Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Tekad maksimal


__ADS_3

"Haa.. Haa.." Suara napas Raphaelo yang terengah-engah seraya mengusap keringat dari wajahnya.


"Yang mulia! Hati-hati..." Cemas Louis fan.


"Sebaiknya kamu perhatikan saja lawanmu."


"Aku harus cepat-cepat mengakhirinya, dan segera pergi." Batin Raphaelo dengan tekad bulat.


"Tidak biasanya yang mulia melawan musuh begitu tergesa-gesa. Dilihat, raut wajah beliau seperti ada memikirkan sesuatu." Batin Louis fan yang mencemaskan pangerannya.


Rencana Raphaelo telah memprovokasi prajurit Mole berhasil yang membuat prajurit Mole geram dan mereka pun menyatakan perang yang sesungguhnya.


...*****...


Pukul 6:37 Sore


"Bagaimana model rambut dan sanggul bunga ini Nona, apakah sesuai selera anda?" Tanya Ina yang tengah memasang sanggul bunga plum putih di kepala samping kanan Cayena.


"Hm, terlihat sesuai juga terlihat ramah dipandang. Aku suka, kerja bagus." Ucap Cayena seraya memandang dirinya ke arah cermin.


"Wah... Ini pertama kalinya saya di puji oleh Nona, Ina sangat senang~ sekali." Ucap Ina tersenyum lebar karena begitu senang.


"Benarkah? Kalau begitu akan aku puji jika setiap kerjamu bagus nantinya." Ucapnya.


"Kalau begitu saya akan bekerja dengan lebih baik kedepannya!" Seru Ina begitu semangat.


Dress yang dikenakan Cayena tampak mewah, Cayena memilih sendiri gaun untuk dia kenakan yang berwarna biru muda dan di setiap bagian ujung dress tertempel manik-manik berlian yang berkilau dan menyilaukan mata, dress tersebut sangat lah indah yang dirancang sendiri oleh desainer terkenal dari kota Vildom.


Ia juga mengenakan sarung tangan berwarna putih untuk membalut tangannya agar tampak sepadan dengan dress yang dipakai dan aksesoris lainnya juga tidak kalah indah.

__ADS_1


Rambut merah muda yang bergelombang dan lembut nan indah dipadukan juga dengan sanggul bunga plum putih di sampingnya, membuat keserasian dan keindahan tertanam di dirinya.


"Baiklah, ini sudah cukup!" Ujar Cayena pada dayangnya.


"Kyaa! Nona begitu sang~at cantik, saya tidak menyangka sedang melayani seorang majikan yang begitu cantik bak bidadari ini!" Seru Ina sangat senang.


"Sudahlah, aku tidak suka dipuji." Celetuk Cayena.


"Haih, Nona sangat dingin. Oh ya Nona, bagaimana sebaiknya kita turun ke aula pesta? Sepertinya sudah banyak yang datang."


"Ok. Ayo kita turun, tidak baik juga berlama di kamar yang sebagai tokoh utama pesta."


Tiba-tiba suara ketukan pintu di balik pintu kamar Cayena.


"Masuk!"


"Ok. Aku juga sudah selesai." Cayena pun bangkit dan melangkah untuk keluar, disaat berpapasan dengan kepala pelayan tersebut, Cayena menepuk pelan pundak kepala pelayan itu dan berkata. "Kepada pelayan sudah bekerja keras." Setelah mengatakan itu, Cayena pun keluar dari kamarnya.


Seorang kepala pelayan wanita paruh baya yang memiliki tugas begitu padat di setiap harinya, walaupun pekerjaan nya hanya memerintah para dayang saja, namun juga dia sangat bekerja keras. Kepala pelayan juga ditugaskan untuk mengatur acara pesta ulang tahun Cayena, dan apabila tidak ada orang yang mengatur dan memerintah para dayang dengan akurat mungkin saja kondisinya tidak akan cepat selesai.


Setelah selesai berdandan, Cayena pun turun ke aula pesta untuk menyambut tamu undangan yang sudah banyak yang hadir.


Sudah banyak orang di aula pesta tersebut yang sedang menanti kehadiran sang tokoh utama pesta.


Dan Cayena yang melihat orang banyak dan dekorasi pesta yang tampak begitu mewah membuat dirinya sedikit gugup dan terdiam sejenak di atas tangga sebelum ia benar-benar turun ke bawah.


"Ini... Benar-benar pertama kali dalam seumur hidup aku yang di dunia sebelumnya maupun sekarang menyelenggarakan pesta ulang tahun yang begitu megah, jadi aku sedikit... Gerogi." Batin Cayena sedikit gemetaran.


"Nona, apa Nona baik-baik saja? Tangan Nona gemeteran..." Sahut Ina yang melihat Nona nya tampak tak baik.

__ADS_1


"Ah, aku baik-baik saja, kok. Kalau begitu ayo kita turun." Ucap Cayena pura-pura baik.


"Saya hanya mengantar Nona sampai disini, selanjutnya Nona berjalan sendiri turun ke bawah."


"Hah, apa? Aku, sendiri..an?" Cayena tercengang.


"Iya Nona, saya tentu tidak layak juga tidak diperbolehkan mengiringi Nona sampai ke aula pesta. Ini sudah ada aturannya."


"Sepertinya aku sudah bergantung pada Ina. Baiklah, ini tidak ada apa-apa nya, aku pasti bisa melangkah." Ucap Cayena di dalam hatinya.


Cayena pun menelan ludah dan meyakinkan diri untuk tidak gugup. Ia mulai melangkah dan berjalan turun tangga dengan anggun.


...*****...


"Sedikit, sedikit lagi!" Gumam Raphaelo yang tengah menebas begitu banyak musuh dengan pedangnya.


Raphaelo yang sudah bertekad dan dengan semangat nya untuk cepat-cepat mengakhiri perang, ia pun tanpa sadar sudah banyak yang telah dibunuhnya dan sekarang Raphaelo sedang berlumuran dengan darah di wajah dan baju zirahnya.


"Yang mulia begitu semangat, aku juga harus lebih semangat membasmi prajurit Mole." Batin Louis fan yang tengah beradu pedang dengan musuh dan sekelebat melihat ke arah Raphaelo yang berada jauh di tempatnya.


"Eh, ada orang yang sedang membidik panah, itu kearah yang mulia. Gawat, yang mulia tidak melihatnya! Argh... Mati kau." Geram Louis fan pada prajurit Mole yang tengah berseteru dengannya.


Tanpa disengaja Louis fan melihat di semak belukar ada orang yang diam-diam tengah membidik anak panah yang menargetkan Raphaelo. Raphaelo yang hanya berfokus pada tergetnya tidak menyadari akan dirinya yang sedang di bidik oleh seseorang di semak-semak tersebut.


Tanpa waktu lama bidikan anak panah tersebut melesat dengan cepat dan kaut menerjang angin disekitarnya. Louis fan yang melihat tersebut hanya bisa berteriak memberi peringatan pada pangerannya karena dirinya dan Raphaelo berhalangan cukup jauh.


"Yang mulia! Awas! Ada panah dibelakang!!!" Teriak histeris Louis fan dari kejauhan.


Entah, apakah Raphaelo mendengar suara ajudannya yang memberitahukan ada anak panah yang menuju ke arahnya itu karena Raphaelo sendiri tengah asik menebas musuh di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2