Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Kecoa bandel


__ADS_3

"Apa yang telah terjadi dengan Nona Cayena, sikapnya tiba-tiba aneh setelah aku meninggalkan dia sebentar untuk mengambil air minum saat itu." Gumam Raphaelo.


Raphaelo mengingat ulang kejadian pada saat di mana Cayena bertingkah aneh.


"Apa kamu lelah? Bagaimana kalau aku ambilkan air minum untuk mu?" Tawar Raphaelo yang telah menghampiri Cayena yang sudah selesai berdansa yang kedua kalinya bersama Kahil.


"Yang mulia tidak perlu repot-repot..." Tolak Cayena dengan sopan.


"Tidak apa, kamu tunggu disini sebentar." Ucap Raphaelo dan mulai beranjak pergi.


Tak lama setelahnya, Raphaelo tengah membawa secangkir air putih dan menghampiri dimana Cayena berada sebelumnya.


Tapi setibanya di tempat Cayena berdiri ia tidak melihat wanita itu di sana, setelah lumayan lama dia mencari, ia melihat Cayena tengah berjalan cepat, ia pun menghampiri wanita itu, namun pada saat bertemu wajah Cayena tampak tidak baik dan Cayena juga sedang terburu-buru mau pulang.


Raphaelo pun menawarkan untuk mengantar pulang Cayena, tapi Cayena menolaknya dengan sopan dan beralasan dia sudah ada kereta kuda menjemputnya untuk pulang. Alhasil Raphaelo tidak bisa apa-apa dan membiarkan wanita itu pulang sendirian.


***


"Wanita itu begitu aneh, apa dia tidak apa-apa, ya?


Mengapa rasa pengangan dia masih terasa di tanganku.


Tangan dia kecil dan ramping namun hangat dan enak dipegang, entah mengapa aku sangat nyaman saat dansa bersamanya waktu itu, aku sungguh menikmatinya, aku sama sekali tidak merasakan ketidak sukaan terhadap wanita saat berdekatan dengannya." Gumam Raphaelo tengah memandangi telapak tangannya yang pernah memegang tangan ramping Cayena.


Raphaelo masih terbayang-bayang pada momen ia berdansa bersama Cayena. Ia awalnya tidak suka berdekatan apa lagi bersentuhan dengan wanita lain kecuali ibu kandung nya atau permaisuri kaisar. Namun ibu kandung Raphaelo telah tiada karena insiden kecelakaan pada saat Raphaelo masih berumur dua tahun.


Pada saat itu Raphaelo tidak pernah mengenal yang namanya wanita, waktu ia kecil juga tidak di asuh oleh pengasuh wanita melainkan pengasuh pria. Sebab pada mulai hari di mana ibunya tiada dia mendapatkan dambak besar di mana Raphaelo pada saat itu sangat keras kepala tidak ingin melihat wanita kecuali ibu kandungnya sendiri. Ia nekad mengunci pintu kamarnya sampai seharian penuh, semua orang yang ada di istana pun panik bila ada apa-apa pada anak yang baru saja berumur dua tahun itu, takutnya dia malukan tindakan yang tidak diinginkan. Hingga ayahnya sang kaisar itu memerintahkan para kesatria untuk mendobrak pintu kamar yang begitu besar dan tinggi dengan paksa.


Pernah juga Raphaelo mogok makan dan selalu kabur-kaburan bila waktunya makan. Banyak sudah dia lakukan dengan kekeraspalaan waktu ia kecil, setelah lama dan sudah beranjak besar pada umurnya yang ke-7 ia baru sadar dan mulai menaati dan menekuni pelajaran dan pada saat itu juga dia menekuni pelajaran berpedang dan sudah tidak lagi berbuat onar.


Pada umurnya yang ke-15 Raphaelo sudah memimpin para kesatria dan ikut serta dalam berperang, dan sampai sekarang berperang adalah hobinya untuk mengisi waktunya yang membosankan.


...*****...

__ADS_1


Pada saat yang sama ....


"Apa ini gara-gara aku yang telah mengubah alur ceritanya?


