
Waktu malam yang dingin dengan hembusan angin malam, pemandangan tak luput indah oleh rembulan dan bintang mengitari langit malam yang sunyi. Sunyinya malam membuat suasana nyaman dan memberi ketenangan.
Teras balkon_
Mata yang tajam menatap jauhnya malam. Raut wajah yang tenang bersinar diterangi cahaya bulan. Ialah pangeran dari Kekaisaran Traven, Raphaelo Lancaster.
Dengan tatapannya membuat semua makhluk terpana akan ketampanan juga kegagahan nya sudah tak diragukan lagi.
Begitu Raphaelo tengah menikmati indahnya malam, dan di dampingi wanita cantik di sampingnya membuat hari kacau yang ia lalui beberapa saat itu pun sejenak terlupakan, dan ia pun terkecoh oleh tatapan yang tajam yang berbinar tengah mengawasi dirinya. Ia membuka mulutnya dan mencoba berbicara dan berkata, "Kenapa kau terus menatapku, hm?" Sahutnya dengan lembut seraya menoleh ke samping dimana mata yang menatap tajam dirinya.
Mata mereka saling bertemu. Mata merah bagai permata tengah berbinar penuh semangat dan harapan, seperti membuat suatu isyarat yang hanya mereka sajalah pada saat ini.
Hembusan angin malam ikut serta yang membuat suasana damai dan membuat rambut panjang bergelombang nan indah tersibak oleh angin tersebut. Ialah tak lain Cayena Aester, tengah menatap tajam pria di hadapan nya itu seperti terhipnotis oleh waktu dan suasana.
Tersadar akan dirinya tepergok sedang menatap oleh pria itu, seakan dirinya seperti maling yang ketahuan mencuri. Ia pun membuang muka dan tersipu malu. Dan menjawab, "Ti-tidak ada." Ucapnya dengan terbata-bata.
Melihat tampang malu yang menggemaskan si wanita yang diam-diam memandangnya dengan penuh harapan, membuat Raphaelo sendiri sangat disayangkan apabila ia hanya diam dan tidak mengambil tindakan untuk menggodanya.
Tergambar senyum tipis namun hangat di wajahnya, ia tahu bahwa mereka berdua sekarang dalam masa membingungkan dan canggung. Raphaelo pun memberanikan dirinya untuk mematahkan kecanggungan dan mencoba membuat suasana yang tadinya canggung kembali seperti awal yang tenang dan nyaman.
"Kau bisa menatapku lagi bila kau ingin, kau boleh menatapku dengan tatapan seperti yang tadi." Ucap Raphaelo menoleh kembali menghadap ke depan dan kepala menengadah ke langit yang bertaburan bintang.
Agar wanita itu tidak canggung, Raphaelo tidak lagi menatap mata wanita itu dan melihat ke sembarangan arah.
"Aku... Tadi menatapmu seperti apa?" Tanya Cayena masih tersipu malu, namun memberanikan bertanya.
"...Seperti kelinci yang kedinginan yang menginginkan kehangatan, menatap dengan mata bulat berkilauan bagai permata rubi yang penuh harapan." Jawabannya dengan kata-kata yang membuat Cayena sendiri kebingungan.
Jawaban Raphaelo tampak tak biasa, tersenyum tipis seraya menengadah ke atas seperti membayangkan khayalan nya yang dapat menyenangkan dirinya. Akan tetapi Cayena malah merasa ia sedang di ejek dengan bualan semata dari pria tersebut.
"Ehm? Kelinci yang kedinginan dan butuh kehangatan? Mataku seperti permata rubi? Maksudmu... Aku seperti kelinci yang malang dan memiliki mata rubi?! A-apa aku se mengerikan itu dimatamu?"
"Puftt. Justru itu sangatlah imut!" Sahutnya seraya tertawa kecil.
__ADS_1
"Eehh...! Dia, dia mengatakan aku imut? Atau.. Atau aku yang mirip kelinci itu imut?!" Batin Cayena minder sendiri mendengar ungkapan pria tersebut dengan tersenyum.
"Imutnya... Wanita ini benar-benar imut kalau tersipu malu dan sedang kebingungan. Puftt!" Tawa kecil di dalam hatinya, yang melihat Cayena tampak menggemaskan saat ini.
"Ukh! Sudahlah Cayena... Jangan karena ini kamu jadi minder dan bodoh!
