aku akan meninggalkanmu pergi dari kamar ini, xixixixi, Baru tau rasa!!" Batin Sean bernada licik.


Dengan membelakangi Evan, ia memakai celana dalam tanpa melepas handuknya, menurunkan handuk ke pinggang untuk memakai bra.


Ia sengaja sedikit meliuk-liukkan tubuhnya untuk menggoda Evan. Mata dan bibir liciknya tak henti-henti menajam, mengiringi niat jahat dalam hatinya untuk membalas dendam malam itu.


Sedangkan Evan terbelalak melihat kelakuan istrinya yang sangat menggoda. Tanpa disadari juniornya mulai menegang.


Evan bangkit dan menghampiri Sean dengan cepat.


"Hm! Berani sekali kamu!" Batin Evan sambil mempercepat langkah ingin menangkap Sean.


Sean yang terkejut karena Evan tiba-tiba datang langsung berjalan cepat keluar kamar sambil memegangi handuk di pinggangnya.


"Aduh, mampusdeh! Aku salah strategi. Ya Tuhan tolong aku." Sean terbirit-birit takut dikejar Evan.

__ADS_1


Evan pun masih berjalan cepat.


"Hei! Mau kemana kamu?" Ucap Evan sedikit keras.


Sean masih berlari karena tahu rencananya gagal total!


"Aduh aku harus lari kemana ini?" Batin Sean dengan terengah-engah.


Kemudian Sean menuju kamar mandi di samping dapur. Namun sayang seribu sayang ketika Sean hendak menutup pintu, Evan menahan pintu itu dan ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa?" Tanya Evan licik.


"Eh, tidak! Itu... Anu.. Anu.." Sean terbata.


"Kamu sudah berani menggodaku, Sayang?" Evan mendekati Sean yang terpojok di dinding.


Evan terus memepet tubuh Sean, tangannya mulai meremas dada kecil mengkal milik Sean.


"Bukan begitu maksudku." Sean membela diri.


"Apa kamu merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana?" Tanya Evan licik.


"Sayang aku tidak menggodamu." Ucap Sean.


"Sudah diam! Lakukan tugasmu." Evan mengangkat Sean bak bayi dan berjalan menuju kembali ke kamar.


Sean meronta-ronta ingin turun dan merasa takut karena rencananya sungguh diluar dugaan. Kini ia harus menelan nikmatnya senjata makan tuan bersama Evan dengan penolakan dalam hatinya.


Buukkk!!!!!


Evan membaringkan Sean di ranjang.


Tanpa permisi ia melepas lilitan handuk di pinggang istrinya.


Sean berusaha menolak, karena ia tidak ingin melakukan hal ini dengan paksaan.


Namun, semua tidak berarti. Kini ia harus membayar apa yang telah ia lakukan sebelumnya.


Tangan Evan pun kini berusaha meraih punggung Sean, dan berhasil melepas pengait disana.


Ia turun mencumbu leher dan dada Sean, membuat Sean berdesir dan menerima setiap sentuhan Evan.


Berulang kali Sean melenguh tak terkendali, membuat gairah Evan semakin terbakar.


Kemudian Evan melepas semua pakaian yang ia gunakan, dan bersiap menerobos pertahanan yang sebelumnya sudah ia singgahi setengah perjalanan.


"Tetap seperti itu, Sayang!" Bisik Evan.


Jantungnya mulai berdegup kencang melepas celana Sean.


Kemuadian ia sejenak memainkan jarinya disana, menempatkan senjatanya dengan tepat, dan....


Jleppp..


Kini ia berhasil menerobos gawang itu dengan sekali hentakan. Menarik dan mengulurnya dengan lembut.


Sesekali ia menyeka keringat Sean yang bercucuran.


Kemudian ia memacu lebih cepat seiring dengan nafas mereka yang memburu. Jantung berdetak tak beraturan, peluh bercucuran disetiap inchi kulit mereka. Dan sampailah ketika Evan mengerang panjang melepaskan apa yang ia tahan selama ini. Menikmati sensasi malam pertama dengan gadis yang ia cintai dan ia inginkan selama ini.

__ADS_1


Suasana terasa hening sejenak, dan..


Bukkk...


Evan menindih tubuh Sean dengan lemas.


"Akhirnya! Akhirnya malam ini tiba." Batin Sean.


Evan mengecup kening Sean yang berkeringat.


"Terima kasih, Sayang! Apa yang kamu rasakan?" Evan tersenyum dengan kemenangannya malam ini.


"Sakit." Ucap Sean singkat.


"Hanya sakit?" Tanya Evan tak percaya.


"Heem." Sean mengangguk.


"Bukankah ini sangat nikmat?" Evan meyakinkan.


"Tidak." Lagi-lagi Sean menjawab singkat.


"Baiklah, kita istirahat. Nanti kita lanjutkan." Ucap Evan percaya diri.


"Tidak, Sayang. Sudah cukup." Kata Sean.


Evan bergeming dan memejamkan matanya memeluk Sean.


****


Selang beberapa jam, perut Sean keroncongan. Sambil berbaring ia membangunkan Evan dan memintanya untuk membeli makanan diluar, karena masih belum ada sayuran di dalam kulkas.


"Sayang, aku lapar. Tolong beliin makanan ya." Pinta Sean.


"Hoaaam... Iya Sayang, pesan online aja deh kalau nggak sabar nunggu aq mandi." Jawab Evan sambil menguap.


"Ya udah deh. Kamu mandi dulu. Aku pesen online aja." Ucap Sean.


Kemudian Evan beranjak dari ranjang, dan...


"HAA! Sayang, kamu berdarah!" Evan terkejut.


Sean langsung terduduk dan melihat bercak darah menodai sprai yang baru ia pasang tadi sore.


"Eh iya. Pantas saja sakit sekali." Sean melihat kebagian bawah tubuhnya.


"Sini aku beresin semua. Kamu tiduran aja ya! Ini ponselnya kamu pesan apa aja yang kamu mau." Evan tergopoh-gopoh menyodorkan ponsel Sean, mengambil pakaian untuk dirinya sendiri dan untuk Sean, kemudian menarik sprai bernoda itu untuk diganti yang bersih.


Sean hanya mengangguk pelan dan menerima ponselnya.


Kemudian Evan berjalan menuju ruang cuci dan membersihkan diri dikamar mandi terdekatnya.


Setelah Evan selesai mandi dan menjemur sprainya, ia hendak kembali ke kamar, namun suara bel berbunyi. Dibukanya pintu depan, ternyata seorang abang ojek online membawa sekantong makanan yang sudah dipastikan itu pesanan istrinya.


Ia mengurungkan niatnya kembali ke kamar. Kini ia pergi ke dapur dan menata makanan tersebut kedalam piring-piring agar mudah untuk dinikmati.


Setelahnya, ia membawa makanan itu ke kamar.


Dan menyantap aneka makanan yang dipesan Sean.

__ADS_1


Malam ini adalah malam pertama dirumah baru. Dan juga malam pertama yang nyata bagi mereka berdua.


Mereka berharap agar rumah ini akan mendatangkan banyak berkah untuk kehidupan dan pernikahan yang baru saja mereka bina.


__ADS_2