
keesokan harinya aku bersiap siap untuk berangkat sekolah. Aku sudah rapi dengan seragam sekolahku. Aku mengetuk pintu kak Sarah dia lagi si tangani dokter pagi ini setelah melihat kondusinya aku keluar dan duduk di meja makan sambil memakan roti selai. Ponselku berdering di saku celana. Aku melihat nama yang menghubungiku ternyata ibu Riana mamanya kak Sarah sekaligus mama angkatku.
"Hallo Riki"
"Iya ma ada apa?"
"Riki, Sarah harus sekolah hari ini!" perintah mama Sarah yang membuatku kaget
"Ma kak Sarah masih sakit ma" ucapku menolah perintahnya
"Tidak bisa Riki tadi mama telpon guru bimbingan konseling kalian, katanya Sarah harus datang apapun masalahnya." Ada apa ini aku merasa pusing karena kak Sarah masih sangat lemah
"Tapi ma, kak Sarah masih sakit"
"Tidak ada tapi-tapian Riki, kata guru bimbingan konseling kalian, bagi siapa yang tidak masuk kelas dia akan keluar dari sekolah dengan menerima daftar hitam. Kamu tahu kan kalau sudah di keluarkan dari sekolah International School tidak ada yang mau menerimanya."
"Baik ma, mama dan papa kapan pulang?"
"Minggu depan" jawabnya cepat dan mematikan telponnya
Aku masuk ke kamar kak Sarah. Aku masih ragu untuk mengatakan ini
"Dokter, bagaimana keadaan kak Sarah?" tanyaku khawatir sekali
"Sudah lebih baik" senyumnya
"dokter kalau kakak Sarah masuk sekolah bisa tidak?"
dia menggelengkan kepalanya "belum bisa nak"
"Kenapa dek? mengapa wajahmu panik?"
__ADS_1
"Begini kak, kakak tidak mendapat ijin untuk istirahat di rumah" jawabku sedih
"dokter saya masih kuat untuk ke sekolah" pinta kak Sarah
"Iya tapi kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan sampai stres ya!"
Aku mendengar bunyi bel rumah "aku saja yang membuka pintu" aku tersenyum pada dokter Ridwan dan kak Sarah kemudian aku keluar.
"Ada apa ya pak?"
"Ini nak, kursi roda pesanan buk Riana dan ini tanda tangan dulu"
Aku menandatangani dan membawa kursi roda ke dalam rumah. Pria tadi langsung pergi meninggalkanku.
"Ada apa Riki?" tanya kak Sarah
"pria tadi menghantar kursi roda pesanan mama"
"Baiklah tugas saya sudah selesai. Sarah jaga kesehatan terutama pada psikologi kamu ya jangan stres dan masalah kaki kamu akan segera sembuh kalau rajin trapi dan pengobatan. Dokter pamit dulu"
"iya" jawab kak Sarah pelan
Aku menghantarkan Dokter sampai depan pintu rumah. Aku tersenyum padanya.
"Terima kasih dokter" ucapku dia tersenyum mengangguk dan masuk ke dalam mobil kemudian pergi.
Aku masuk ke rumah dan memerintahkan Bibi Idah untuk mengganti pakaian kak Sarah. Setelah semuanya selesai aku dan kak Sarah berangkat kesekolah.
Setelah tiba di sekolah International School aku mendorong kursi roda kak Sarah. Dia tersenyum melihatku yang sangat baik padanya. Belum sampai kelas ada saja orang-orang yang suka mengurusi urusan orang lain.
"Sarah sudah lumpuh ya hahaha" tawa kak Laura sepupuku sendiri
__ADS_1
"Iya nih, Sarah udah gak cantik lagi" ucap Moni teman sekelas Sarah dan Laura.
"Sarah katanya jabatanmu sudah dicopot sebagai sekretaris osis" Ledek Juni yang memang benar faktanya.
"Sarah Wijaya, anak terpopuler dan tercantik di SMA Internation School sekarang menjadi gadis yang lumpuh dan menyedihkan hahaha" tawa Kak Laura. Aku dan kak Sarah masih diam kami memilih mendengarkan kata-kata mereka tanpa membantahnya.
