Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Panggilan misterius?


__ADS_3

"Tidak lama lagi aku akan debutante, dan mulai memasuki sosial kalangan atas dan juga mulai banyak lamaran pernikahan.


Tapi sepertinya tidak ada yang mau melamar karena semua orang tahu kalau Cayena adalah wanita licik yang garang. Fuftt, diingat lagi aku masih tidak percaya akan berpindah di tubuh ini, sekarang aku masih hidup dengan santai tanpa ada masalah yang serius. Ini seperti bukan hidupku yang biasanya bekerja keras mati-matian untuk mendapatkan sehelai kertas yang sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup."


"Haa.. Sudahlah. Percaya atau tidak yang jelas Tuhan sudah memberiku kesempatan hidup yang kedua kalinya. Mungkin ini yang terbaik untuk kelangsungan hidup ku yang belum pernah merasakan kemewahan."


"Oh iya, sudah lama aku tidak lagi melatih spirit di dalam tubuhku ini, juga aku masih belum tahu alasan mengapa aku mendapatkan spirit elemen yang langka dan sudah jadi legenda. Apa sebaiknya aku menemui Zionn dan mencari tahu asal spirit ini saja, toh aku juga tidak ada kerjaan, tiap hari hanya makan, baca buku, tidur, begitu terus setiap harinya. Begini juga membosankan tanpa ada kegiatan."


Setelah menentukan jadwal kesehariannya, di hari itu pun Cayena pergi mengunjungi Zionn di kota Ann diikuti oleh dayang dan kesatria untuk tetap menjamin keselamatannya.


Luar menara sihir


"Lama tak jumpa Zionn!"


"Iya, lama tidak berjumpa, nona Cayena! Senang sekali dapat bertemu anda lagi." Antusias Zionn.


"Begitukah? Jadi kedatanganku tidak merepotkan mu 'kan?" Tanyanya seraya tersenyum ramah.


"Tentu saja tidak merepotkan. Silakan masuk!"


Zionn terlihat bahagia setelah kedatangan Cayena yang tiba-tiba. Zionn pun mengajak wanita itu masuk ke menara sihir menuju ruang tamu khusus yang dibuatnya.


...🕊.⋆....


"Tidak lama lagi debutante diadakan besar-besaran di istana negara. Dan tidak lama juga pangeran Raphaelo akan diangkat sebagai putra mahkota di hari setelah nya.

__ADS_1


Waktu kita tidak banyak, hari semakin cepat berlalu, mustahil bagi kita bisa menyingkirkan pangeran Raphaelo jika waktu begitu singkat."


Rosyta sangat resah dan gelisah seraya berjalan bolak-balik tak karuan di satu tempat. Tidak bisa ia bayangan pada akhirnya rencana yang sudah dibuatnya beberapa kali terus gagal dan kemenangan masih berpihak pada Raphaelo, itulah yang di asumsinya.


"Kahil anakku, aku hanya bisa mempercayakan mu seorang, kamu satu-satunya sandaran ku untuk bisa bertahan sampai titik ini. Bila semua rencana kita gagal dan pada akhirnya pangeran Raphaelo lah yang akan diangkat sebagai putra mahkota, lebih baik aku mati saja dari pada melihat dia yang berada diposisi tersebut."


Rosyta seakan dirinya disayat pisau tajam bila membayangkan bukan anaknya yang mendapat posisi putra mahkota. Matanya tampak sayu dan seakan lemah berlebihan dihadapan anaknya, Kahil.


Demikian dengan Kahil yang hanya terdiam dalam seribu bahasa, Kahil hanya mematik ucapan ibunya yang terus menerus resah di depannya itu.


Keesokan harinya


Di kediaman Count Aester


Suara riuh para pelayan tengah dalam kesibukan.


"Ina... Ada apa diluar begitu ribut?!"


Tidak ada jawaban sama sekali pada dayangnya itu.


"Oh iya, Ina bukannya izin cuti tiga hari karena kerabatnya meninggal. Hah... Mengapa aku sekarang sudah terbiasa dengan pelayanan seorang dayang, seperti bukan diriku yang mandiri."


Sebenarnya ada apa pagi buta begini sangat ribut, bikin kesal aja."


Cayena pun beranjak dari ranjangnya dan sesegera membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi. Ia melihat para pembantu dan dayang begitu sibuk tengah menyiapkan dekorasi disetiap tembok kediaman.

__ADS_1


"Hah. Apa ada yang kulupakan..?


Ah iya, ini sudah waktunya Iriena berulang tahun setelah dua minggu perayaanku, aku melupakan itu ternyata." Sadarnya seraya menepuk jidat.


Beberapa lama kemudian datanglah dua dayang untuk ditugaskan melayani Cayena sementara.


"Apa Nona tidur dengan nyenyak semalam?" Tanya seorang dayang pada Cayena.


"Hm, begitulah."


"Namamu Emily ya? Dan di sebelahmu..."


"Benar Nona, ternyata Nona masih mengingat nama saya. Ah dan di sebelah saya namanya Jena dayang baru di sini. Kami berdua akan melayani Nona sementara Ina cuti."


"Jena ya..." Gumam Cayena sembari menatap dayang baru tersebut.


"Namanya tidak asing didegar. Seperti pernah dengar di suatu hal tau tempat." Batin Cayena, ia merasakan nama tersebut tidak lah asing.


...❦...


"Pestanya sangat megah dari perkiraanku, dua kali lebih megah dari pesta perayaan ku waktu itu. Sepertinya hari ini akan merepotkan dan membosankan. Aku tidak suka keramaian, huftt."


Cayena melihat ke sekeliling aula pesta dari atas, dan ia juga baru saja habis selesai merias dirinya dengan terpaksa tentunya.


Tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya dari belakang.

__ADS_1


"Cayena!"


__ADS_2