Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Kedatangan Cayena ke istana


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Raphaelo datang menemui wanita itu yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Wanita yang ingin bertemu Raphaelo yang tidak lain adalah Cayena Aester, dia yang melihat Raphaelo datang menghampirinya itu langsung bangkit dari duduknya dan memberi ucapan salam hormat.


"Selamat siang yang mulia pangeran."


Kebetulan hari sudah siang saat Cayena berkunjung ke istana. Dan dengan anggun Cayena memberi hormat kepada pangeran Raphaelo yang tengah berjalan menghampirinya.


"No, nona Cayena?!" Sahut Raphaelo yang kaget karena wanita yang ingin menemuinya adalah wanita itu.


Melihat reaksi Raphaelo, Cayena hanya memberikan senyuman ramahnya itu pada pria di hadapannya.


"Reaksi pangeran tadi sepertinya dia tidak menyangka kalau aku tiba-tiba datang kesini." Batin Cayena masih dalam mode tersenyum ramah.


"Menyilaukan, senyumannya sungguh menyilaukan mataku." Batin Raphaelo tengah melihat senyuman menyilaukan dari Cayena.


"Nona Cayena... Kenapa dia tiba-tiba kesini?Aku lagi tidak berpakaian rapi dan sepertinya bau amis juga ikut melekat di bajuku sekarang. Kalau tahu dia yang datang aku seharusnya mandi dulu dan berpakaian rapi, aku jadi tidak pede...!" Batin Raphaelo, ia merasa tak leluasa dengan penampilan berantakan nya di lihat oleh wanita di hadapan nya itu.


Raphaelo hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang, penampilan nya yang sedikit tidak rapi membuat ia merasa tidak nyaman dan terlihat tidak sopan menemui tamu.


Begitu hening di tempat mereka, membuat kondisi mereka sekarang jadi canggung.


"Ah, apa saya mengganggu waktu anda, yang mulia?" Ucap cayena untuk memecah kecanggungan.

__ADS_1


"Ti, tidak, aku punya banyak waktu luang yang kosong hari ini. Hanya saja... Aku sedikit tidak enak menyambut tamu dengan pakaian ku saat ini."


Dari belakang raphaelo, seorang penjaga yang mengikuti dia tengah tercengang tak percaya dengan sikap dan suara yang lembut kepada wanita itu.


"...Sejak kapan yang mulia pangeran seramah itu dengan seorang wanita." Batin seorang penjaga yang tercengang dengan sikap yang tidak biasa pada pangeran nya.


"Itu tidak masalah bagi saya, walaupun begitu yang mulia tetap tampan." Ucap Cayena terang-terangan.


Seketika Cayena tersadar akan perkataan nya yang tidak sopan dan memaki dirinya sendiri.


"Aduh, keceplosan. Kenapa aku malah mengatakan itu dengan ringan di depannya. Tapi ucapanku tadi memang tidak bohong, meskipun berpakaian tidak rapi tapi dia tetap tampan, eh tambah tampan malah, karena badannya jadi terlihat jelas... Sangat seksi." Batinnya tengah gelisah namun menikmati.


"Ap, apa? Ta, tampan?!"


"Wanita itu sungguh berani menggoda yang mulia pangeran dengan ungkapan 'tampan'. Tapi reaksi yang mulia pangeran tidak marah melainkan tersipu malu, melihat reaksi beliau, seperti bukan yang mulia pangeran saja." Batin penjaga tersebut tak percaya.


...*****...


Di lain sisi - Kediaman Marquess Izardo


"Huh, membosankan. Hari-hari hanya dilakukan untuk latihan pedang dan belajar politik yang sungguh memuakkan itu.

__ADS_1


Ingin keluar, tapi penjaga semakin ketat di rumah." Gumam Jack yang tengah terbaring di ranjang nya seraya menatap langit-langit atap.


"Ngomong-ngomong... Wanita yang pernah aku temui di ibu kota waktu itu namanya Ca.. Cayena Aester, kan. Setiap aku bertemu wanita itu aku selalu saja sial, dia juga memanggilku pria cantik dan mengatai ku sembarangan.


Aester... Aku pernah mendengar marga itu, sepertinya dia seorang anak bangsawan, tapi dia bangsawan mana?"


Jack tiba-tiba teringat dengan wanita yang pernah ia temui dua kali di perbelanjaan ibu kota membuat ia jadi penasaran akan identitas wanita tersebut.


...*****...


Di sisi sebelumnya ...


"Saya datang kesini untuk minta maaf atas ketidak sopanan saya waktu acara pesta waktu itu, mohon yang mulia dapat menerima permohonan maaf saya... Dan bunga ini sebagai tanda ucapan maaf untuk yang mulia." Ucap Cayena yang tengah memegang sebuket bunga lily di depannya.


"Itu... Bunga untuk ku?" Tanya Raphaelo seraya jari telunjuknya menunjuk pada dirinya sendiri.


"Benar, bunga ini adalah sebagai tanda permintaan maaf saya, terimalah." Cayena pun menyodorkan bunga tersebut di hadapan Raphaelo dan bertanya. "Tapi yang mulia tidak marah lagi kan?"


"Aku tidak marah dengan Nona Cayena.


Sebenarnya... Nona Cayena tidak perlu sampai minta maaf segala, tapi akan aku terima bunga ini dengan senang hati, terima kasih." Ucapnya di barengi dengan senyuman dan sembari mengambil buket bunga tersebut dari tangan Cayena.

__ADS_1


"Ya, yang mulia pangeran tersenyum? Beliau tersenyum pada wanita itu... Si, siapa sebenarnya wanita itu yang bisa membuat yang mulia pangeran menjadi seorang yang ramah dan hangat. Apa tidak apa-apa kalau aku melihat yang tidak seharusnya di lihat... Semoga tidak terjadi sesuatu padaku, entah ini hal baik atau buruk bisa melihat senyuman yang mulia terang-terangan." Batin penjaga tersebut merinding sendiri.


__ADS_2