Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Cayena buat pangeran geram


__ADS_3

Mereka berdua yang membeku dan suasana yang hening hanya terdengar suara detak jantung yang kencang, kesadaran mereka berdua terpaku saling menatap tanpa berkedip. Tapi suasana itu tidak bertahan lama dengan badan Cayena yang hampir gepeng di tindih begitu lama oleh Pangeran Raphaelo.


"Aduuhh.. badanku!!"


Cayena menjerit kesakitan, Cayena merasa sesak karena di tindih begitu lama oleh pangeran Raphaelo.


"Ah! astaga, maaf aku tidak sengaja menindihmu!"


Mendengar jeritan Cayena, pangeran Raphaelo tersadar dan mulai menggerakkan tubuhnya untuk menjauh. Wajah pangeran Raphaelo tampak memerah, ia merasa malu dan bersalah.


"Aduduh.. badanku sepertinya akan remuk di tindih oleh beban yang begitu berat."


Sikap berlebihan Cayena membuat pangeran Raphaelo jengkel dari maksud Cayena itu.


"Ap,apa kamu bilang, maksud kamu aku begitu berat sampai-sampai badan kamu hampir remuk, begitu?"


"Eh? apa maksud pangeran, bukannya pangeran memang sudah menindih aku barusan, tidak minta maaf juga!"


"Heh, aku tidak seberat itu kali, kamu kira aku buldoser apa! Malah kamu sendiri yang berulah, sudah ditolongin malah berontak, alhasil kita berdua yang jatuh, kan."


"Terus kamu salahin aku? kamunya aja yang tidak kuat, menahan badan aku yang kecil begini aja nggak bisa, lemah!"


Cayena terus melempar kesalahan ke pangeran Raphaelo, Cayena juga meremehkan kekuatan si pangeran.


"Kamu tidak berterimakasih malah mengataiku lemah? apa kamu tidak tahu cara orang berterimakasih dan hanya tahu memaki saja?"


Pangeran Raphaelo tak terima perkataan remeh dari Cayena.


"Um..."


"(Ada benarnya juga sih, kalau aku tidak di tolong olehnya aku sudah jatuh dan pasti dapat luka memar, apa aku sudah keterlaluan ya. Apa mungkin aku sudah terhasut dengan sikap egois Cayena asli!)"


"Um, yasudah, karena kamu sudah menolong aku, jadi terimakasih."


Sikapnya berterimakasih Cayena begitu acuh tak acuh.

__ADS_1


"Hah? kamu tidak benar-benar berterimakasih kan, cara kamu nggak tulus begitu!".


"Bukannya hanya bilang terimakasih doang?!" timpal Cayena.


"...Sudahlah, aku juga nggak niat untuk bantuin kamu, makanya kalau jalan liat pakai mata jangan pakai dengkul." ujar pangeran Raphaelo


"Aku jalan pakai kaki kok, bukan pakai dengkul, gimana sih!" timpal lagi Cayena.


"Kamu ya, dibilangin nggak mau dengar, kalau aku tahu cara kamu gini, aku biarin saja tadi."


"...Bodoamat!" singkat Cayena.


"Bo,bodoamat?"


Pangeran Raphaelo mendengar kata yang tidak pernah dia dengar dari ucapan Cayena, membuat ia mengulang perkataan yang Cayena lontarkan itu.


"Gini nih, orang ketinggalan zaman!" gumam Cayena.


...*****...


"Haish! kenapa aku bisa-bisa nya berbuat lancang dengan pangeran Raphaelo, aku niatnya mau menjadikannya perlindungan, eh, malah aku membuat kacau gini! pasti dia ogah ketemu aku lagi. Di cerita novelnya, Cayena dimasa depan akan mati di tangan pangeran Raphaelo sang tokoh utama dari novel tersebut. Aku tidak mau mati lagi di usiaku masih muda ini. Pokoknya aku harus baik-baik menjaga reputasi ku di hadapan dia, dan aku akan mengubah cerita asli dari novel 'putri terlantar dan pangeran mahkota' mulai sekarang."


Cayena pun bertekad untuk merubah cerita asli dari novel itu, agar dapat terhindar dari perkara kematian si tokoh antagonis.


...*****...


Di hari berikutnya, Cayena berencana pergi mengunjungi ibu kota Vildom, kota kekaisaran Lancaster, dia ingin sekali berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah dia lihat di dunia modern, dia dan dayangnya Ina pergi berdua ke kota. Cayena agar tidak terlihat seperti bangsawan, ia memakai baju seperti rakyat biasa agar bisa bebas kemana saja yang dia inginkan.


Setibanya di ibu kota Vildom, Cayena pergi ke tempat perbelanjaan di ibu kota. Cayena semakin bersemangat melihat ramainya tempat dia berada sekarang, begitu banyak benda-benda dan aksesoris yang belum dia lihat sekarang dia bisa melihatnya.


Cayena mengunjungi berbagai macam toko-toko dan membeli berbagai macam benda dan aksesoris wanita untuk dia dan Ina, Cayena begitu antusias berbelanja hingga uang yang dia bawa hampir habis olehnya.


"Oh tidak!! uangku tinggal satu koin emas! Ina, bagaimana sekarang, aku brencana ingin makan makanan yang enak habis berbelanja."


Cayena tak sadar sudah banyak menghabiskan uang untuk belanja, dan ia hanya memegang satu koin emas saja di tangannya sekarang.

__ADS_1


"Nona tidak perlu khawatir, dengan satu koin emas saja sudah cukup dapat makan makanan yang enak di kota ini."


"Iya kah? dengan satu koin emas bisa dapat makanan yang enak?"


"Tentu Nona, aku tahu tempat makanan enak yang terkenal di sini, dan juga harganya terjangkau dikalangan rakyat biasa."


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo berangkat!"


Di tengah menuju tempat makan yang Ina katakan, tiba-tiba Cayena tertambarak dan terjatuh oleh seseorang yang sedang berlarian yang tidak melihat jalan di depannya.


"Ah!!!" Cayena yang kaget karena tiba-tiba tertabrak oleh seseorang dari belakangnya.


"Nona!!!" histeris Ina.


"Ma,maaf, aku tidak sengaja."


Orang itu tengah tergesa-gesa minta maaf dan membantu Cayena berdiri.


"Tidak apa-apa!" sahut Cayena.


Cayena tidak dapat melihat jelas orang tersebut karena orang itu memakai jubah hitam dan menutup kepalanya, orang itu terlihat misterius.


Cayena melihat sekelompok berseragam kesatria berlarian yang mungkin saja sekelompok kesatria itu sedang mengejar orang yang menabraknya tadi.


"Nona, apa Nona tidak apa-apa?!"


Ina kepanikan sendiri melihat Nona nya terjatuh.


"Aku tidak apa-apa, Ina, sepertinya aku butuh bantuanmu. Bantu aku hadang sekelompok kesatria itu untuk mengalihkan pandangannya, sepertinya mereka tidak melihat kita."


"Ah, eh? terus Nona?"


"Lakukan saja apa yang aku suruh, kamu jangan khawatir, aku tunggu kamu di kedai roti yang tadi kita lewati itu, oke, jangan sampai membuat masalah, berhati-hatilah."


"Dan kamu, ikut aku!"

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Cayena menyeret orang yang menabraknya itu berlarian pergi dengan nya.


__ADS_2