Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan

Aku Dan Tujuh Pangeran Tampan
Pulangnya Cayena, tangisan menerjang


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Cayena mendengar suara samar-samar dari belakang, semakin dekat suara itu terdengar jelas sedang memanggil namanya, tanpa aba-aba pria itu melaju kedepan dan berbalik menghadang mereka. Orang itu tidak lain adalah pangeran Raphaelo, dia menghadang Cayena dan Grish dengan menggunakan kudanya.


"Pangeran Raphaelo?!" gumam Cayena yang melihat dirinya sedang dihadang oleh pria itu.


"Nona Cayena, ayo pulang, banyak yang sudah terjadi di saat kamu tidak ada di kediaman Aester."


Dengan gagah pangeran Raphaelo menghadang mereka dan mengajak Cayena pulang bersamanya.


"Kenapa Raphaelo bisa ada disini dan mengajak ku pulang bersama? Sudahlah, sebaiknya aku naik kuda dengan dia saja, agar Grish nantinya tidak di salahkan saat sampai nanti." batin Cayena.


"Cayena, siapa pria itu?" bisik Grish penasaran.


"Dia...."


"Tidak ada banyak waktu, sebaiknya aku pilih yang lebih cepat saja sekarang, nanti aku baik-baik menjelaskan nya pada Grish, aku harus cepat." batin Cayena, ia tengah memandang Grish dan pangeran Raphaelo bersamaan.


"Kelamaan!"


Raphaelo tidak sabaran, ia pun mengambil paksa Cayena dari kudanya Grish.


"Cayena, kamu tidak apa-apa, kan?" ucap Grish cemas.


"Grish, aku tidak apa-apa! terimakasih sudah mengantarku, aku akan bersamanya sekarang, kamu bisa pulang atau ikut aku terserah!" ucap Cayena.


"Aku.. aku akan ikut."


"Aku tidak bisa membiarkan Cayena berada di pria itu, aku akan terus mengikuti mereka, sepertinya pria itu adalah tunangan nya!" batin Grish, dia tengah menatap lekat pangeran Raphaelo.

__ADS_1


"Baiklah, Grish."


Grish akhirnya mengikuti Cayena dari belakang, dia tidak bisa meninggal kan Cayena bersama pria tersebut.


"Siapa pria yang bersama Cayena itu, apa dia yang sudah menyelamatkan Cayena? Dia terus menatapku dengan tatapan waspada, tadi juga cara bicara Cayena pada pria itu sangat halus, tapi kalau bicara dengan ku begitu kasar, dasar wanita." batin pangeran Raphaelo.


Mereka pun melaju dengan cepat, dan sampailah mereka dari gerbang kediaman Aester.


"Buka pintunya!" perintah pangeran Raphaelo yang tergesa-gesa.


"Itu... yang mulia pangeran! Cepat buka gerbangnya."


"Eh? itu yang bersama pangeran bukannya Nona tertua?"


"Nona tertua masih hidup! cepat-cepat buka gerbangnya."


Gaduh para penjaga gerbang melihat Nona tertuanya masih hidup.


Count Roisen pula duduk di depan menyaksikan eksekusi tersebut.


"Nona Cayena.. hiks.. maafkan Ina tidak bisa menjaga Nona dengan baik, bila ini sebuah kehormatan untuk menggantikan kematian Nona, Ina tidak akan sungkan, Ina sungguh menerima hukuman ini dengan lapang, semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya." batin Ina, dirinya sudah pasrah menerima hukuman itu dengan senyuman terakhirnya untuk menyambut kematiannya.


"Putriku Cayena! Penghukuman ini adalah untuk memberimu keadilan, mereka sudah tidak bertanggung jawab atas keselamatan mu, ayah hanya ingin kamu bisa tenang di atas sana. Bila kamu mendengar ungkapan ayah ini.. ayah ingin sekali mendengar suara mu sekali saja.." pinta Count Roisen yang berharap bisa mendengar suara putrinya, Cayena.


"Sudah waktunya...."


Count Roisen mengangkat tangannya ke atas memberi aba-aba untuk memulai pengeksekusian.

__ADS_1


Suasana yang mencengkam di tempat eksekusi itu pun dibuat riuh dengan kedatangan mereka. Suara hentakan kaki kuda, membuat semua orang tertuju padanya.


"Hentikan!!!"


Teriakan Cayena membuat sang ayah mengira itu adalah pintanya yang sudah berharap ingin mendengar suara putrinya satu kali, namun suara itu terdengar lagi dengan lebih jelas.


"Aku bilang hentikan... Ayah, hentikan hukuman ini!!"


Tak tanggung-tanggung, Cayena mengeluarkan suaranya hingga titik penghabisan, dengan menunggangi kuda bersama pangeran Raphaelo.. mereka terus melaju mendekati altar tempat eksekusi berlangsung.


Count Roisen pun menanggapi suara itu bukan lagi harapannya, melainkan suara itu adalah suara nyata dari putrinya. Count Roisen menoleh ke sumber suara itu berada, dia melihat putrinya berteriak dengan sehat.


"Putriku.. Cayena!"


Dengan mata berlinang, dan suara serak, dia tidak percaya akan melihat putrinya masih hidup dan sehat.


Count Roisen yang melihat itu pun menarik kembali tangannya dan memberi perintah untuk di hentikan.


"Ina..." panggil Cayena dengan tangisan.


"Nona.. Cayena.."


Cayena pun turun dari kuda tersebut dan berlarian naik ke atas altar menghampiri Ina yang sedang terkapar di sana.


"Ina.. hiks.. maafkan aku..."


"Nona.. hamba sangat bahagia bisa melihat anda lagi, maafkan Ina juga yang tidak bisa menjaga Nona dengan baik..."

__ADS_1


Cayena tak kuasa melihat kondisi yang sangat menyeramkan dan itu pertama kalinya dia melihat hal yang mengerikan di hadapan nya. Berlinang tangisan penyesalan seorang putri Count, dia langsung memeluk dayangnya Ina. Mereka berlarut tangis bahagia dan penyesalan yang di rasakan Ina dan Cayena.


Membuat semua orang yang ada disana ikut bersedih menyaksikan tangisan mereka yang amat dalam.


__ADS_2