Masa iya sih aku hanya diam saja kalau tahu hari kematianku tidak akan lama, aku masih ingin hidup, tentu saja tindakan aku ini juga pasti akan sama bila orang lain berada di posisiku saat itu.


Sangat di sayangkan juga kalau mati cepat, jadi kan aku nggak bisa menikmati kemewahan sebagai putri count yang bisnis nya sedang naik daun, juga tempat ini sungguh memanjakan mata, aku juga berencana ingin pergi piknik ke tempat yang cantik saat waktuku senggang banyak." Pekik Cayena terus menggerutu dirinya sendiri.


Pada saat itu juga Cayena yang tengah bergumam sendiri, tiba-tiba ada suara yang memanggil dirinya samar-samar.


"Nona Cayena!"


"Nona Cayena!"


Suara itu menggema memanggil Cayena.


Cayena yang mendengar itu pun merinding, bulu kuduknya menjerit ikut ketakutan.


"Eh, eh! Nona Cayena mengapa teriak, apa Nona Cayena takut?" Suara panik.


"Kyaa! Suara itu bisa bertanya keadaanku pula." Cayena tambah menjerit.


"Nona Cayena tolong tenang, aku bukan menakuti Nona Cayena."


"Si, siapa kamu? Dimana kamu? Keluarlah!"


"Aku Zionn! Apa Nona Cayena masih mengingatku?"


"Zionn! Ternyata kamu! Tentu saja aku masih ingat."


"Syukurlah... Nona Cayena masih mengingatku." Ucap Zionn lega.


"Kamu ada dimana cepat keluarlah!" Suruhnya sembari melihat ke kiri kanan.

__ADS_1


"Ternyata Nona Cayena tidak sabaran bertemu dengan ku juga"


Wush.... Suara angin, dimana Zionn muncul ditengah-tengah nya.


Zionn yang hanya suaranya saja didengar sekarang wujudnya muncul dari hembusan angin dan mendarat dari permukaan.


"Nona Cayena! Aku sangat merindukan mu..." Ucapnya seraya berlarian sambil melentangkan kedua tangannya ke arah Cayena berada.


"Nona! Mengapa anda berteriak begitu kencang... Apa anda baik-baik saja, Nona?" Gaduh dan panik Ina berada di balik pintu kamar Nona nya.


"Aduh, itu Ina! Jangan sampai dia mendengar suara Zionn." Batin Cayena tengah waspada.


Di saat Zionn datang ingin memeluk Cayena, Cayena malah duluan menerjang dan membekap mulut Zionn rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara.


Dengan kuat Cayena membekap mulut Zionn sampai Zionn terdorong kebelakang, Zionn tidak bisa menahan terjangan itu, Zionn pun terjatuh bersama Cayena.


Kedubrak!


Posisi mereka terjatuh sekarang Zionn berada dibawah tengah kesakitan, dan Cayena berada di atas masih membekap mulut pria itu.


"Kyaa! Nona! Suara apa itu, apa anda terjatuh?" Panik Ina di balik pintu.


"Sepertinya Nona benar terjatuh, pasti karena Nona terus melamun sampai tidak melihat jalan terus terjatuh." Gumam Ina.


"Haih, sepertinya Ina sedang panik mendengar suara barusan." Batin Cayena.


"Aku tidak apa-apa! Suara itu aku sedang memukul kecoa bandel saja." Sahut Cayena memberi tahu Ina agar tidak cemas.


"Kecoa bandel?! Itu sangat mengerikan, biar saya saja yang memukulnya, Nona!" Ujar Ina antusias.


"Sudah, sudah tertangkap! Aku sedang menguliti kecoa bandel ini, kamu bisa pergi." Pekik Cayena.


"Oh, begitu ya! Nona sungguh hebat. Kalau begitu saya bisa tenang dan dapat pergi kedapur lagi. Tidak akan mengganggu kesenangan Nona, Nona harus baik-baik menguliti kecoa bandel itu, jangan beri dia lolos." Balas Ina dan beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2