"Oh ya Sarah kau sudah di keluarkan dari sekolah ini oleh Adrian itu terbukti dari mading sekolah tapi untungnya Dika murid baru sekaligus pemilik sekolah ini melarang siapapun keluar dari sekolah ketika kedatangannya." juni menjelaskan walaupun tidak diminta
"Sarah, Selamat merasakan penderitaan" ucap Moni kemudian mereka bertiga meninggalkanku dan kak Sarah
Aku menghantarkan kak Sarah ke kelasnya dengan mendorong kursi roda miliknya. Aku tidak melihat rasa sedih di raut wajahnya tapi aku tahu betul hatinya sangat hancur saat ini.
Aku segera memasuki kelasku dengan wajah kesal bercampur marah kemudian David sebagai ketua kelas mengatakan untuk berkumpul di aula karena kedatangan murid baru yang terhormat sekaligus pemilik sekolah yang baru. Aku segera menuju kelas kak Sarah untuk membantunya ke aula sekolah. Aku melihat kak Sarah yang duduk di lantai sepertinya ada yang menjahilinya. Aku mengangkat dia untuk duduk kembali di kursi roda.
"Kak siapa yang melakukan ini semua?" tanyaku dengan nada suara tinggi
"sudahlah dek lupakan saja, ayo bantu kak untuk ke aula" dia tersenyum melihatku tapi hatiku benar-benar tenang melihat senyumannya yang begitu manis padaku. Ya ampun hatiku berdebar kencang. Aku mendorong kursi roda kak Sarah. Aku melihat banyak yang bergosip menceritakan kami. Reputasi kak Sarah di sekolah benar-benar hancur bahkan fitnah bermunculan terdengar di telinga bahwasanya kak Sarah yang mengajak Adrian untuk bolos sekolah dan kak Sarah menerima karmanya. Padahal kejadiannya bukan seperti itu.
Sampai di aula kak Sarah tidak di ijinkan masuk karena kursi roda tidak boleh masuk ke aula. Guru ini sungguh tidak manusiawi pikirku. Aku tidak kehabisan ide, aku membawa kak Sarah untuk masuk ke dalam aula. aku mengangkat tubuhnya dan kak Sarah melingkarkan tangannya dileherku. Semua guru dan murid-murid melihat aksiku. Aku melihat wajah kak Sarah dengan berjarak sekitar 15 centi meter. Aku tersenyum menatap wajahnya yang begitu cantik dan indah. Dia benar-benar ciptaan tuhan yang paling sempurna. Semua yang melihat terdiam dan melongo bingung. Aku melepaskan kak Sarah di tempat duduk yang sudah di sediakan. Aku duduk di sampingnya melihat matanya yang berbinar. Mungkin di hatinya ada ribuan terima kasih kepadaku.
Setelah semua masuk dan duduk di tempatnya masing-masing acara penyambutan murid baru sekaligus pemilik sekolah diadakan dengan meriah dan tiba pada acara intinya.
"Kepada siswa dan siswi SMA international school inilah dia Dika pemilik sekolah yang baru sekaligus murid baru. Kepada tuan Dika waktu dan tempat kami persilahkan" ucap Adrian sebagai ketua osis dan pembawa acara. Wah dia mulai ambil gerak untuk menjadi penjilat Dika pikirku.
"Hallo semua, perkenalkan saya Dika Maulana pindahan dari sekolah SMA Cinta Damai saya tinggal di alamat jalan Sari dulu rumah tersebut milik pak Tomo. Saya murid baru disini, maaf telah merepotkan semua pihak atas penyambutan saya yang begitu mewah. Saya berterima kasih kepada kepala sekolah bapak Eko dan ketua osis Adrian Mulya dan seluruh perangkat yang membantu. Demikian penyambutan saya, lebih dan kurang saya mohon maaf. Selamat pagi"
"Pagi" ucap semua serentak
Dika terlihat baik dan sopan mengapa kak Lia mengatakan dia pembenci wanita dan sangat berbahaya?
Setelah acara selesai aku kembali membawa kak Sarah untuk keluar dari aula. Rasanya sangat menyenangkan bagiku tapi aku lebih senang ketika dia seperti dulu ceria dan girang bukan seperti sekarang banyak diam dan murung.
__ADS_1