
Bel masuk berbunyi aku dan David masuk ke kelas dengan wajah yang masih sangat kesal akibat ulah ketua osis itu. Kami duduk dan memperhatikan ibu Vania menjelaskan pelajaran. Pintu di ketuk oleh guru olahraga dan dia masuk meminta ijin untuk aku dan David keluar sebentar. Ibu Vania dengan suka rela mengijinkan aku dan David untuk keluar kelas. Aku bingung apa maksud semua ini? Kami dibawa ke ruang kepala sekolah. Jantungku berdebar, apakah ini akibar keributan yang terjadi di kantin. Aku dan David masuk ke ruang kepala sekolah. Ruangannya sangat dingin dan bersih. Aku duduk di samping David dan menunggu apa sebenarnya yang terjadi. Pintu ruang kepala sekolah di ketuk. Aku melihat ada bayangan yang masuk dan ternyata itu bayangan Adrian. Hatiku makin khawatir apa maksud ini semua? Dia duduk tepat di sampingku dengan wajah sinisnya. Aku melihat kepala sekolah yang wajahnya tanpa ekspresi.
"Kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian berempat?" tanya kepala sekolah dengan lantang
"Tidak, ada apa pak?" sahut guru olahraga
"Begini pak" kepala sekolah memukul meja membuat kami semakin berdebar
"Saya hanya bercanda hahaha" tawanya memenuhi ruangan membuat aku mengelus dada lega
"Mengapa bapak mengumpulkan kami?" tanya Adrian dengan wajah tertunduk
"Adrian" senyum pak kepala sekolah padanya
"Iya pak" Adrian tampak gugup dan canggung
"Tidak sia sia bapak selalu percaya padamu" senyum kepala sekolah
"Maksud bapak?" David tampak kesal karena mendengar kepala sekolah berkata demikian
__ADS_1
"Bapak bangga pada Adrian dia pandai memilih wakil dalam lomba renang tersebut. 6 wakil kita menang dalam lomba dan hanya satu yang kalah itu pun dia tidak mengecewakan dia dapat peringkat 5. Bapak bangga padamu kemarilah Adrian!" kepala sekolah memeluknya dengan rasa bangga dan Adrian tersenyum bahagia melihat dirinya dikagumi dan dibanggakan kepala sekolah.
" Terima kasih pak, sudah jadi tugas saya untuk memilih wakil yang cocok dalam perlombaan tersebut. Kehormatan bapak segalanya bagi saya." senyum Adrian licik
"Iya nak, oh ya kepada bapak guru olahraga saya akan memberikan bapak tips uang tunai sebesar 3 juta rupiah dan kamu Adrian akan di promosikan menjadi penerima bea siswa ke luar negeri setelah tamat dari sekolah International School." kepala sekolah memberikan amplop yang di dalamnya uang tunai 3 juta rupiah pada guru olahraga kami.
"Terima kasih pak" ucap guru olahraga
"terima kasih pak, bapak saya sudah katakan Riki dan David punya kemampuan." senyum Adrian yang sangat manis sekali.
"Iya nak, bapak sangat percaya padamu. Walaupun David pernah menuduhmu memukul Riki tapi dirimu masih saja memujinya." senyum kepala sekolah bangga
"Iya pak saya sudah memaafkan David sebelum dia meminta maaf."
"Mulia sekali hatimu Adrian" senyum kepala sekolah sambil menepuk pundak Adrian dengan lembut.
Aku tampak bosan mendengarkan percakapan mereka yang tidak berguna. Walaupun Adrian kalah tapi tetap saja dia selalu dihati kepala sekolah. Iya Aku sudah tahu penjilat memang seperti itu bermuka dua depan belakang berbeda.
"Pak hanya itu kami di kumpulkan disini?" tanyaku kesal karena telah ketinggalan pelajaran.
__ADS_1
"Oh iya, kamu kan miskin disini pasti kamu iri dengan uang dan promosi yang bapak berikan pada orang ini berdua?'
Untuk apa aku iri?
"Tidak pak" aku tersenyum menyembunyikan wajah kesalku
"ya sudah sini bapak berikan kamu uang 1 juta anggap saja ini hadiah dari bapak. Memang orang miskin selalu iri seperti dirimu ini." sambil melirik ke arahku
Kepalaku sangat panas dia ingin memberi namun, menghinaku terlebih dahulu. Adrian melirikku dan tersenyum licik. David yang di sampingku memegang bahuku. Ruangan dingin di kantor kepala sekolah tidak aku rasakan lagi.
"Sudah ambil saja agar kita tidak lama disini" bisik David membujukku
"Baiklah" senyumku
Aku mendekat kepada kepala sekolah dan menerima uangnya walaupun aku benci melakukan itu.
"Betul kan apa yang bapak katakan orang miskin pasti membutuhkannya"
Aku menggepalkan tangan karena geram ingin aku pukul kepala sekolah tua bangka itu.
__ADS_1
"Pak maaf, kami harus masuk kelas dulu pak. Sudah dulu ya permisi pak." David menarikku paksa padahal aku ingin melempar uang tersebut di wajahnya untung saja David menarikku dari ruang kepala sekolah.