
Matahari hampir tenggelam dan akan memasuki malam, para prajurit menelusuri jalan menunggangi kuda dengan semangat juang dan kegigihan dalam satu tujuan.
Para prajurit beriringan mengikuti jalur yang sudah ditentukan, mereka mengikuti langkah pangeran yang menjadi pemandu jalan mereka.
Barisan depan_
"Yang mulia, anda jangan terburu-buru, para prajurit kita juga ada banyak menjaga di perbatasan Hesh, mereka akan menangani sementara waktu para prajurit Mole!" Sahut Louis fan yang berada di sisi belakang Raphaelo.
"Tentu kita harus cepat sampai disana, jangan sampai memberi celah kepada para sampah Mole itu." Ujar Raphaelo.
"Tidak tahu yang mulia tergesa-gesa karena apa atau kah memang yang mulia sangat bersemangat untuk berperang..." Batin Louis fan.
"Sebelumnya aku tidak pernah begini, ada perang tentu aku sangat bersemangat, tapi sekarang kenapa pikiranku sedikit kacau dan tidak tenang." Batin Raphaelo tengah gelisah.
***
Sudah satu malam perjalanan, akhirnya mereka yang akan berperang sudah sampai di perbatasan Hesh dengan waktu yang terbilang cepat karena tidak ada hambatan di saat perjalanan.
Sebenarnya para prajurit harus bermalam di tengah perjalanan di saat malam tiba, namun sang pangeran mereka tidak mengizinkan untuk berhenti dan harus bergegas agar sampai ke tujuan dengan cepat.
Pagi buta mereka sudah sampai dari perbatasan Hesh, sebelumnya di perkiraan waktu menempuh dari jarak tempat Kekaisaran ke perbatasan Hesh akan menghabiskan waktu satu hari satu malam perjalanan, namun dengan kecepatan kuda tempur dan tanpa istirahat, mereka jadi lebih awal sampai dari perkiraan sebelumnya.
Camp perbatasan Hesh
Di dalam perbatasan ...
"Yang mulia, sebaiknya para prajurit harus diberi istirahat sebelum memulai penyerangan, waktu untuk istirahat sudah kita habiskan untuk perjalanan." Ujar Louis fan.
"Baiklah, terserah kamu." Balasnya.
Teng Teng Teng ! !
Agar semua orang siaga, suara bel pemberitahuan pun dibunyikan.
"Ada penyerangan!!" Sorak suara orang di atas menara pengintaian.
Tiba-tiba saja, ada suara bel dan laporan penyerangan dari si petugas pemantau.
"Penyerangan? Heh, negara Mole sungguh bersemangat ya!" Batin Raphaelo.
"Buat formasi, dan bersiap untuk serang balik." Ujar Raphaelo pada prajuritnya dengan lantang.
__ADS_1
"BAIK!!" Serentak para prajurit tersebut dan bergegas ke posisi masing-masing.
"Yang mulia, sebaiknya anda..." Ucap Louis fan terpotong.
"Sudah, jangan pedulikan aku, kamu atur strategi dari atas benteng, saja."
"Baik, yang mulia!"
"Para bedebah Mole, sungguh merepotkan." Gumam Raphaelo.
Pagi-pagi buta awalnya para prajurit Kekaisaran akan beristirahat sejenak, namun prajurit Mole sudah mulai beraksi untuk penyerangan dari sisi timur perbatasan, prajurit Mole memanfaatkan sisi lemah perbatasan di bagian timur dan menyerang jarak jauh dengan panah untuk mengecoh perhatian.
Melihat semangat dari prajurit Mole, Raphaelo tak tanggung-tanggung dan mulai mengikuti keinginan musuh dan memulai perang dengan taktik yang sama.
Di atas benteng perbatasan, sudah ada persiapannya senjata panah dan juga pengeboman kalau sedang darurat.
Saat ini sudah ada banyak anak panah mendarat ke satu sisi ke sisi yang lain dan berhamburan kemana-mana, anak panah dari dua penyerangan itu sudah banyak memakan korban, namun penyerangan masih berlanjut dengan sengit.
