
"Nona! Saya bawakan teh dan dessert untuk sarapan, bolehkah saya masuk?" Ina berada di balik pintu kamar Cayena yang tengah membawakan Nona nya sarapan.
"Em." Singkat Cayena yang tengah duduk melamun melihat di luar jendela.
Ina pun masuk seraya mendorong meja roda yang di atasnya ada teko kaca berisian teh hijau dan di sertai dessert berbagai macam varian.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Tampaknya Nona banyak pikiran!" Ina sembari menuangkan teh ke cangkir, ia yang melihat Nona nya terdiam saja melihat ke arah jendela dengan pikiran kosong seperti itu membuat Ina cemas melihat Nona nya melamun tak jelas.
"Aku tidak apa-apa! Setelah ini kamu bisa keluar, aku ingin sendirian." Ujarnya dengan nada datar seraya meminum teh yang baru dituangkan oleh Ina.
"Baiklah! Tapi... Apa Nona benar-benar tidak apa-apa? Apa ada lagi yang bisa saya lakukan?" Tanya Ina.
"Tidak! Kamu boleh pergi."
"Baiklah, Nona! Kalau begitu saya undur diri. Kalau Nona ada butuh bantuan bisa panggil saya kapanpun."
"Em." Singkat Cayena, ia lagi-lagi memandangi ke luar jendela.
"Sejak pulang dari pesta sikap Nona jadi aneh! Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Nona." Batin Ina tengah mencemaskan Nona nya.
Ina pun keluar dari kamar Cayena dan saat ini Cayena sekarang sendirian dan masih berdiam menatap ke luar jendela.
"Aku sempat berfikir bila aku dapat mengubah sedikit dari cerita novel ini agar cerita tersebut tidak menumpahkan darah, namun tidak mempengaruhi alur dari cerita tersebut... Tapi hal yang tidak aku duga mengapa bisa terjadi!!" gumam Cayena banyak pikiran.
Flashback On🍁
Baru saja selesai dansa, Iriena langsung menghampiri kakak tirinya itu, dan berkata "Bisa kita bicara!" Ia berkata demikian seraya raut wajahnya tak sedap dipandang.
Iriena ingin berbicara empat mata dengan Cayena, Iriena pun mengajak Cayena ke teras balkon dimana di sana terlihat sepi tidak ada orang.
karena Iriena bilang ingin bicara terhadap Cayena, Cayena pun mengikuti keinginan adik tirinya yang tiba-tiba itu. Mereka berdua tengah menuju ke tempat yang Iriena katakan.
Setibanya mereka di teras balkon, kesunyian dan hembusan angin malam menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Iriena belum angkat bicara, dia tengah memandangi sunyinya malam dengan dibarengi wajah geramnya itu. Tak lama akhirnya Iriena berbicara setelah terdiam cukup lama.
"Apa kakak tahu posisi kakak?"
Iriena tiba-tiba bertanya dengan pertanyaan yang membuat Cayena kebingungan, dia dengan wajah datarnya sembari memandang jauhnya malam.
"Maksud kamu?"
Cayena mendapatkan pertanyaan aneh dari adik tirinya itu, membuat ia bertanya kembali maksud dari ucapan Iriena.
"Seharusnya kakak sadar diri, posisi kakak bukan seperti ini." Ucap Iriena dengan suara berat.
"Hah? Iriena, apa maksud dari perkataan mu itu, apa yang kamu maksud dengan posisi dan aku harus sadar diri?" Tanya balik Cayena seraya mengerutkan dahinya.
"Kakak jangan sok polos dan tidak tahu maksud dari perkataan ku ini." Ucapnya seraya badannya berbalik ke samping dan berhadapan tepat ke depan Cayena.
Dengan sorot mata yang tajam, Iriena menatap lekat Cayena, dia mendekat dan berbisik mengatakan "Aku tebak, kalau kamu bukan Cayena asli melainkan Cayena palsu, bukan?!"
Cayena terkejut, tatapannya kosong dan wajahnya berkeringat dingin setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Iriena itu, ia tak mengira akan identitas dirinya ketahuan secepat ini.
Ia hanya terdiam dan membeku apa yang harus dia lakukan sekarang, apa Cayena akan memperjelas bahwa dia benar-benar bukan Cayena asli.
