Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Tersembunyinya menara sihir


__ADS_3

"Tujuan kita mau kemana sekarang?" tanya Cayena pada Grish.


"Hm.. bukannya kamu penasaran dengan sihir, aku lagi senggang, jadi kamu mau nggak aku ajak ke menara sihir?"


"Uwah, benarkah? kamu mau ajak aku kesana? aku mau, aku mau!" girang Cayena.


"Ini yang aku suka dari kamu, kamu begitu senang hanya dengan hal-hal kecil sekalipun, kamu yang sekarang sangatlah imut!"


"Ka,kamu maniak!" Cayena tersipu malu mendengar perkataan Grish, membuat dirinya salah tingkah.


Setelah itu, Grish mengajak Cayena mengunjungi menara sihir, karena Cayena begitu penasaran Grish pun tak sungkan mengajak nya kesana. Setibanya mereka berdua di tempat letak menara sihir tersebut, mereka berdua hanya menemukan rerumputan dan pepohonan saja disana. Begitu Cayena melihat disana hanya tempat kosong tidak seperti yang dia pikirkan , ia pun merasa Grish hanya membohonginya saja.


"Grish! kamu membohongi ku ya! dimana menara sihir yang kamu maksud, aku tidak melihat menara itu, melainkan hanya rerumputan dan pepohonan saja disini."


"Iya, tempatnya memang ada disini, kamu kira aku bohong! Kamu liat saja ya, tunggu disini."


Grish melangkah kedepan, dan berteriak memanggil seseorang di tempat yang sepi, Cayena yang melihat tingkah aneh Grish membuat kepalanya geleng-geleng di kira gila.


"Ada apa dengan Grish, berteriak nggak jelas di tempat yang sunyi, seperti orang gila!" gumam Cayena tidak tahu apa yang akan Grish lakukan.


"Kakek buyut!!" panggil Grish dengan suara lantang.


Tempat itu masih tidak ada perubahan dan tidak ada seseorang yang muncul.


"Hei, kakek buyut, apa kamu mendengarku! apa kupingmu bermasalah, hah?"


Grish tak henti-hentinya berteriak memanggil seseorang dengan sebutan 'kakek buyut' di tempat yang sunyi itu. Tapi setelah usaha Grish yang terus memanggil, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar hebat seperti gempa bumi.


"Eh, eh?! ada apa dengan tanah ini, apa terjadi gempa bumi!" panik Cayena.

__ADS_1


Begitu terjadi getaran hebat di dalam tanah, muncul lah menara yang begitu tinggi di hadapan mereka. Getaran yang begitu kuat membuat tanah tersebut retak dan longsor, suara gemuruh menyelimuti tempat tersebut. Tanah yang Cayena pijak hancur dan membuat Cayena ikut terjatuh kebawah bersama reruntuhan tanah itu. Namun, tiba-tiba seseorang dengan cepat menolong Cayena yang akan terjatuh.


Dengan gagah, pria itu menggendong Cayena dan melayang di udara naik lebih ke atas untuk menghindari reruntuhan.


Cayena begitu takut melihat dirinya yang akan terjatuh bersama reruntuhan itu, ia memejamkan matanya dengan begitu kuat, namun tidak dia sadari, dia sedang melayang di udara dengan seorang pria yang menggendong dirinya.


"(Eh? aku tidak merasakan sakit ditimpa reruntuhan! tapi seperti di gendong seseorang)"


"Nona! apa kamu baik-baik saja?"


Suara yang lebut dan menggema di kuping Cayena memanggil dirinya. Cayena merasa dirinya sudah berada di surga, mendengar para malaikat memanggil dirinya dengan lembut dan serasa dirinya begitu ringan seperti melayang di udara.


"(Apa aku sudah mati sekarang, dan ini adalah suara malaikat yang sedang memanggikku? badan ku juga begitu ringat seperti melayang di udara)" dalam benak Cayena yang memikirkan dirinya sudah mati karena gempa yang menerjang nya.


Pria tersebut perlahan mendarat turun kebawah dan duduk sambil memangku Cayena.


"(Suara Grish?! apa orang aneh itu juga sudah mati bersamaku?)" benak Cayena.


Cayena perlahan membuka matanya, dan melihat seorang pria tampan di hadapannya yang terlihat begitu bersinar karena diterpa sinar matahari.


"Tampan!!" gumam Cayena sembari membuka perlahan matanya.


"Syukurlah, sepertinya Nona baik-baik saja!" lega pria tersebut.


"Kamu berwajah tampan, rambutmu putih berkilau nan panjang. Apakah kamu malaikat yang memanggilku dan membawaku terbang ke udara?" tanya Cayena setengah sadar.


"Grish?! ternyata kamu juga ikut mati!" Cayena juga melihat Grish di sebelah nya.


Ucapan Cayena terus ngelantur tidak jelas, mengira Grish juga ikut mati bersamanya.

__ADS_1


"Hei? apa otakmu bermasalah, aku belum mati dan kamu juga belum mati! kita masih di tempat yang sama sekarang, cepat sadarlah." seru Grish menyadarkan Cayena.


"Hah? aku belum mati? tapi aku...."


"Kamu tidak apa-apa, pria yang memangkumu ini yang sudah menolongmu!" jelas Grish.


"Dia, dia siapa?" tanya Cayena yang sudah tersadar bahwa dirinya sedang dipangku oleh pria tersebut.


"Dia adalah kakek buyutku, yang aku panggil barusan!" sahut Grish memberitahu Cayena.


"Kakek buyut?!" Cayena bingung dengan panggilan tersebut, padahal orang itu masih begitu muda dan tampan.


"Kamu hati-hati berbicara! aku bukan kakek buyutmu." pria tersebut dengan amarah memukul kepala Grish yang sembarangan memanggil dirinya.


"Auw!" gumam Grish kesakitan kena pukulan.


Cayena yang sudah sadar kembali, bangun dari pangkuan pria itu, dan perlahan mulai mencerna kejadian tersebut.


"Ini... bukannya tanah ini hancur dan terjadi longsor, mengapa seperti tidak terjadi apa-apa?!"


Cayena bingung akan apa yang terjadi, belum lama terjadi gempa dan kondisi tanah menjadi rusak, tapi tidak lama tanah yang retak berubah seperti tidak terjadi apa-apa.


"Pasti kamu tahu, disini tempat para penyihir! tanah yang tadinya hancur, penyihir elemen tanah yang akan memperbaiki nya." ucap pria itu dengan lembut.


"Penyihir tanah juga bisa memperbaiki kerusakan yang tadi begitu parah?!" gumam Cayena tak percaya.


"Benar, asisten ku Emy, memiliki elemen tanah, yang dapat mengubah bentuk tanah dan memperbaikinya." pria itu menunjuk asistennya yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Wah... hebat!!" Cayena sangat kagum dengan kekuatan penyihir yang bisa melakukan apa-apa dengan magis mereka.

__ADS_1


__ADS_2