
Di depan toko roti
"Eh, kamu mau kemana pria cantik.. maksudku pria.. pria tampan, hehe.. jangan di lototin dong, aku jadi takut!" sahut Cayena sambil memegang tangan pria tersebut untuk mencegahnya pergi.
Pria itu yang akan bergegas pergi malah Cayena mencegahnya, Cayena juga memanggilnya dengan panggilan 'pria cantik', pria itu pun melototinya dengan amarah.
"Lepasin tanganku, aku mau pergi!"
Pria itu menepis pegangan tangan Cayena. Tapi Cayena lagi-lagi memegang tangannya dan mencegahnya.
"Nggak mau, karena kamu belum berterimakasih dengan penyelamatmu ini, aku tidak akan melepasnya, dan juga kamu belum memberitahu siapa namamu."
Cayena bersikukuh tidak mau melepas pria tersebut.
"Heh, kamu penyelamatku? kamu malah mirip seperti preman, tahu!" celetuk pria itu mengatai Cayena.
"Kamu benar-benar nggak mau berterimakasih, padahal aku menyelamatkan kamu dari para segerombolan kesatria itu, lho!" keras Cayena tak mau dirugikan.
"Apa aku meminta bantuan darimu? tidak, kan?" timbal balik pria itu.
"Kamu memang tidak minta bantuan pada ku, tapi aku mau membantumu karena kamu tadi dalam kesulitan. Jadi.. apa aku salah, minta ucapan terimakasih saja!"
"(Duh.. seperti dejavu, deh! aku sepertinya pernah ngalamin ini)"
Cayena mulai melakukan aktingnya, ia menundukkan kepalanya dengan raut wajahnya seketika murung dan bersedih.
"(Lho! kenapa wanita ini seketika wajahnya berubah jadi murung ya? tapi benar juga sih, dia kan sudah bantuin aku menjauh dari para kesatria ngeselin itu, jadi harusnya berterimakasih)"
"I,iya, iya! aku berterimakasih atas bantuanmu tadi, jadi kamu jangan bersedih lagi, dan aku juga minta maaf sudah keterlaluan denganmu barusan."
Pada akhirnya pria itu dibuat luluh oleh akting sedih Cayena.
"Hehe, gitu dong!"
"(Whaha... bakat aktingku berguna juga, aku memang pintar berakting!)"
Cayena tersenyum puas dengan rencananya yang berhasil, ia yang mendengar pernyataan terimakasih oleh pria itu pun langsung mengangkat kepalanya melihat pria itu dan tersenyum.
"Um, imutnya..!!" gumam pria tersebut dengan suara kecil.
"Apa kamu bilang?"
"Ti,tidak ada! lupakan."
Dengan senyuman Cayena yang begitu menawan, pria itu pun terpincut dengan keimutan Cayena saat tersenyum, wajah pria itu memerah malu, di saat sadar dia pun memalingkan wajahnya ke samping.
"Oh!" balas Cayena dengan senyuman jahat, karena dia tahu mengapa pria itu bersikap aneh.
"Jadi... bisakah kamu melepas tanganku?"
Pria itu meminta Cayena melepaskan tangannya yang sudah lama dipegang, dia juga sambil menutupi bagian mulutnya dengan tangan sebelahnya agar tidak terlihat jelas wajahnya yang memerah.
"Apa kamu tidak suka aku pegang, padahal kamu sangat menikmatinya!"
__ADS_1
"Si,siapa yang menikmatinya, kamu sendiri yang maksa pegang tanganku!" ujar pria itu dengan malu-malu.
"Si mas jangan begitu, sudah beruntung Nona ku mau pegang tanganmu, seharusnya bersyukur, itu lihat, wajahnya sudah memerah, hihi.." sambung Ina yang melihat Nona nya menjahili orang.
"Ternyata kamu begitu sensitif, ya! wajahmu memerah, imutnya!!"
Cayena begitu suka melihat pria yang wajahnya memerah malu.
"Ka,kamu jangan beranggapan sembarangan, wajahku memerah karena kepanasan, kepanasan tahu!"
"Iya, iya, terserah! jadi, apa kamu akan memberitahukan namamu sekarang?" tanya lagi Cayena yang belum di jawab.
"Aku tidak akan memberitahumu namaku! jadi menyingkirlah." dengan cepat-cepat ia menolak.
Kalau kamu tidak mau cara seperti ini, bagaimana kalau kita berkenalan secara resmi.
Cayena melakukan perkenalan seperti cara para bangsawan, dia dengan kedua tangannya memegang samping kiri kanan gaun dengan anggun dan menjinjitkan sedikit kaki sebelah kanannya, juga punggung sedikit di condongkan.
"Aku Cayena Aester, putri tertua dari kediaman count Aester."
Cayena memperkenalkan dirinya secara resmi di hadapan pria tersebut. Pria itu hanya diam melihat tingkah Cayena yang tiba-tiba itu.