Benar-benar deh pria ini, aku tidak bisa menebak isi hatinya dan tanpa alasan ia mengatakan perkataan yang ambigu!" Batinnya tengah menyadarkan diri dan menggerutu tak jelas.
"Oke. Sebaiknya pilih bahan bicara yang lain dan jelas, aku tidak akan tenggelam oleh perkataannya lagi." Batin Cayena memantapkan.
"Umm... Itu... Terima kasih hadiahnya aku sangat suka, dan terima kasih sudah datang malam ini. Oh ya, waktu tadi juga Terima kasih sudah membantuku melerai kedua pria itu." Angkat bicara Cayena.
"Apa kau benar-benar suka kalung itu, aku.. Tidak tahu kesukaanmu jadi aku kasi kamu sebuah kalung saja, i-itu karena aku belum pernah membelikan seseorang hadiah, jadi kalau tidak suka kau bisa membuangnya, aku tidak akan marah juga aku akan mengganti hadiah yang kau inginkan." Ucap Raphaelo yang tak percaya diri dengan hadiah yang ia berikan.
"Aku suka! Kalung ini sangat cantik. Apa aku terlihat serasi dengan kalung ini?" Tanya Cayena seraya memegang kalung tersebut yang ada di lehernya.
"Cantik!" Jawab cepat dengan pandangan terpana.
Cayena tertegun mendengar ungkapan yang langsung di lontarkan oleh Raphaelo sendiri dengan tatapan yang tidak berbohong. Cayena pun langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak ikut terhanyut.
Sejenak Raphaelo tertegun dan terdiam sesaat.
"Apa aku begitu, ya...?"
"Ah, mungkin aku salah lihat."
Raphaelo pun merasa lega dan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, itu adalah dansa kedua kita, kan? Itu adalah dansa pertama dan kedua ku, lho!" Ucap Raphaelo mengalihkan pembicaraan.
"Aku juga... Eh? Yang mulia serius, itu adalah dansa pertama dan kedua yang mulia." Serunya.
"Emh!"
__ADS_1
"Ternyata... Aku adalah orang yang pertama kali dansa bersamanya, ini... Benar-benar di luar dugaan." Batin Cayena tercengang.
"Sepertinya kamu begitu akrab dengan dua pria itu..."
"Yah, begitulah. Aku sudah lumayan lama mengenal mereka."
"Hm, begitu ya!"
Cayena menoleh samping dan melihat di lengan Raphaelo ada seekor nyamuk di baju tepat di lengan atasnya, Cayena pun tak sungkan dan langsung memukul nyamuk itu dengan kuat dan menimbulkan jeritan yang tak ia duga.
"Eh, bentar!"
Plakkk!
"Sshhtt... Ukhh...!" Jerit Raphaelo kesakitan.
"Hah? Ya-yang mulia, kamu kenapa? Apa aku memukulnya begitu keras? Ma-maafkan aku, aku tidak mengira pukulan ku sampai menyakiti yang mulia. Aku hanya bermaksud memukul nyamuk yang menghinggap di lengan mu saja, maaf..."
"A-aku tidak apa-apa, tidak perlu menyalahkan diri, aku hanya kaget saja barusan." Ucapnya seraya menahan sakit.
"Ta-tapi lengan mu berdarah..."
Karena Raphaelo memakai baju warna putih, jadi sangat terlihat jelas jika ada sebuah noda apalagi noda darah yang tiba-tiba muncul di lengan atasnya.
"Hah?"
"Ah, sial. Sepertinya jahitan nya terlepas." Batin Raphaelo.
"Gimana ini... A-aku... Aku tidak bermaksud melukaimu hingga berdarah, aku akan melihat lukanya." Ucapnya kepanikan dan menyalahkan dirinya.
"Ini bukan luka yang disebabkan oleh mu, luka di lenganku memang sudah ada, hanya saja kamu pukul jadi darahnya keluar lagi."
"Astaga, maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu, dan tidak hati-hati. Kalau begitu, yang mulia ikut aku, aku akan membersihkan darahnya dan membalut lukanya itu."
__ADS_1
"Ah, tidak... Tidak usah...!!"
Raphaelo tak bisa menolak, karena Cayena telah menariknya dan membawa dirinya masuk dengan Cepat dan tergesa-gesa.