
Tidak terasa jam pelajaran dimulai, Aku duduk memperhatikan pelajaran yang diberikan tidak lama kemudian bel pulang berbunyi. Aku segera menuju parkiran sekolah.
"Hei Riki! bisa kesini sebentar" senyum lembut Adrian. Baru pertama kali aku melihat dia tersenyum selembut itu, tapi aku tetap harus berhati-hati karena aku mulai paham watak dan karakter Adrian. "iya kak, ada apa?
Adrian tersenyum lepas "ikut aku ke kantor"
Waduh mengapa dia mengajakku ke kantor? Apa aku ada salah. Kejutan apa ini
"iya kak" Aku mulai mengikuti langkah Adrian, semua orang melirikku aneh akan tetapi aku tidak memperdulikan mereka hingga sampai keruangan kepala sekolah
__ADS_1
"Permisi pak!" senyum Adrian dan menunduk sopan. Kepala sekolah tersenyum "Ada apa Adrian, kemari?" Adrian membuka tasnya dan menunjukkan brosur perlombaan berenang. "Ini pak perlombaan berenang 2 minggu lagi yang diadakan di Sekolah SMA Merci". Kepala sekolah membuka brosur dan membacanya. "Pak setiap sekolah membawa 7 wakil diantaranya 4 wakil putra dan 3 wakil putri". Kepala sekolah berpikir" Apa rencanamu kali ini?" Adrian teesenyum manis dan lembut "begini pak saya sudah diskusikan bahwa yang putranya yaitu: saya, Tio, Adit, dan Riki kemudian yang putrinya Laura, Sarah dan Dini pak." Kepala sekolah tersebut berpikir dengan menatap lama diriku. "Bapak sudah sangat setuju dengan pilihanmu khusus yang putri akan tetapi tidak dengan yang putra." Adrian bingung dengan ucapan bapak kepala sekolah dia terlihat sangat kesal namun, ia berusaha menyembunyikan wajah kesalnya karena dia harus bersikap manis di depan kepala sekolah yang memiliki wibawa itu.
Dasar penjilat kepala sekolah, kau menyembunyikan wajah kesalmu itu dengan wajah manismu. batinku
Alasan bapak apa ?" tanya Adrian dengan senyumannya yang dibuat-buat. "Begini nak, bapak setuju kamu, Tio, dan Adit ikut, namun bapak tidak aetuju dengan Riki yang murid baru. Bapak saja asing melihat orang di sampingmu ini". "Pak saya jamin pak dia juga punya kemampuan." "Baiklah terserah kamu saja bapak tidak mau ambil pusing." Aku mulai mendekat dengan kak Adrian. "Kak aku tidak mau ikut, jika David tidak ikut lomba!"
"Pak saya mau merombak nama peserta putra yang ikut lomba Adit akan digantikan oleh David pak." kepala sekolah menoleh kearah Adrian "ya sudah terserah kau saja, bapak percayakan padamu segala urusan itu, sudah sana pulang!" usir kepala sekolah. Kami pun berpamitan pada kepala sekolah yang tidak mau tahu itu.
Aku dan kak Adrian berjalan menuju parkiran sekolah. "Apa maksudmu menggajak David hah?" Aku tidak berani menatapnya "dia sahabatku apa salahnya aku mengajaknya? atau kau yang pengecut" aku sedikit tertawa misterius Adrian memegang kerahku dan hendak memukulku. Tanpa kami sadari bu Dwi mendekat. "Adrian apa yang kau lakukan?" tanya bu Dwi heran. "Tidak buk hanya bercanda, sini biarku rapikan kerahmu!"
__ADS_1
Dasar penjilat guru, kau berpura-pura baik pada guru-gurumu dan kepala sekolah.
"Oh ibu pikir kalian berantam" senyum bu Dwi pada kami. "Kak Adrian lepaskan aku!" Adrian melepaskanku. Aku melangkah lebih cepat untuk sampai ke parkiran
Sial, karena demi kak Sarah aku terpaksa mendaftar lomba. ini perjuangan cinta atau bunuh diri. gumamku dalam hati
Aku menggoes pedal sepedaku mengikuti arah yang sudah ku hafal menuju rumahku. Hem maksudku rumah kak Sarah. Aku melihat lalu lalang sepeda motor dan mobil sijalan. Terkadang bunyi suara kelakson motor dan mobil. Asap kendaraan dan sinar matahari yang menyengat kulitku. Aku selalu berusaha dan berdoa walau aku bukanlah orang yang hidup senang tapi setidaknya aku masih bersyukur atas nikmat yang diberikan tuhan.
Setelah sampai di rumah aku membersihkan rumah mencuci, pakaian. Kemudian membeli berbagai sayuran ke warung untuk dimasak. Aku sudah mahir memasak karena sejak lama menjadi pembantu dirumah paman dan bibiku. Aku bersyukur ternyata kerja kerasku di rumah kak Sarah digaji tidak seperti dirumah paman dan bibiku. Terkadang aku berpikir orang lain memperlakukanku seperti saudara sedangkan saudaraku sendiri memperlakukanku seperti oramg lain atau bahkan pembantu. Terlintas dibenakku kapan aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa orang sepertiku bisa berhasil dan membanggakan
__ADS_1