Di satu sisi dimana Raphaelo tengah memantau kondisi dan membuat taktik serang dari keadaan tertentu di atas sebuah menara kecil.
...*****...
Cip Cip Cip ...
Udara sejuk dan damai di kediaman Aester, disambut juga dengan pecicitan burung-burung di pepohonan dan bunga-bunga mekar di pagi hari yang indah.
Kediaman Aester_
Taman Tea time belakang rumah ...
"Hum... Udara di pagi hari memang tiada taranya, sejuk dan nyaman, musim panas yang aku tunggu akhirnya telah tiba!" Gumam Cayena seraya menghirup udara segar di sekelilingnya.
"Nona! Dessert dan teh yang anda minta sudah saya siapkan!" Ucap Ina yang tengah berjalan menuju ke tempat Cayena berada.
"Wah! Bagus-bagus... Kemarilah, aku ingin segera mencicipi teh dan dessert yang kau bawa." Sahut Cayena bersemangat.
"Duh... Nona tidak sabaran, ya! Apa karena teh pemberian yang mulia pangeran?"
"Tidak tuh, aku memang ingin mencicipi nya saja."
"Eeyy, Nona jangan menyangkalnya! Pangeran sungguh perhatian dengan Nona, sampai-sampai menyuruh ajudan beliau mengantarkan teh bernilai tinggi ini untuk Nona." Ucap Ina muncul jiwa gosipnya.
__ADS_1
"Fufu! Kamu melebih-lebihkan."
"Hm... Tapi teh aja masih kurang Nona, setidaknya beliau memberi perhiasan permata atau barang yang di sukai wanita, gitu."
"Kamu kira hubungan aku dan beliau itu apa? Jangan mikir yang aneh-aneh ya." Sangkal Cayena.
"Dia serius memberikan teh hitam Krangbert itu padaku sampai mengantarkan nya ke kediaman lagi, itupun pemberiannya terlalu banyak. Dia mengirimkannya begitu cepat, aku pun belum sampai rumah sudah ada teh itu berboks-boks." Batin Cayena tak percaya.
"...Dia sedang apa ya, sekarang?" Batin Cayena mengingat Raphaelo seraya melihat kejauhan.
Di sisi lainnya ...
"Tembak terus, jangan berikan celah!" Ujar Raphaelo memerintah.
"Tanganku sudah gatal ingin menebas leher para sampah Mole itu." Gumam Raphaelo tak tahantahan ingin maju menyerang dengan jarak dekat.
***
Masih Tea time di taman ...
"Teryata besok hari spesial Nona, saya tidak sabar melihat Nona memakai gaun paling cantik nantinya.
Hari ini semua orang pasti sangat sibuk untuk persiapan acara pesta besok!" Sahut Ina.
"Tidak, kok! Mungkin hanya sedikit sibuk, saja. Karena aku sudah memperingati ayah agar tidak membuat acara yang berlebihan." Sambung Cayena.
"Eh, kenapa? Kan bagus, karena acara pesta ulang tahun hanya setahun sekali, kan sayang kalau tidak dibuat megah." Seru Ina.
"Aku dari awal tidak menginginkan pesta semacam itu, itu juga karena paksaan dari ayah." Ucap Cayena.
"Hem, begitu ya! Terus berapa orang yang Nona undang?"
"Hanya beberapa teman." balasnya.
"Woah! Pasti Nona juga mengundang pangeran tampan dari putra Duke di kota Ann itu ya?" Ucap Ina antusias.
"Kamu tertarik padanya, ya?" Celetuk Cayena.
"Aha, ti, tidak! Saya hanya teringat beliau yang sangat dekat dengan anda, pasti anda mengundang beliau juga, kan? ." Sangkalnya dan balik bertanya.
"Hm, iya! ...Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Tanya Cayena yang melihat dayangnya tersenyum sumringah.
__ADS_1
Ina hanya geleng-geleng kepala seraya menahan senyumnya.
"Sepertinya, Ina tertarik dengan Grish bodoh itu, sepertinya aku harus buat tindakan!" Batin Cayena.