
Namaku adalah Riki Wiranata. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku adalah anak yang pemberani, lincah, dan periang.
Suatu ketika kami pergi berlibur ke rumah nenek akan tetapi peristiwa mengenaskan terjadi. Mobil ayah kehilangan kendali dan menabrak sepeda motor. Ayah, ibu, dan adikku tewas mengenaskan. Hanya aku yang selamat dari peristiwa mengenaskan tersebut. Aku hanya pingsan dan terdapat beberapa jahitan di kepala. Sejak saat itu aku berubah kepribadian menjadi anak yang pendiam.
Sekarang aku tinggal bersama bibi, paman dan kedua sepupuku Laura dan Franz. Seharusnya aku tinggal di rumahku sendiri tetapi, karena kerakusan keluarga ayah dan ibu membuat harta keluargaku ludes tanpa sisa.
Aku dapat perlakuan kasar dari paman dan bibiku. Maklum saja mereka membenciku dan aku menumpang di rumah mereka. Aku harus menuruti semua perintah mereka, bahkan banyak pembantu dipecat dikarenakan tugas pembantu sudah di bebankan kepadaku. Inilah awal mula hidupku dalam penderitaan.
Aku merasa sebagai manusia paling menderita di dunia. Mereka memperlakukanku seenaknya dan hidupku penuh dengan kehinaan. Aku bahkan harus menuruti perintah dari mereka jika tidak mengikuti perintah meraka aku akan diancam di usir dari rumah. Aku harus tabah menghadapi semua ini aku adalah laki-laki kuat. Semua rintangan di rumah mengerikan ini aku lewati sorot tatap benci selalu tertuju padaku.
Suatu ketika aku terpaksa berlutut dihadapan mereka karena keinginanku untuk masuk di sekolah international school. Awalnya Paman dan Bibi tidak mengijinkanku sampai akhirnya aku berlutut di hadapan mereka. "Paman, bibi aku mohon pada kalian aku ingin sekolah di International School. Aku tidak akan membebani kalian dengan biaya sekolah. Aku dapat bea siswa dari prestasiku dalam olimpiade sains."
__ADS_1
Paman mendekat dengan muka yang geram
"kau mau pamer padaku hah? kau pikir kau siapa? kau pikir kau hebat mengatakan menang olimpiade sains? kau pikir kau hebat minta sekolah di international school? ingat kau anak siapa? Ayah mu darma pemilik usah ternama itu sudah mati. jadi jangan mimpi sekolah di international school." Marah paman Aman
"Aku mohon paman, bukankah sekolah itu lekat dengan keluarga kita? paman, Ayah bahkan kakek sekolah di International School apakah aku tidak boleh?
Laura mendekat dengan wajah sinisnya
Bibi mendekat dan mulai memecah keributan. "sudah-sudah kau aku izinkan sekolah di International School tetapi jangan harap mendapatkan sepeserpun uang untuk spp dari kami."
" Baik bi terima kasih atas kemurahan hati bibi."
__ADS_1
"Sudah sana pergi bersihkan dapur!"
"baik bibi"
Aku mulai membersihkan dapur dan wajah gembira terpancar pada wajahku yang polos itu.
Akhirnya aku di izinkan juga. Ayah ibu aku berjanji akan lebih hebat dari kalian. Aku tidak akan pernah patah semangat.
paman Aman mulai mendekati istrinya "untuk apa kau mengizinkannya? Aku tidak suka anak seperti dia sekolah disitu, biarkan masa depannya hancur lebur, aku sangat membenci anak itu."
"Ntah ini mama aneh aku gak mau ya ma kalau dia satu sekolah samaku. ih amit-amit deh."
__ADS_1
Bibi Reni mulai menenangkan Suami dan anaknya. "Tidak masalah Sayang. Toh dia bakal tersiksa disana. Disana banyak anak orang kaya dia akan tertindas."