
Bel pulang sekolah berbunyi aku keluar dari sekolah dan mengendarai sepeda. Seperti biasanya aku menggoes pedal sepeda melihat-lihat suasana siang. Aku melihat dan terus melihat sampai akhirnya berjumpa dengan bibi Reni.
"Riki" panggil bibi Reni padaku. Aku tidak mengubris panggilannya karena aku sangat membencinya "Riki" teriaknya. Aku memberhentikan sepedaku karena egoku kalah dengan perasaan peduliku. "Iya bi, ada apa?" tanyaku. "Jangan panggil aku bibi! Kalau ada yang dengar bagaimana?" marahnya padaku. "Aku tidak peduli, aku tidak tinggal di rumahmu jadi aturan seperti itu tidak berlaku disini" wajahku semakin kesal. "Heh! kau!". "Bi kau hanya ingin membuang waktuku." Marahku padanya. "Diam kau!" tangannya ingin menamparku. Aku segara menepis tamparannya. "Ini tempat umum bi, apa maumu sekarang. Kau tidak punya pikiran? Sekarang aku ini adalah keponaanmu yang sudah menjadi orang asing. Jangan temui aku lagi!" Wajah bibi Reni tampak kesal karena baru pertama kalinya aku membantahnya dan melawannya.Biasanya aku selalu menerima penyiksaan darinya.
Anak ini semenjak di jual malah makin tampan, tubuhnya makin berisi dan kulitnya makin bersih. Apakah Sarah tidak pernah menyiksanya? Sarah menjadikan Riki pembantu atau apa? Kalau tau begini jadinya aku nyesal menjualnya.
Aku langsung meninggalkan bibi Reni yang ku anggap monster bukan bibi, Dia sangat kejam padaku. Aku tahu tindakanku tadi tidak sopan. Namun, apakah harus sopan kepada orang yang tidak punya hati?
Setelah sampai dirumah aku segera mengganti pakaian. Memasak sambal kentang dan menyantapnya dengan lahap. Setelah selesai makan. Aku duduk menonton televition. Rumah sementara yang diberikan samaku cukup lumayan baik.
Tok,tok,tok "Assalamualaikum" Aku segera menuju ruang tamu dan membuka pintu "Wa'alaikum salam. Ayo masuk kak!"
kak Sarah duduk dibangku teras rumah. "Dek ikut kakak yuk ke pasar tradisional!" aku berpikir cukup lama. "loh kak, bukannya kakak orang kaya mengapa beli di pasar tradisinal kak?" senyum kak Sarah melihatku "Memangnya mengapa dek belanja dipasar tradisional? bukannya kita menolong masyarakat yang masih kurang mampu?"
Aku tersenyum tipis di bibir " ternyata kakak memikirkan sampai sejauh itu?" kak Sarah menatapku lama "iya dek ayo lah kita ke pasar
untuk belanja!" Aku mengangguk
__ADS_1
Kemudian kak Sarah menarik tanganku dengan pelan menuju garasai. Setelah itu dia memanggil pak supir. Aku merasa kagum padanya. Dia sangat cantik bak model, hidungnya mancung, rambutnya lurus, badannya ideal, kulitnya halus mulus, rambutnya lurus indah tertata rapi. Tapi dia bodoh sekali, iya dia bodoh karena mencintai Adrian yang playboy dan penjilat kepala sekolah.
Aku dan kak Sarah duduk dibelakang, aku mulai melihat-lihat dari kaca jendela mobil.
"Nona kita mau kemana?" supir bertanya sambil menatap kaca sepion sebentar untuk melihat kami "ke pasar tradisional mas."
