
Jika pria yang ada disamping ku ini bukanlah tunangan Cayena, jadi aku bisa dengan leluasa memberi perhatian kepada Cayena sekarang.
"Cayena.. Ah, Nona Cayena! Anda terlihat berbeda hari ini, anda semakin cantik mengenakan gaun itu."
"Ugh, kenapa cara bicaranya begitu formal.. Tidak seperti biasanya. Meskipun begitu dia adalah pangeran, jadi aku harus bersikap baik padanya." batin Cayena.
"...Anda terlalu berlebihan, tapi saya memang sudah cantik dari lahir! Hem..." balas Cayena sembari tersenyum.
"Dibanding seorang pangeran, dia lebih cocok sebagai penggoda!" batin Cayena menilai.
"Dia begitu percaya diri.. Tapi tak mengapa, dia memang benar-benar cantik jadi aku memaklumi nya." batin Grish tak berdaya dengan perkataan Cayena.
"Nona Cayena sejak lahir sudah diberkati kecantikan jadi tidak diragukan lagi setelah besar akan semakin cantik." ucap Grish sambil tersenyum ramah.
Begitulah..!" sahut Cayena sambil tersenyum.
Di saat gurauan Grish pada Cayena, Cayena tak sengaja memergoki curi pandang Raphaelo pada nya, di saat mata Cayena dan Raphaelo saling menatap, dengan cepat Raphaelo memalingkan wajahnya kesamping.
"Kenapa dia? apa aku seseram itu, dia langsung buang muka begitu aku melihatnya." batin Cayena yang melihat tingkah aneh Raphaelo.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita mulai jamuannya..!" seru Count Roisen.
"Tunggu! Apa saya boleh bergabung?" sahut Iriena.
Iriena datang tiba-tiba disaat perjamuan akan dimulai, dia dengan diikuti dayang pribadinya tengah berjalan mendekati meja makan.
"Apa saya melewatkan acaranya?" tanya Iriena.
"Hoo... Ini adalah putri kedua ku, Iriena!" ucap Tuan Count mengenalkan kepada Grish.
Iriena pun memberi senyuman pada Grish begitu count Roisen memperkenalkan dirinya. Sebelum Iriena duduk di sebelah Cayena, dia melirik sekilas Cayena dengan tatapan tajam diiringi senyuman sinis.
"Apa aku tidak salah lihat... Kenapa sorot mata Iriena pada ku seakan memiliki niat jahat, apa itu Iriena yang polos?" batin Cayena merasa aneh.
"Benar, benar! Mereka putri-putri ku yang berharga. Anda memang pintar memuji, hoho.." sambung Tuan Count.
"Aku lebih baik diam saja, aku tidak pintar memuji seperti pria aneh itu!" batin Raphaelo.
"Yang mulia pangeran! Apa anda baik-baik saja?" tanya Iriena kepada Raphaelo.
__ADS_1
"...Aku baik-baik saja." balas Raphaelo dengan dingin.
"Mungkin pangeran sakit!" sambung Cayena.
"Aku sangat sehat!" balas Raphaelo dengan cepat.
"Oho... Sepertinya yang mulia pangeran memang sehat.. Kalau sudah lengkap begini mari kita mulai jamuannya. Ini sebagai tanda terima kasihku atas kepulangan Cayena dan pangeran Grish yang sudah menolong putriku.." ucap Tuan count sambil mengangkat gelas berisian Wine kesukaannya.
"Jadi yang menyelamatkan Cayena adalah seorang pangeran! Pria itu lumayan tampan... Tapi sepertinya tidak sebanding dengan pangeran Raphaelo." batin Iriena tengah membandingkan Grish dengan Raphaelo.
Perjamuan sekaligus makan malam mereka dimulai dengan ceria. Di tempat itu Grish lah yang paling aktif untuk menawarkan makanan pada Cayena. Dia berinisiatif memberi perhatian agar bisa lebih dekat lagi dengan Cayena.
"Nona Cayena, steak milikku sudah aku potong-potong menjadi beberapa bagian, sebaiknya Nona Cayena makan steak milikku ini!" ucap Grish tengah memberikan steak itu pada Cayena.
"Ah, tidak usah repot-repot, aku bisa memotongnya, kok!" tolak Cayena sedikit canggung.
"Cayena, terimalah steak dari pangeran Grish! Pangeran Grish sepertinya sudah sungguh-sungguh memotongkan untuk mu." sambung Tuan count.
"Ah... Kalau begitu terima kasih." ucap Cayena menerima steak itu dan mengoper steak miliknya kepada Grish.
__ADS_1
"Sama-sama." balas Grish sambil tersenyum.
Bukan hanya itu saja, Grish tidak hentinya menawarkan makanan pada Cayena dengan semangat. Raphaelo yang melihat itu entah kenap ia merasa kesal, sedangkan Iriena sangat iri dengan kakaknya yang diperlakukan baik oleh pria.