
"Duh~ Nona, hari ini anda sangat cantik. Sangat di sayangkan Nona bisa bersaudara dengan Nona Cayena, karena beliau dan Nona sangat lah jauh dalam hal apapun.
Terutama kepribadian anda yang sangat lembut dan baik, sedangkan beliau kasar dan wajahnya saat marah menyeramkan." Seru dayang tersebut tengah asyik membanding-bandingkan.
"Iya kah? Haha, kamu bisa aja membandingkan ku dengan kakak. Tapi seharusnya kamu tidak menghardik kakak sembarangan, meskipun sikapnya begitu tapi belum tentu dia seutuhnya jahat.
Dan juga, jangan membandingkan aku dengan kakak lagi, kalau saja omonganmu terdengar oleh telinga orang lain kamu akan dihukum berat telah mencemari nama baik keluarga Count, tapi untung saja itu adalah aku."
"...Aku percaya suatu saat nanti kakak berubah dan bersikap baik terhadap semua orang." Sambungnya lagi dengan suara yang di sayukan.
Iriena seperti matahari yang bersinar dan hangat terhadap orang yang selalu berada di dekatnya. Sikapnya yang lemah lembut dan baik hati membuat semua orang menyukainya.
"Ma, maafkan saya Nona, saya sudah lancang. Saya benar-benar tidak bisa berkata-kata dengan kebaikan Nona yang mendoakan beliau meskipun beliau sering menyiksa anda. Kebaikan dan kelembutan Nona membuat hati saya iri, Nona seperti matahari bagi saya." Ucap dayang tersebut terharu.
"Oh ya Nona, sebentar lagi Nona akan debutante 'kan. Saya sangat menantikan itu, ingin sekali melihat anda segera mencari calon pasangan. Kira-kira pasangan yang cocok dengan anda...."
"Benar juga, aku harus mengikuti debutante kedewasaan, dengan begitu aku dapat memasuki sosial kelas atas, juga mencari pasangan. Tentu saja pasangan yang cocok denganku adalah pangeran Raphaelo, tidak ada selain aku yang cocok dengan beliau, karena aku sudah ditakdirkan bersamanya." Batin Iriena berasumsi tinggi sendiri.
"Sudahlah Merry jangan berpikir begitu keras. Sebaiknya aku segera keluar karena orang-orang menungguku."
...⋆ ☫ ☫ ⋆...
"Cayena!"
"Hm. Siapa yang memanggilku langsung dengan nama? Tidak sopan."
"Cayena." Suara semakin mendekat.
__ADS_1
"Ukh, lagi-lagi. Siapa sebenarnya yang memanggilku?" Cayena semakin kesal.
"Hei, Cayena! Hei hei tidak melihat ku ya?!" Orang itu menepuk bahu Cayena juga melambai tangannya di depan wajah Cayena.
Cayena tampak kebingungan juga dibaluti kesal dan bertanya-tanya mengapa orang itu begitu berani bersikap tidak sopan terhadapnya. Ia hanya melototi orang tersebut tanpa satu katapun.
Seorang laki-laki tampak gagah dengan pakaian rapi itu mendekati Cayena dan memanggil Cayena dengan menyebut namanya langsung.
Dengan santainya di hadapan Cayena seakan dirinya mengenal dekat wanita tersebut, begitu Cayena pula masih terdiam hanya ribut bertanya didalam kepalanya.
"Siapa orang ini?! Apa aku mengenalnya? Kenapa sikapnya begitu santai. Mengesalkan. Tunggu! Bukankah itu bros lambang kesatria milik Kekaisaran?!" Batin Cayena. Ia tak sengaja melihat bros tersebut yang berada di dada laki-laki itu.
"Ah~ apa karena kaget melihatku kamu jadi syok tidak percaya. Aku juga semakin tampan jadi kamu hanya terdiam melihatku, kan? Hehehe." Ucapnya percaya diri dan bangga.
"Dia tampan? Mirip kentang goreng aku bisa memaklumi. Wajahnya yang bodoh itu. Sungguh menyebalkan." Batin Cayena terus memaki kesal.
"Aih, apa aku saja yang ingin bertemu denganmu? Tampaknya kamu sama sekali tidak merindukanku malah aku merasa aku dilupakan, haha itu tidak mungkin, kan."
"Hah? Hahaha... Kamu masih saja suka bercanda ya. Haih, aku kira kamu lupa denganku, aku tau kamu bercanda 'kan karena kamu suka begitu." Guraunya lagi, laki-laki itu masih dibilang sedikit santai.
"Tidak. Sebenarnya kamu siapa?" Jawab cepat Cayena.
Laki-laki tersebut mulai terdiam dan mengedipkan matanya dengan cepat, ia tak percaya dengan ucapan Cayena barusan dan membatu kehabisan kata.
"Apa ucapanku salah? Dia laki-laki yang malang. Tapi... Apa dia benar mengenalku?Dengan sikapnya barusan tampak alami terhadapku. Tapi dalam ingatan Cayena asli, dia tidak memiliki teman laki-laki sebaya seperti dia...
Apa mungkin di dalam novel tidak diceritakan kalau Cayena mempunyai kenalan?" Batin Cayena berpikir keras.
__ADS_1
"Haa, aku sedih! Ternyata benar-benar dilupakan, aku jadi malu. Maaf sudah menggagu, kalau begitu aku permisi." Ucapnya. Wajahnya jadi murung dan lemas, segera ia pun berpamitan.
"Tunggu! Maaf karena aku tidak bisa mengenalimu, tapi aku rasa kita pernah dekat. Maka itu namamu siapa agar aku bisa mengingatmu?"
"Tentu saja kita pernah dekat! Namaku Roland exam teman masa kecilmu, hehe. Waktu kecil kita sering main bareng lho. Terakhir kita bertemu saat umur 8 tahun, wajar jika kamu lupa."
"Begitukah?!" Ucap Cayena sambil mengingat ulang ingatannya.
"Benar, saat itu umurku yang sudah 8 tahun aku bersekolah pedang ke luar negeri, karena aku punya cita-cita sebagai kesatria Kekaisaran. Jadi aku tidak bisa menemuimu lagi pada saat itu."
"Jadi kamu saat ini sudah mencapai tujuan mu?"
"Haha benar sekali! Aku kesini karena ingin menunjukkan mu sosok ku yang sudah berhasil ini. Aku juga merindukan teman masa kecilku, hihi."
"Tapi seharusnya kamu kabari aku dulu 'kan, biar aku menyiapkan jamuan selamat untuk mu.
"Tidak perlu. Aku datang tiba-tiba karena ingin memberimu suprise, tapi ternyata kamu sama sekali tidak kaget melihatku dan malah melupakanku, haih..." Ucapnya murung kembali.
"Ha, haha.." Tawa kecil Cayena yang dipaksakan.
"Kalau begitu kamu datang dihari yang tepat, karena hari ini acara ulang tahun nya Iriena jadi banyak makanan enak-enak. Kamu juga masih mengingat Iriena bukan?"
"Masih, tapi dulu aku kurang suka padanya karena sedikit dikit menangis." Kata Roland teringat karena tak senang.
"Dia anak yang lemah lembut jadi begitulah..! Kalau gitu ayo kesana."
"Eh, tapi aku tidak diundang..."
__ADS_1
"Sudahlah, anggap saja aku mengundang mu sebagai tamuku."
"Aku masih belum mengingat ingatan masa kecil bersama Roland, sebaiknya aku pelan-pelan saja dan mengakrabkan diri lagi dengannya, karena aku tadi merasa bersalah pada nya." Batin Cayena.