"Sekarang giliranmu memperkenalkan diri." sahut Cayena yang tengah selesai memperkenalkan dirinya secara resmi.
"(Heh, dengan ini apa kamu bisa menghindar, pria cantik!) Cayena di hatinya sedang tersenyum licik.
"Aku.. aku..."
Pria itu kebingungan, apa dia akan memberitahu namanya atau tidak, namun sebagai para bangsawan, bila orang memperkenalkan dirinya dihadapan lawannya, si lawan juga harus memperkenalkan dirinya juga.
Ina melihat dua kesatria, jarak mereka sekitar 10 meteran dengannya.
"Sepertinya para kesatria itu berpencar, deh!" ucap Ina yang sedang memerhatikan para kesatria itu.
"Tidak boleh, mereka akan melihat kita kalau berdiam disini, kamu menyingkirlah, aku akan pergi sendiri." ucap pria tersebut dengan tergesa-gesa.
"Eits! Kamu belum memberitahu namamu, jadi aku tidak bisa lepasin kamu."
"(Aku tidak akan melepaskan orang ini begitu saja, sepertinya dia bukan orang biasa, aku harus tahu siapa dia dan dari keluarga mana, siapa tahu dia nantinya berguna untuk tempat aku berlindung di saat aku krisis dimasa depan)"
Cayena berencana menggunakan kesempatan ini untuk mencari orang untuk perlindungan nya di masa mendatang.
"Aku.. namaku Bob! sudah, jadi lepaskan aku."
"Aku tidak yakin dengan namamu itu, kamu jelas berbohong untuk menyembunyikan namamu, bukan? sudahlah, katakan yang sebenarnya, jadi aku bisa melepasmu dengan tenang." ujar Cayena.
"Aku benar...."
Cayena memotong perkataan omong kosong pria itu.
"Jangan berbohong lagi, kalau tidak mau beritahu namamu, aku akan memanggil para kesatria itu kesini dan menangkapmu." ancam Cayena.
Sudah tidak sabar, Cayena langsung teriak memanggil para kesatria itu.
__ADS_1
"Hei, para kesatria yang ada di ujung sana! aku menangkap daging yang kalian cari." teriak Cayena memanggil para kesatria tersebut.
"Hei, hei wanita aneh, kamu benaran memanggil mereka, kamu benar-benar ya!"
Pria itu tak bisa berkata-kata dan dia juga tak bisa berkutik karena Cayena memegangnya begitu erat.
"(Hihi, dengan ini kamu akan terpojok, pada akhirnya memberitahu namanya)" di dalam benak Cayena
"Lepaskan!!" pria itu sambil meronta-ronta.
"No, no, kamu tidak ikuti kemauan ku aku juga tidak bisa apa-apa, lihat para kesatria itu berlarian ke arah sini, apa kamu masih bersikukuh seperti ini."
"Itu tuan muda, cepat kesana!"
Para kesatria itu pun berlarian menghampiri mereka.
"(Tidak boleh, aku sudah susah payah kabur dari mereka, apa aku akan tertangkap?)" cemas pria itu di dalam hatinya.
Para kesatria itu sudah sampai di hadapan mereka.
"Ternyata anda bersembunyi disini, tuan muda Jack!" sahut kesatria itu.
"(Ho... sepertinya dia seorang tuan muda mereka, dia bernama Jack!)"
"Nona cantik, apa anda yang menemukan tuan muda kami?" tanya kesatria itu ke Cayena.
"Benar, dia sepertinya mencurigakan, jadi aku memanggil kalian ke sini untuk menangkapnya."
"Haha.. Nona cantik tidak perlu khawatir, beliau adalah tuan muda kami yang kabur dari kastil."
"(Pada akhirnya aku gagal kabur)" benak Jack, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi hanya bisa pasrah.
"Oh! kastil kalian ada dimana?" tanya Cayena penasaran.
"Itu di..."
Salah satu kesatria itu ingin menjawab pertanyaan Cayena, namun dia melihat tuan mudanya memberi kode dia untuk jangan memberitahu wanita itu.
"Jangan, jangan memberitahu nya." ucap Jack dengan suara begitu kecil sambil bemberi kode isyarat dengan tangannya berbentuk silang.
"Itu.. kastil kami sangat tertutup, Nona! Jadi maaf tidak bisa memberitahu Nona." jawab salah satu kesatria itu ke Cayena.
"Um, baiklah! aku juga tidak memaksa."
"(Aku tidak usah gegabah, sebaiknya aku cari tahu di lain waktu saja.)"
Cayena mengalah sekarang, tapi dia akan mencari informasi sendiri nantinya.
"Baiklah, kami akan pergi, dan terimakasih Nona sudah membantu kami!" ucap salah satu kesatria tersebut.
Dan mereka membawa Jack pergi dengan mereka.
"Lepas, aku bisa jalan sendiri! para kesatria bodoh." ucap Jack yang kesal sambil memukul salah satu kepala kesatria itu untuk di lampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
"Fufu.. dia mirip seperti tawanan!" gumam Cayena.