
Suara piano mengalun dari dvd player di apartemen Joo di tambah dengan suara air hujan di luar membuat malam minggunya semakin komplit kemeranaannya. Seperti biasa di temani secangkir kopi esprezzo.
Joo menyeruput kopinya memandang derasnya hujan melalui jendela kaca. Dia teringat saat dimana dulu hidupnya tak semapan ini. Kalau saja saat itu Tuan Andros tidak membantunya saat ini pasti hidupnya akan terus menggelandang tanpa tujuan. Yah Andros telah merubah hidup Joo. Dia yang dulu adalah seorang preman kelas gang sempit yang hanya bisa bermain kasar hanya sekedar untuk urusan perut telah di ubah Andros menjadi preman berkelas dengan permainannya yang halus hampir tak terlihat.
Andros juga memaksanya menjadi seorang siswa di rumah besar. Dengan mendatangkan para dosen berbagai mata kuliah kerumah untuk mengajar Joo tentang Manejemen Bisnis, Akutansi, Hukum, dan Komputer. Sebenarnya semua itu hampir membuat Joo stres dan hampir melarikan diri. Tapi Andros punya cara lain untuk mengancam Joo agar mau menjalani pelajaran itu semua dan harus sudah menguasai semuanya dalam kurun waktu 1 tahun. Karena Joo yang memang di takdirkan menjadi orang jenius maka kurang dari 1 tahun Joo sudah menyelesaikan semua pelajaran itu.
Dengan status sekretaris, Joo telah menjadi orang kepercayaan Andros bahkan Joo juga yang akan mengerjakan urusan di belakang layar untuk Andros.
Pembawaan Joo yang humoris menjadi daya tariknya bahkan sikapnya itu di jadikannya untuk menutupi niat terselubungnya agar urusan Andros mulus seperti jalan tol. Saat ini tidak banyak orang yang tau bagaimana kalau Joo sedang marah sekarang. Karena hanya orang-orang tertentu dan terpilih saja yang pernah menyaksikannya sedang marah dan itupun akan menjadikannya orang paling sial di dunia karna telah berani menyinggungnya apalagi kalau sampai menyangkut Tuan Andros orang yang paling di hormati Joo di muka bumi ini. Dia tidak akan segan untuk menghajarnya dengan kedua tangannya sendiri.
Tettt.. Tett..
Suara bel menyadarkan Joo dari lamunannya. Penasaran siapa yang bertamu di malam berhujan begini membuat Joo mengintip sejenak di lubang yang ada di pintu dan membukanya mempersilahkan sang tamu masuk.
__ADS_1
"Kau tau Joo di luar hujannya deras sekali. Dan aku terpaksa mampir kesini karena aku tau kau pasti sedang merasa kesepian makanya aku datang berkunjung".
Cihhh... Apaan sih orang ini
"Tuan Dion... "
"Terima kasih atas info cuacanya."
"Apa Anda mau kopi ?. Karena kopi akan sangat enak jika di nikmati saat hujan begini dan saya tidak mau menjadi tuan rumah yang pelit karena tidak menjamu tamu. "
Dion menerima secangkir kopi panas manangkupnya dengan kedua tangannya yang dingin karena cuaca dingin. "Apa kau tidak punya alat penghangat ruangan Joo ?" tanya Dion.
"Tuan... Tempatku hanya sebuah tempat hunian biasa bukannya kamar hotel yang ada alat penghangatnya. Lagian saya tidak butuh alat seperti itu di ini. "
__ADS_1
"Bagaimana jika kau kedinginan ? Bagaimana caramu mengatasinya agar tetap hangat ?. karena disini sangat dingin"
"Kalau dingin ya tinggal ambil selimut " jawab Joo
"Kalau begitu ambil selimut. Saat ini aku kedinginan " sahut Dion
Hemmm....
"Kalau Anda kedinginan kenapa Anda tidak kembali ke apartemen Anda saja. Malah kesini mengganggu saya ". Sambil melempar selimut ke pangkuan Dion. "Bukannya tempat tinggal Anda tepat di atas rumah saya ?"
"Di rumahku belum ada apa-apa Joo. Makanya aku mampir kesini minta kopi. "Hehehe...
"Joo... Apa kau punya mie instan ?'
__ADS_1
"Aku kelaparan Joo. Bisakah kau mmbuatnya sekalian seperti biasa denfan dua telur ".
Dion merentangkan selimut dan menunggu Joo yang sesang kesal tapi tetap memasakkan mie instan untuk Dion.