
Pagi hari aku mulai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah setelah pekerjaan yang menjadi kewajibanku telah selesai dilaksanakan. Aku memakai pakaian seragam International School yang diberikan tetanggaku. Aku bersyukur masih ada yang peduli terhadapku walaupun seragam yang di berikan tidak sebagus seragam yang dijual di toko.
Tanpa disangka paman aman datang dengan wajah kesal. "hei kemari! cepat kemari!!mengulurkan tangan dengan mata melotot dan muka masam. Aku tersentak dan langsung mendekat. Kau mau berangkat ke sekolah kan? jangan pernah kau berkata kepada orang-orang kami adalah keluargamu. Oh ya pergi dengan jalan kaki sana atau naik angkutan umum. Jangan harap naik mobil bersama Laura dan Franz!"
siapa juga yang mau barang kalian walaupun aku akan merasakan letih sekali pun. Aku tau dimata kalian aku sampah.
"baik paman" menjawab dengan senyum lebar tanda bahagia. "Oh ya paman jikalau mereka bertanya tentang nama belakangku sama seperti nama belakang kak Laura dan kak Franz aku harus menjawab apa? Bukankah keluarga Wiranata terpandang di kalangan masyarakat?"
Paman Aman bingung dengan pertanyaanku yang menjebak agar sebenarnya aku diakui sebagai bagian keluarga Wiranata yang terpandang.
Bibi Reni seketika mendekat "Riki Kau ini tidak punya pikiran apa? jawab saja karena kemurahan hati tuan Aman Wiranata dan nyonya Reni Damayanti sehingga aku diberikan nama belakang Wiranata dan berkat kasih sayang mereka aku dapat tinggal bersama mereka. Jawab seperti itu saja tidak bisa dasar anak bodoh" gumamnya sambil membentak.
__ADS_1
memangnya apa kemurahan hati kalian dan kasih sayang kalian kepadaku? Dasar bibi cerewet aku bukan anak bodoh lihat saja nanti aku bakal bikin kalian tercengang akan prestasiku di International School.
"Baik bibi"Bibi reni mendekat dengan dengan wajah berapi-api. "Jangan panggil aku bibi panggil aku nyoya dan pamanmu itu panggil dia tuan dan satu hal lagi Laura kau panggil Nona dan si Franz kau panggil dia tuan muda mengerti!"
seenaknya saja menyuruhku memanggil kalian begitu. Sudah lah Riki turutin saja biar cepat kelar berdebat dengan monster itu.
"Baik bi ehh maksudku nyonya. Mataku berkaca ingin rasanya aku menangis karena bentakan bibi dan teriakannya.
Dasar monster cerewet aku juga muak melihatmu terus. Seandainya ada malaikat memberikan penginapan gratis itu lebih baik di bandingkan harus tinggal di rumahmu dan menatap wajah payahmu itu.
"nyonya aku butuh uang saku!" Sambil menadahkan tangan meminta uang.
__ADS_1
Paman Aman mendekat dengan wajah kesal dan geram. Dia mengepal tangannya. "Bukankah kau telah berjanji tidak membebankan kami dengan biaya apapun?"
Sial kalian pelit sekali padahal tanganku ini bekerja keras habis-habisan disini. Makhluk terbuat dari apa lah kalian ini? Sama sekali tidak punya hati.
" Baik tuan saya akan menjalankan janji saya tapi saya mohon tuan berikan saya sepeda agar saya tidak banyak mengeluarkan biaya!"
"kauuuuu anak tidak tahu diuntung! paman Aman memanyunkan mulut tanda geram. "kan sudah aku bilang jalan kaki atau naik angkutan umum ke sekolah. Kau masih saja saya meminta ini itu."
"Cukup Riki berhenti kau berbicara aku sudah muak melihatmu berbicara." Franz menamparku.
Franz begitu bencinya kau kepadaku. Kau tidak ingat dulu kau keponakan yang paling di sayang oleh ayah dan ibuku? ini sangat sakit franz.
__ADS_1
Aku pun pergi ke sekolah dengan wajah masam dan agak sedikit sakit hati.