"Bagaimana bisa! bagaimana bisa dia menebak bahwa aku bukanlah Cayena asli yang sesungguhnya?!" Panik Cayena dalam hatinya sembari mengepal kuat telapak tangannya.
"Bagaimana aku menghadapinya! Apa aku sebaiknya jujur saja, meskipun menyembunyikan nya, lama-lama juga akan tetap terbongkar nantinya." Batin Cayena tengah berpikir keras.
"Tapi bagaimana dia bisa menebaknya kalau aku bukan Cayena asli. Padahal aku begitu menyembunyikan nya dengan rapat,
melainkan dia ada petunjuk atau kah dia juga...."
"Heh! Dengan reaksimu ini... Jadi tebakan aku benar, ya!" Serunya seraya tersenyum menyeringai.
"....Benar yang kamu tebak, aku bukanlah Cayena asli milik tubuh ini." Tegas Cayena sembari balas menatap tajam mata Iriena.
__ADS_1
"Hoo....
Kamu pasti juga sedang bertanya-tanya aku tahu dari mana, bukan?"
Cayena hanya terdiam saja.
"Iya... Karena aku menebak dari gerak gerikmu yang sudah berbeda jauh dari Cayena aslinya. Dan terlebih lagi... Aku sudah lebih lama berada disini." Ucapnya dengan santai.
"Maksudmu?" Tanya cepat Cayena.
"Tenang saja, kamu tidak sendirian berasal dari dunia lain, aku juga orang sepertimu berasal dari dunia modern abad ke-21." Ungkap Iriena sembari menepuk pelan bahu Cayena.
"Seharusnya aku tidak perlu lagi memanggilmu kakak, karena kita bukan siapa-siapa. Tapi kalau berada di dekat orang-orang aku tentu akan memanggilmu kakak." Sambung Iriana seraya tersenyum licik.
"Ap, apa? Dia juga sama seperti ku, seorang pelintas?!" Kagetnya dalam hati.
"Kamu serius, kamu sama seperti ku seorang pelintas?" Tanya Cayena untuk memperjelas.
"Aku sangat serius!" Balas cepat seraya mengangkat kedua tangannya dengan santai. Namun dengan cepat ekspresi Iriena berubah mengikuti dialognya. "Walaupun begitu, tetap saja posisiku sebagai pemeran utama yang harus mendapatkan kebahagiaan sesuai alur novel ini. Tapi setelah kedatangan mu, novel ini jadi berantakan, aku yang sebagai tokoh utama wanita tersingkirkan." Ucapnya dengan memasang wajah jahat seperti orang yang tak ingin miliknya diambil.
"Aku tidak pernah mengambil posisimu sebagai pemeran utama wanita, aku juga tidak ada niatan untuk mengambilnya." Balas Cayena apa adanya.
"Jelas kamu telah merebut posisiku sebagai pemeran utama wanita, seharusnya aku yang di dekati oleh kedua pangeran itu dan aku juga yang seharusnya berdansa bersama pangeran dan semua mata orang-orang hanya akan tertuju ke arah aku saja seperti kamu waktu tadi. Itu adalah alur asli dari cerita novel tersebut. Tapi kamu telah mengambilnya tanpa bersalah, padahal kamu pasti tahu itu. Heh, lelucon apa ini!" Ucap Iriena panjang lebar, ia sangat marah dan geram melihat posisi yang seharusnya dia dapatkan namun direbut oleh Cayena.
"Jujur saja, aku sangat membenci dirimu, kamu sudah menghancurkan hidupku dan harapanku bisa bersama pria itu. Tapi aku tidak akan tinggal diam melihatmu bahagia atas penderitaan aku hari ini, apa yang seharusnya aku miliki akan aku dapatkan kembali."
"Yang jelas... Kamu jangan senang dulu." Ujar Iriena dengan suara percaya diri, ia mencoba menekan Cayena lewat ucapannya.
Flashback Off🍁
Kembali lagi ke Cayena ...
"Haah! Kepalaku mumet banget!" Jerit Cayena sembari Kedua tangannya menekan kepala dan mengacak-acak rambut yang indahnya itu.
__ADS_1