Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Bertemu pria cantik


__ADS_3

"Huft!! akhirnya bisa kabur! semoga Ina baik-baik saja disana."


Cayena membawa orang itu bersembunyi di toko roti.


"Kamu, kamu larinya begitu cepat, apa benar kamu seorang wanita, hosh, hosh..!"


Orang yang bersama Cayena juga terengah-engah kelelahan.


"Tentu saja aku seorang wanita, kamu tidak lihat aku begitu cantik."


Kamu masih seperti biasa, apa kamu tidak lelah setelah berlarian, aku saja masih ngos-ngosan!


"Baru lari gitu aja sudah K.O, aku dulu ya, seorang atlet lari maraton saat masih di bangku SMA, tahu!"


"Apa? SMA?"


"Ah! ti,tidak, tidak ada apa-apa!"


"(Huh!! kenapa aku sampai ngungkit-ngungkit masa lalu segala sih, untuk nggak keceplosan banyak)"


"Kalau kamu lelah, kita duduk di sana, biar nafas kamu bisa lancar kembali."


Cayena memapah orang tersebut ke kursi.


"(Eh, kenapa tangan nih orang lembek gitu ya, sepertinya dia ini wanita, badannya ramping persis wanita, tapi kok suaranya kasar seperti pria?!)"


"Sudah, sudah, aku bisa sendiri."


"Oh!"


Setelah mereka duduk, Cayena yang penasaran dengan wajah orang itu terus menatapnya.


"Kenapa kamu terus menatapku?"


Orang itu terus merasa dirinya di intai oleh Cayena.


"Em.. itu.. apa kamu tidak gerah memakai jubah seperti selimut itu? aku liat aja sudah kepanasan!"


"Bilang saja kamu penasaran kan, siapa aku?"


"Haha, kamu bisa baca pikiran aku ya, kok bisa nebak!"


"Memang jelas terlihat di wajahmu, anak kecil juga pasti bisa menebaknya!"


"Iyakah? haha.. apa ekpresi di wajahku begitu jelas dibaca! Hm.. Ngomong-ngomong kenapa kamu sampai di kejar para kesatria itu?"


"Cayena yang penasaran langsung menanyakan apa yang telah terjadi dengannya."


"Sebelum aku menjawab, aku mau tahu alasanmu mengapa kamu menolongku?"


Orang itu tidak mau menjawab langsung pertanyaan Cayena, dia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada alasan lain, aku menolongmu karena aku orang baik!"


"Benarkah?! jadi kalau kamu menolongku yang seorang penjahat, kamu juga bagian dari orang jahat karena kamu membantuku yang sebagai penjahat dong."


"kamu seorang penjahat? kalau begitu kesalahan apa yang kamu buat sampai para kesatria mengejarmu? tapi.. kamu tidak seperti orang jahat deh!"


"Kenapa?"


"Karena tubuhmu begitu lembek, yang aku tahu penjahat itu badanya kekar dan kuat."


Dengan polosnya Cayena mengatakan tersebut tanpa merasa bersalah.


"Ka,kamu mengatai tubuh aku lembek?" dia sudah tak bisa berkata-kata.


"jadi kamu tidak takut kalau kamu juga jadi tersangka sebagai komplotan penjahat?" tanya lagi orang tersebut ke Cayena.


"Kalau dari karakter kamu, mungkin kamu berbuat jahat karena kebaikan. Aku pernah nonton film Hollywood yang mirip seperti itu, jadi aku ingin sekali seperti itu, menolong penjahat baik dan menjadi heroin yang membantu orang dalam kesulitan, seperti saat di kejar-kejar orang tadi, itu sangat seru!"


Cayena menyamakan kejadian barusan seperti di film-film Hollywood.


"Perkataan macam apa lagi yang kamu ucapkan! mana ada penjahat baik, kamu benar-benar wanita aneh."


"Eh.. kamu wanita yang lebih aneh, dikejar-kejar seperti ******* saja!"


