
"Tuan, kami sudah mencari dilokasi Kecelakaaan tersebut, namun kami tidak menemukan Nona tertua di sana, melainkan menemukan sobekan kain baju saja, yang mungkin milik Nona tertua."
Pemimpin kesatria itu melapor setelah lama mencari keberadaan Cayena terjatuh, dan dia menemukan sobekan dari baju milik Cayena dan menyerahkannya pada Count Roisen.
"Apa? tidak mungkin, tidak mungkin kalian tidak menemukan putriku, mungkin saja itu bukan sobekan kain milik Cayena putriku, tidak!"
Count Roisen begitu mendengar laporan yang didapatkan oleh kesatria nya, dia pun gemetaran tidak percaya akan hal itu terjadi kepada putri tertuanya. Mereka akan mengira Cayena sudah dimakan oleh binatang buas di hutan tersebut, dan hanya meninggalkan helaian kain baju yang dikenakan Cayena.
"Panggil dayang Cayena kesini!" suruh Count Roisen pada kesatria lainnya.
Ina yang terpanggil sangat ketakutan akan hal buruk yang mungkin akan menimpa dirinya. Setelah sampai di tempat Count Roisen, Ina bercucuran keringat karena ketakutan.
"Kamu dayang pribadi Cayena, bukan?" tanya Count Roisen pada Ina.
"Iya, Tuan!" jawab Ina sambil menundukkan kepalanya.
"Karena kamu dayangnya, pasti tahu gaun apa yang dikenakan Cayena saat pesta teh waktu itu?"
Ina yang sebagai dayang pribadi yang menyiapkan kebutuhan majikannya, pasti tahu betul apa yang di pakai Cayena waktu itu.
"Apakah sobekan kain ini sama dengan yang dikenakan oleh Cayena?"
__ADS_1
Count Roisen mengintrogasi dayang pribadi Cayena, apakah sobekan kain itu benar milik Cayena atau bukan.
Ina yang ditanya langsung menoleh ke arah sobekan kain yang ditunjukkannya, Ina pun menjawab apa yang dia tahu.
"Benar, itu adalah sobekan kain yang Nona pakai di saat pesta teh tersebut. Nona Cayena waktu itu memakai gaun berwarna biru muda persis seperti sobekan kain itu, Tuan!" jelas Ina memberitahukannya.
"Tidak mungkin! putriku tidak akan kenapa-napa selagi kita berusaha mencarinya. Cepat, bawa rombongan kesatria dan pergi ke tempat tersebut."
Count Roisen memerintahkan membawa pasukan kesatria untuk mencari lagi keberadaan Cayena. Ayah Cayena tidak percaya dan masih ingin mencari putri tertuanya, dia pun juga terjun ikut serta mencari putrinya Cayena.
"Kak Cayena belum ditemukan sampai saat ini. Ayah begitu cemas dan ikut turun tangan mencari kak Cayena. Padahal aku juga sedang sakit karena terjatuh kemarin, tapi ayah tidak terlalu peduli dengan kesehatan aku, semua orang sibuk memikirkan kak Cayena."
Iriena yang melihat begitu susah payah sang ayahnya yang seorang Count turun tangan mencari Cayena yang belum ditemukan. Iriena begitu iri karena semua orang hanya peduli dengan keselamatan Cayena seorang.
Ketidakpuasan Iriena melonjak menjadi orang yang hanya peduli dengan dirinya saja.
...*****...
Di waktu bersamaan ....
Krukkk ...
__ADS_1
Suara perut Cayena yang sedang kelaparan.
"Anu... Grish, apa kamu tidak lapar? perut aku sudah demo, nih!"
"Kamu lapar? kenapa kamu tidak kasi tau aku sebelum perut kamu yang demo!"
"Hehe..."
Cayena begitu malu terdengar suara perutnya yang keroncongan kelaparan.
"Kalau begitu, ayo kita makan. Di sebelah sana ada makanan yang enak!"
Grish mengajak Cayena ke tempat makan untuk mengisi perut Cayena yang sudah kosong.
Setibanya di tempat makan yang di ajak Grish, Cayena sudah tidak sabaran dan menyantap makanan yang sudah tiba di sajikan di mejanya itu.
"Hei! pelan-pelan makannya! nanti bisa tersedak." ujar Grish memperingati Cayena yang begitu melahap makanan dengan cepat.
"Akyu kelapyaran, tadie poagi belium moakan oupa-oupa! (Aku kelaparan,tadi pagi belum makan apa-apa)" balas Cayena dengan dipenuhi makanan dimulutnya sehingga ucapan nya kurang jelas.
"Ya sudah! kamu jangan bicara kalau mulutmu penuh dengan makanan."
__ADS_1
"Eum!" Cayena hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak memperdulikan perkataan Grish.