"oke nona" mobil melaju dengan kecepatan sedang "dek baru kamu loh yang kakak ajak ke pasar tradisional." Mataku berbinar indah. Aku merasa menjadi orang yang sangat spasial setelah mendengar perkataan kak Sarah yang sangat aku cintai. "sungguh?" tanyaku pada kak Sarah. "iya dek, kakak ingin sekali ngajak Adrian ke pasar tapi dia selalu menolaknya katanya joroklah, bau lah, panas lah. dia selalu menolaknya" sedih kak Sarah
"Terus apakah kakak masih mencintai Adrian"
tanyaku memastikan apakah diriku masih punya kesempatan. "Kakak masih sangat mencintainya" wajahku menunjukkan rasa kecewa namun kak Sarah tidak begitu memperhatikan. "Kak, kalau boleh tahu kapan pertama kali bertemu kak Adrian dan kapan kakak jadian dengannya?" kak Sarah tersipu malu. "Kapan kapan ya kak ceritakan" senyum kak Sarah tersipuh malu dengan pipi merah merona
Sampai lah kami ke Pasar Tradisional. Kami membeli beberapa belanjaan yang diperlukan seperti cabai, tomat, bawang, ikan, ayam, sayur-sayuran dan lain-lain. Setelas semuanya yang kami butuhkan terbeli kami masuk ke mobil dan balik ke rumah. Kak Sarah memberikan beberapa sayur-sayuran dan yang lainnya untuk diriku.
Sesampainya di rumah aku mandi, menyisir rambut dan merebahkan tubuhku karena lelah. Kemudian aku mengecek ponselku dan menelpon David.
"Assalamualaikum Vid"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam Ki, ada apa?"
"Vid ini tidak mudah tapi aku harus mengatakannya"
"Mengatakan apa Ki" David sangat bingung
"Aku mundur untuk mendekati kak Sarah. Adrian memang orang yang pantas bersama kak Sarah.
"Ki, kau tidak mengerti siapa Adrian itu, Aku mohon jauhkan kak Sarah dari Adrian demi aku. Aku mencintai kak Sarah Ki"
"Jika kau mencintai kak Sarah. Mengapa tidak kau saja yang mendekatinya? mengapa tidak kau saja yang menjadi pacarnya? mengapa harus aku? aku? hah? aku tidak mau tersakiti karena mencintai milik orang" kesalku ingin sekali ku buang ponselku tapi aku segera mengendalikan diri
"Kau tidak mengerti Ki!"
"Apa yang tidak aku mengerti hah? kau menyakitiku jika terus menyuruhku mencintainya. Disisi lain aku memang mencintainya. dan kau juga mencintainya kemudian kak Sarah tidak mencintaiku dia sangat mencintai Adrian. Apa yang harus ku lakukan Vid. Baru kali ini aku jatuh cinta. Setiap kali aku melihat kak Sarah aku merasa keluargaku hidup kembali. Tapi, melihat dia mengakui cintanya pada Adrian dihadapanku. Aku merasa sangat sesak Vid. Ku mohon berhentilah menyuruhku mendekatinya"
"Udah bicaranya Ki? Adrian itu kakak kandungku dia kakakku Ki. Dia orang yang sangat brengsek Ki, dia tidak punya akal, dia tidak mencintai siapapun, dia mencintai dirinya sendiri. Karena aku mencintai ksk Sarah aku berusaha untuk menjauhi kak Sarah darinya. Namun dia mengetahuinya, dia memukulku habis-habisan bahkan dia memfitnahku Ki. Maka dari itu aku tahu kau orang yang kuat. Getir hidupmu dapat kau lalui. Kau hebat! aku mohon jangan berhenti mendekati kak Sarah. Jika kau tidak mau menolongku paling tidak kau menolong kak Sarah. Ini demi masa depannya"
__ADS_1
David kemudian menutup telponnya sepertinya dia sangat kesal. kata-kata David selalu hinggap dipikiranku. Aku mulai mengurungkan niatku. Ini lah cinta, dimana aku harus menyelamatkan masa depan seseorang yang aku cintai.
Matahari mulai meredupkan sinarnya. Aku mulai melaksanakan Sholat magrib, setelah sholat aku menyantap makanan yang telah ku masak siang tadi kemudian belajar dan setelah itu aku sholat isya. Setelah hari mulai menunjukkan pukul 22.00 aku terlelap tidur.