"Aku bukan wanita, aku juga tidak lembek!!"


Orang itu tidak menerima pernyataan yang Cayena katakan di dirinya.


Cayena menilai orang itu sebagai wanita karena tubuhnya mirip seperti wanita. Maka dari itu Cayena menebak dia adalah seorang wanita bukan pria.


"Aku memang seorang pria!"


Orang tersebut berdiri dan langsung membuka penutup kepalanya.


"Lihat dengan jelas, aku seorang pria!"


Orang tersebut dengan tangannya menunjuk ke wajahnya bermaksud memperjelas kesalahpahaman Cayena.


Pria itu memiliki rambut berwarna merah dan bola mata berwarna kecoklatan dan dengan parasnya yang tergolong cantik.


"Astaga!! kamu ternyata seorang pria ya, tapi lebih mendominasi seperti pria cantik. Wajahmu... sangat cantik."


Cayena malah memuji pria itu berwajah cantik, sampai-sampai mengacungkan kedua jempolnya.


"Kamu, kamu jangan menyatakan perkataan yang aneh-aneh. Karena aku, bukan, pria cantik!!!"


"Um, baiklah, aku mengerti, kamu bisa duduk kembali."


"Kamu seorang pria ternyata, aku sampai salah mengenalnya karena kamu menutupi wajahmu."


"....Sudahlah, jangan bahas itu lagi."

__ADS_1


"Kan aku mau memperbaiki kesalahan ini!"


Di saat itu juga, Ina dayang Cayena datang dengan berlarian sambil teriak memanggil Cayena.


"Nona, Nona Cayena!!!"


"Ina!" sahut Cayena yang melihat Ina berlarian mendekatinya.


"Syukurlah Nona baik-baik saja! Ina sangat khawatir.. dan aku sudah mengelabui para kesatria itu, hosh, hosh..!"


Ina berbicara sambil sambil ngos-ngosan.


"Aku memang baik-baik saja, kamu sepertinya berlarian kesini, jadi tenangkan dirimu dulu, baru bicara." melihat Ina seperti itu, Cayena prihatin dan menunggu Ina tenang terlebih dulu.


"Baik, Nona!"


Ina menarik nafas dan buang, untuk menenangkan dirinya.


"Apa kamu sudah lebih tenang sekarang?"


"Sudah, Nona!


Jadi tadi aku...."


Kilas balik


Ina menghadang para kesatria itu dengan melentangkan tangannya.


"Tunggu dulu, para kakak-kakak kesatria sedang mencari siapa?"


"Eh anak kecil, jangan menghalangi kami, minggir!"


"Aduh.. kakak kesatria jangan kasar gitu, aku hanya ingin tahu kalian sepertinya sedang mencari sesuatu bukan?"


"Senior, apa salahnya kita bertanya ke wanita kecil ini, dia dari tadi sepertinya sudah ada disini, mungkin saja dia melihatnya." bisik kesatria lainnya.


"Baiklah! Anak kecil, apa kamu melihat orang yang memakai jubah hitam di sekitar sini?" tanya nya kesatria tersebut ke Ina.


"Sebelumnya jangan panggil aku anak kecil, aku sudah berumur 13 tahun, tahu!"


"Iya, iya, terserah! kamu tinggal jawab pernah melihat nya atau tidak." ucap kesatria tersebut.


"Orang berjubah hitam, ya! um.. aku melihatnya, dia berlari ke arah sana!" tunjuk Ina ke arah berlawanan dari arah Cayena pergi bersama orang itu.


"Oh, kearah sana, ya! Terimakasih anak kecil. Ayo cari kesana!"


"Aku bukan anak kecil, tapi nggak apa-apa. Semoga kalian berhasil menemukannya! Hihi.."


...***...


"Jadi begitu, baguslah kamu juga tidak apa-apa!" sahut Cayena yang sudah mendengar cerita Ina.

__ADS_1


__ADS_2