Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Penyiksaan ruang bawah tanah


__ADS_3

Setelah pulang menjenguk Grish, Cayena sedang bersantai di kamarnya dan tiba-tiba saja ia teringat dengan pangeran Raphaelo soal kemarin di malam pesta tidak memberikan penjelasan kenapa dia pergi begitu saja saat itu.


"Aku jadi kepikiran pada pangeran Raphaelo, kemarin aku tidak bersikap sopan padanya yang Bela-belain mengambilkan air minum untuk ku, aku malah pulang begitu saja.


Dia sedang apa ya sekarang... Apa aku pergi ke istana dan membawakan dia sekuntum bunga permintaan maaf saja ya?


Hm.. Begitu saja, deh, dari pada tetap merasa bersalah padanya." Gumam Cayena kepikiran.


"Ina!" Panggilnya.


"Iya, Nona?"


"Bantu aku bersiap-siap dan carikan aku buket bunga... Buang lily saja."


...*****...


Ruang bawah tanah


Di ruang penyiksaan yang gelap hanya diterangi dengan obor yang cahaya nya redup redup. Kondisi tempat tersebut tampak menyeramkan dan lembab, bau amis darah samar-samar di setiap sudut, ada begitu banyak benda untuk menyiksa di ruangan tersebut. Bagi orang yang pernah di siksa di sana adalah neraka menurut mereka, tak ada kata ampun bila sudah berada di tempat mengerikan itu.


Dan sekarang ada dua orang yang sedang di hakimi dengan tangan terikat di atas dan menggelantung tak jelas, terlihat dua orang tersebut dalam keadaan babak belur di sekujur tubuh mereka karena bekas cambukan yang tak henti-hentinya.


Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan oleh Louis fan si ajudan milik pangeran l, tapi mereka tetap dengan teguh menutup mulut mereka tidak berani mengaku.

__ADS_1


Sudah kunjung lama, Raphaelo pun juga datang mengunjungi mereka.


"Yang mulia! Mereka sudah kami siksa sesuai perintah, tapi mereka sama sekali tidak mau mengaku." Ucap Louis fan yang sedang memegang cambuk di tangannya.


"Aku tidak mau repot-repot, kalau mereka bersikeras tidak mengaku, penggal saja kepalanya, sepertinya mereka tidak ingin hidup lagi." Ujar Raphaelo dengan santai yang baru datang ke ruang bawah tanah itu.


"Ja, jangan, jangan bunuh saya, saya ada keluarga yang masih butuh saya, saya mohon yang mulia." Ucap pria paruh baya tersebut memohon belas kasih.


Mendengar pengakuan yang menyedihkan pria paruh baya itu, Raphaelo melangkah maju ke hadapan pria itu dan berkata. "Jika kamu mau hidup, jawab pertanyaan ku. Dimana kalian akan membawa senjata perang itu keluar?" Kata Raphaelo seraya matanya menyorot tajam ke arah pria paruh baya itu.


"Ka, kami akan membawa senjata-senjata itu ke wilayah bangsa Mo, Mole, yang mulia." Jawab pria paruh baya itu dengan terbata-bata.


Negara Mole adalah negara musuh bagi negara Traven Kekaisaran Lancaster. Negara Mole sendiri di kuasai oleh kaisar yang kejam dan berdarah dingin, selalu tidak puas akan kuasa dan menginginkan wilayah-wilayah besar atau kecil sekalipun. Kaisar dari negara Mole sangat mendambakan negara Traven dimana wilayah tersebut sangat subur dan banyak orang pandai di wilayah itu.


"Sejak kapan dan sudah berapa kali kalian melakukan kerja sama dengan negara Mole?"


"Saya, saya tidak tahu sudah berapa lama, saya baru bekerja jadi saya hanya tahu dua kali dengan yang kemarin."


"Baron Dorwen, jelaskan selengkapnya!" Sambung Louis fan.


Baron Dorwen adalah seorang bangsawan kecil tapi memiliki usaha yang lumayan besar. Dia memiliki berbagai toko dan berbagai macam usaha di kontinen pasar, hampir 1% dia menguasai hak pada pasar di kota Mino kota kekaisaran Lancaster. Namun dengan tamaknya baron Dorwen diam-diam bersekongkol dengan negara Mole dengan iming-iming uang besar dan kuasa di negara Mole, sehingga baron Dorwen tergerak dan menyetujui kerja sama dengan mereka.


Tetapi kaisar negara Mole memberi peringatan pada baron Dorwen untuk tutup mulut tidak membeberkan kerja sama mereka pada siapapun, kalau saja baron Dorwen membeberkan nya kaisar Mole akan bertindak, uang dan kuasa yang pernah di janjikan nya akan sirna.

__ADS_1


"Baron Dorwen, kau memang manusia serakah yang tidak ada puasnya, keserakahan mu melebihi perut buncit mu itu." Pekik Raphaelo, kesabarannya sudah hampir hilang, ia akan bertanya satu kali lagi dengan menekan. "Sudah berapa lma kamu bekerja sama dengan negara Mole? Kalau tidak menjawab pedang ini akan melayang ke lehermu."


"Ugh, sa, saya sudah bekerja sama satu bulan dengan mereka. Saya sudah menjawab yang mulia, jadi jangan tebas leher saya." Jawabnya ketakutan.


"Wilayah mana saja tempat kalian menyelundupkan senjata perang?" Tanyanya lagi.


"Ha, hanya negara Mole, yang mulia." Jawab cepat baron tersebut.


Di tengah mereka sedang sibuk meghakimi dan dihakimi, salah satu penjaga pintu luar ruang bawah tanah datang dan melapor pada pangeran l.


"Yang mulia, ada tamu ingin bertemu dengan anda." Ucap penjaga tersebut yang tengah berlutut memberi hormat di depan pangeran nya.


"Siapa?"


"Seorang wanita muda, yang mulia."


"Seorang wanita? Siapa seorang wanita itu yang berani datang mencariku." Batin Raphaelo penasaran.


"Hm, baiklah." Balas Raphaelo.


"Louis! Selanjutnya kamu yang urus mereka, beri mereka denda sesuai kesalahannya dan lepaskan mereka setelah itu!" Ujar Raphaelo pada ajudannya seraya berbalik melangkah pergi, namun langkahnya terhenti sejenak. "Akan tetapi, kalau aku menemukan kalian menyelundupkan senjata lagi, jangan harap dapat pengampunan seperti sekarang ini." Ucap Raphaelo dengan tatapan tajamnya.


"Baik, yang mulia pangeran!" Jawab cepat Louis fan, tangannya sudah tidak tahan ingin menyiksa lagi.

__ADS_1


__ADS_2