Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Bertemu Raphaelo, Grish mulai waspada


__ADS_3

Perjamuan yang diadakan mendadak membuat para pelayan begitu sibuk untuk menyajikan makanan. Sambil menunggu makanan untuk disajikan, Count Roisen mengajak Grish dan Raphaelo mengobrol ringan di ruang tamu, sedangkan Cayena pergi mandi dan ganti pakaian ke kamarnya.


"Aku tidak menyangka Grish seorang pangeran, sebelumnya aku sudah merasakan dia bukan orang biasa, tapi dengan tingkahnya yang sembrono seperti bukan seorang pangeran yang bermartabat. Kenapa dia tidak memberitahu ku yang sebenarnya, malah memberitahukan identitas aslinya pada ayah!" batin Cayena.


"Nona! Saya akan mengikat tali pinggang Nona." sahut Ina.


"Mm." singkat Cayena.


Cayena berada di depan cermin tengah memerhatikan dirinya. Dress yang di kenakan nya berwarna biru tua dengan corak bunga, tambah renda putih berkilauan menghiasi dress tersebut.


"Nona memakai gaun ini sangat-sangat cantik, pasti kedua pangeran itu melihat Nona akan terpesona..Saya yang sebagai perempuan saja terpesona dengan kecantikan Nona, apalagi pria. Kalau saya pria, saya ingin mengajak Nona berkencan.. Hihi..!!" ucap Ina begitu antusias.


"Haha.. Bukannya kamu setiap hari melihatku.."


"Meskipun tiap hari melihat Nona tapi Ina belum puas melihat kecantikan Nona, itu pun sudah tiga hari Nona menghilang.. Ina sangat merindukan Nona, sangat cemas dengan keadaan Nona!" ucap Ina dengan raut wajah sedih.


"Begitu ya.. Apa kamu tidak merasa kalau aku berbeda dari biasanya?" tanya Cayena kepikiran.


"Berbeda.. dengan anda? ...Saya sempat berpikir bahwa beberapa hari ini sikap Nona berubah.. meski dibilang aneh karena sikap Nona tiba-tiba berubah, tapi tidak mengapa, karena Nona adalah Nona."

__ADS_1


Cayena tertegun dengan pemikiran Ina.


"Terlebih lagi dibanding Nona yang sebelumnya, saya lebih suka Nona yang ceria seperti sekarang. Ah! tapi bukan berarti saya mencela prilaku Nona yang sebelumnya."


"Hanya saja... Melihat Nona yang dulu bisa membuat hati saya sedih..."


Ina mengatakan itu tengah memikirkan Nona nya yang selalu muram dan kesepian dalam kegelapan, tidak memiliki satupun teman.


"Eh..! Apa kamu sedih karena aku tidak lagi menindas mu seperti dulu lagi?" pekik Cayena bertanya.


"Bu,bukan! Saya sama sekali tidak sedih karena anda tidak lagi menindas saya... Pokoknya saya suka Nona yang sekarang, ceria dan sepertinya Nona akrab dengan pangeran Grish itu..."


"Tapi Ngomong-ngomong, bagaimana Nona bisa selamat dari tebing yang curam itu, dan tubuh Nona sama sekali tidak ada bekas luka, apa Nona diobati dengan obat ajaib?" ucap Ina penasaran.


"Um... Aku juga ingin tahu!"


"Aku belum mendapatkan jawaban kenapa aku baik-baik saja dan hanya mendapatkan sedikit luka goresan di bagian lutut, tapi tadi setelah aku melihat luka itu kembali tidak ada bekas goresan lagi! ...Ini benar-benar aneh, bukan! Dan juga, tanpa sadar aku juga memiliki kekuatan di dalam diriku, elemen petir yang langka! Ada apa sebenarnya yang telah terjadi, aku ingin menanyakan banyak hal pada Zionn, lain kali." batin Cayena penuh dengan tanda tanya.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


"Nona! Apa anda sudah selesai berdandan? Tuan besar dan yang lainnya sedang menunggu anda, perjamuan akan segera di mulai." ujar kepala pelayan di depan pintu kamar Cayena.


"Baiklah! Aku akan turun sekarang." sahut Cayena.


"Sudah! Nona sudah rapi dan cantik, sebaiknya kita buruan kesana, saya sudah tidak sabar melihat ekpresi mereka." ucap Ina sangat bersemangat.


Pada saat itu.. Cayena bersama Ina turun ke lantai pertama menuju meja makan yang sudah ditunggu ayahnya dan dua orang pangeran. Tak lama Cayena pun datang dan membuat perhatian mereka tertuju padanya.


"Maaf, saya sedikit telat!" ucapnya tengah menarik kursi untuk dia duduki.


"Wah.. Cayena yang sekarang begitu berbeda, dia terlihat lebih dewasa dan lebih cantik! Tapi apa hubungan dia dengan pria di sebelahku ini." batin Grish sambil diam-diam melirik Raphaelo yang duduk di sebelahnya.


"Cantik!" batin Raphaelo.


Tanpa di sadari ia terus memandang Cayena yang akan duduk di sebrang nya.


"Tidak, apa yang telah aku pikirkan! sadarlah." batin Raphaelo, ia meng geleng-geleng kan kepalanya agar tersadar.


"Dia kenapa... Setelah melihat Cayena dia geleng-geleng kepala, apa dia waras!

__ADS_1


Hah.. apa jangan-jangan dia adalah tunangan yang di bilang Cayena itu? Hum... Tapi sepertinya tidak, tingkah dia melihat Cayena seperti menahan diri agar tidak tertarik... Bila begitu, aku ada kesempatan untuk memberi perhatian pada Cayena." batin Grish, dia terus memerhatikan gerak-gerik Raphaelo.


__ADS_2