Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Persiapan perang mendadak


__ADS_3

"Saya menghadap kepada baginda kaisar!"


Raphaelo tengah menekuk lututnya dengan hormat dan sopan di hadapan baginda kaisar yang duduk di singgasananya itu.


"Putraku, apa kamu tahu mengapa ayah memanggilmu?"


{Kaisar dari Kekaisaran Traven Velnof Lan Lancaster}


"Jika dari perkiraan saya mungkin karena masalah perbatasan Hesh."


"Benar, perbatasan Hesh saat ini sedang darurat, para tentara negara Mole mulai menyerang kembali.


Ayah memanggilmu untuk menangani kekacauan di perbatasan Hesh saat ini juga, kalau tidak segera di tangani rakyat di Hesh akan ikut terancam." Ujar kaisar dengan tegas.


"Baik, ayahanda." Ucap Raphaelo menerima dengan lapang dada.


"Ayah tahu kamu telah berkorban banyak untuk Kekaisaran ini sejak usiamu menginjak 15 tahun. Dan sekarang dengan umurmu yang sudah beranjak 17 tahun, ayah semakin mempercayakan tugas tersebut padamu... Uhuk!


"Ayahanda ! !" Sontak Raphaelo cemas melihat ayahandanya tiba-tiba terbatuk.


"Aku tidak apa-apa, hanya batuk ringan saja." Balas kaisar Velnof dengan suara seraknya seraya mengangkat tangannya mengisyaratkan dia baik-baik saja.

__ADS_1


"Syukurlah, ayahanda harus baik-baik jaga kesehatan. Serahkan saja ini kepada saya, saya akan berusaha menstabilkan perbatasan Hesh seperti semula." Ucap Raphaelo bertekad.


"Baiklah, semoga keberkatan dan keselamatan selalu bersamamu."


"Terima kasih, ayahanda!


Kalau begitu, saya pamit undur diri."


Raphaelo pun bangkit dan hendak berbalik dan pergi dari hadapan sang kaisar.


"Semoga ayahanda sungguh baik-baik saja, beliau tampak menyembunyikan sesuatu..." Batin Raphaelo yang merasakan kecemasan nya pada sang kaisar.


Kaisar Velnof terbatuk memang karena ia sedang sakit, namun ia menyembunyikan itu kepada istri dan orang-orang terutama kedua putranya agar tidak terjadi kekacauan dan kekhawatiran. Tetapi suara serak yang keluar dari mulut sang kaisar kian mendalam dari sebelumnya, wajah tampak keriput dan pucat, tapi sang kaisar menahan sakit dan mencoba terlihat baik di hadapan putranya agar tidak terganggu dan khawatir dengan kesehatan dirinya.


"...Apakah sudah waktunya...." Gumam kaisar Velnof seraya menatap lekat punggung sang putranya yang tengah berjalan pergi.


Raphaelo yang telah keluar dari ruangan kaisar itu pun langsung bersiap-siap hendak menjalankan misinya pergi berperang ke perbatasan Hesh.


Camp Militer Kekaisaran _


Para perajurit yang akan ikut berperang mulai mempersiapan perataan senjata perang. Sekitaran 500 prajurit yang akan turun tangan dalam peperangan ini, tidak membawa banyak prajurit karena diperkirakan prajurit Mole juga tidak terlalu banyak membawa prajuritnya.

__ADS_1


Tapi untuk siaga, beberapa ratus prajurit lainnya akan di tempatkan ke camp militer kota Mino untuk sebagai cadangan bila genting di mana kota tersebut berdekatan dengan perbatasan Hesh.


Begitu juga dengan Raphaelo yang tengah sibuk mengenakan baju zirah miliknya dan menyiapkan peralatan perang lainnya.


Ditengah itu juga, Louis fan si ajudannya datang menghampiri Raphaelo dengan menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Bagaimana dengan pengantaran teh ke kediaman Count Aester?" Tanya Raphaelo pada ajudannya.


"Sudah yang mulia" Jawabnya.


Pada saat Cayena pulang, Raphaelo pun langsung memerintahkan Louis fan untuk mengantar teh yang ia janjikan pada Cayena ke kediaman Aester.


"Begitu cepat." Ucapnya pada


"Karena saya mendengar anda akan menjalankan perintah baginda Kaisar dalam peperangan di perbatasan Hesh, jadi saya mengantarkan teh itu dengan secepatnya." Ucap Louis fan dan bertanya. "Apa perintah ini terlalu mendadak, yang mulia?"


"Yah, ini memang mendadak, tapi aku juga tidak bisa menolak, karena ini berhubungan dengan ketentraman rakyat." Balas Raphaelo dengan serius, tapi wajahnya terlihat sedikit muram dari perkataan nya itu. Namun dengan cepat wajahnya berubah garang terhadap ajudannya dan berkata. "Kamu juga sebaiknya bersiap-siap untuk ikut perang sana."


"Baik, siap!" Ucap Louis fan dan segera beranjak pergi untuk bersiap-siap.


Di saat itu Raphaelo kepikiran akan janjinya dengan Cayena, seketika wajahnya menjadi muram karena takut ia tidak sempat menempati janjinya tersebut.

__ADS_1


"Dua hari lagi acara pesta ulang tahun Nona Cayena, aku sudah berjanji akan datang ke pestanya dia, tapi apakah aku sempat menghadiri pesta tersebut dengan keadaanku yang sekarang akan turun tangan dalam perang?!


Haa... Ini memang mendadak, tapi setidaknya aku bisa berusaha mengakhiri perang sebelum waktunya, kan! Toh ini juga hanya perang kecil." Gumam Raphaelo resah dan gelisah namun ia berusaha tetap tenang.


__ADS_2