Aku Mencintai Kakak Kelas

Aku Mencintai Kakak Kelas
Sindiran Kak Laura


__ADS_3

Mobil David berhenti tepat di depan rumah paman dan bibi. Kak Laura tampak sinis dimimik wajahnya. Terlihat bahwa kak Laura sangat membenciku.


"Tiap hari mobil yang menghantarmu pulang berganti-ganti ya?"


"i, iy, iya nona, mereka baik padaku" senyumku pada kak Laura. "Berhenti tersenyum padaku!"


"Ba, ba, baik nona." bibirku gemetar melihat kak Laura melontarkan kata-kata tersebut.


"Dasar orang miskin bisa-bisanya kau memanfaatkan orang kaya itu untuk kepentinganmu?" aku tersentak kaget apa maksud kata-kata yang dilontarkan kak Laura.


"Maksud nona berkata begitu apa?"


"kau jangan pura-pura tidak tahu" Aku menatap kak Laura lama. "Berhenti menatapku!" Apa maksud nona sebenarnya?" tundukku di hadapan kak Laura. "Kau mendekati Sarah kan? jangan mimpi mendapatkannya!" Aku terheran dengan garis wajah menunjukkan bingung.


Maksud kak Laura apa sih? mengapa dia marah-marah tanpa sebab?


"Heh! lihat ini! kau punya uang sebanyak ini dari mana?


cuma 100 ribu di bilang banyak? sudah gila ku rasa.

__ADS_1


"Itu diberikan padaku dari tuan Franz" Wajah kak Laura merah padam sepertinya ingin meluapkan amarahnya.


"Berhenti berbohong! kau si pembuat masalah, tidak mungkin kak Franz memberimu uang. Kau jangan menipuku! kau yang mencurinya" teriak tinggi kak Laura membuat semua orang mendengarnya termasuk kak Franz.


Bibi Reni dan kak Franz mendatangi kami. Bibi Reni langsung menamparku. "Hentikan ma!"


"Dia telah mencuri uang kita Franz. Mengapa kau membelanya" kesal bibi Reni.


"Kak dia mencuri uang dari rumah ini, mengapa kak membelanya?"


"Hentikan! Aku yang telah memberinya uang, dia tidak pernah mencuri" suara kak Franz meninggi. "Oh kau sudah berani melawan mama Franz kau sudah berani berkata dengan suara tinggi begitu" Bibi Reni mendekatiku menamparku "Kau yang telah mengajarinya melawan kepadaku" bentak Bibi Reni bibirku gemetar, deg hatiku sangat sakit.


"Tidak nyonya, aku tidak pernah mengajarinya"


"Cukup ma, aku tidak tahan lagi. Sadarlah ma dia keponakan papa dan juga keponakanmu, dia keluarga kita tidakkah sedikit rasa kasihan mama padanya? ingat tidak ma waktu susah dahulu siapa yang menolong kita? Ayah dan ibu Riki ma. Mama tidak ingat dulu waktu kita susah siapa yang merawatku. ketika aku sakit dan mama tidak punya uang? Siapa yang membiayaiku? Ketika mama tidak sanggup dalam hal biaya siapa yang membayarnya? Siapa yang sudah membangun perusahaan Ayah? Siapa yang selalu ada ketika keluarga kita lagi dilanda kesusahan? Siapa ma? Siapa?"


"Cukup Franz, cukup. Jangan membelanya!"


Hati mama telah dibutakan oleh uang, sampai dia tidak ingat sama sekali pengorbanan keluarga Riki kepada keluarga kita.

__ADS_1


"Sudah sana pergi masuk kedalam rumah!" bibi Reni mengusirku dari tempat ini.


Aku mulai melangkah masuk, Aku merasa sangat sedih melihat semua kejadian ini. Hanya karena uang 100 ribu keluarga ini hambir membunuhku.


tok, tok, tok bunyi pintu kamarku.


Aku menarik handle dan membuka pintu. "Dek maafkan mama ya dek." Ucap kak Franz "iya kak, iya, aku selalu memaafkan Nyonya" "dek jika kau tidak tahan tinggal di rumah yang mengerikan ini sebaiknya kamu pergi saja, aku akan membantu biaya jika kamu memerlukannya"


"tuan, aku harus tinggal dimana? jika tidak di rumah ini?"


"Kak akan membantumu mencari tempat tinggal yang aman dan tentram bagimu"


Kak Franz keluar dari kamarku dan kak Laura melihat Kak Franz dengan wajah sinisnya.


Kak Franz ngapain di kamar Riki tadi? Aku heran dengan kak Franz yang begitu baik pada Riki.


"Kak sedang apa dikamar Riki?" tanya kak Laura heran. Kak Franz sama sekali tidak mengubris perkataan kak Laura.


Hari mulai gelap, aku belajar dengan menahan rasa sakit di pipiku akibat tamparan kuat. ingin Rasanya keluar dari neraka yang mengerikan ini. Tapi aku bingung tinggal dimana? gerutuku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2