Aku Mencintai Kakak Kelas

Aku Mencintai Kakak Kelas
mengungkapkan sesuatu


__ADS_3

Tika masih tertawa lepas melihat Lia yang mulai banyak berpikir dan membayangkan masa lalu ketika Franz benar-benar begitu perhatian padanya.


Bodoh, dasar bodoh. Batin Lia namun wajahnya mulai cemberut.


Sudah gila temanku ini, tadi begitu bahagia tapi mendadak cemberut.


"Kau kenapa?" tanya Tika yang memerhatikan wajah temannya yang mulai cemberut. "Gak cuma aneh aja."


Tika kok bisa dapat info itu? Bukannya Irfan orangnya tidak mau berbicara masalah seperti ini.


"Tika!" Tika masih berusaha menguasai tawanya. "Apa?" Lia mulai berpikir keras "Irfan kok mau menceritakan masalah ini padamu?"


Franz suka padamu kau sebut masalah, dasar aneh.

__ADS_1


"Tika gitu loh." Lia makin cemberut dan ada rasa geram dari ekspresinya. "Yuni ikat Tika!"


Yuni masih lesu namun, dia menurut dengan kata Lia dan menganngukkan kepalanya tanda mau menuruti perintah Lia.


"Heh, sakit tahu! ngapain kalian ikat aku?" sambil menggeliat untuk melepaskan ikatan. "Irfan siapamu?" Lia semakin menakutkan "Lia mengapa bertanya begitu?" Yuni heran dengan mengaruk-garuk kepalanya. "Dia menyembunyikan sesuatu dari kita" senyum Lia misterius. "Apa? Liaaaaa lepaskan aku! aku tidak menyembunyikan sesuatu" cemberut Tika. "Jawab Tika! kalau tidak air paret itu akan menguyur tubuhmu" Ancam Lia. "Lia kau tega sekali" Cemberut Tika dengan keringat yang bercucuran.


Lia kenapa sih? Batin Yuni


"Tika, kau memilih menjadi bau dibandingkan menjawab pertanyaanku? Ifran kok mau menceritakan masalah ini padamu? Irfan siapamu?" Tanya Lia kesal sekali. "Iya, iya aku ngaku. Irfan pacarku! puas kan kau Lia?" Yuni semakin lesu dan tidak berdaya. "Ha, astaga kau pacar Irfan?"


"Iya" Tika tertunduk malu karena tidak menceritakan hubungannya pada sahabatnya itu. " Kenapa sih dunia ini gak adil? masa didunia ini tidak ada satu pun orang yang suka padamu" Lia tersenyum lucu "Ada kok Yuni, tapi masih belum di lahirkan ke dunia ini." Yuni makin cemberut masam "Kalian gak asik tahu" Lia dan Tika tertawa. Kemudian kak Dini datang dan tertawa geli. "Tua, tua mainannya kok ikat-ikatan sih? hahaha. Dini tertawa keras kemudian menutup mulutnya agar tidak bising. "Awas ya kau ya Dini! Suka-suka kami dong!"


Ih perempuan tomboy itu, tidak tau diri ikut-ikutan urasan kami. gumam Yuni dalam hati.

__ADS_1


"Tidak takut kak"


Dasar aneh... ada ya makhluk kaya dia.


Dini meninggalkan kakak kelasnya yang menurutnya aneh, kemudian Lia melepaskan ikatan tali temannya itu. Mereka jalan bertiga berjajar, tebar-tebar pesona, dan kecantikan. Melihat sana sini dan menertawakan yang lucu menurut mereka. Iya terkadang orang merasa aneh melihat mereka tertawa karena hal sepele tapi mereka begitu menggemarinya.


"Lia itu Franz" sambil menunjuk padahal orangnya tidak ada. "Mana? mana? Tika mana?" seketika Lia kesal dan geram merasa tertipu oleh Tika. "Tuh kan udah mulai ada rasa?" Lia merasa lucu dengan tingkahnya tadi dan wajahnya memerah. "Lia wajahmu kok mulai merah begitu, udah mulai suka ya?" Tanya Tika meledek. "Tika, seorang Lia tidak akan jatuh cinta semudah itu!" Lia menahan senyumnya agar temannya tidak mengetahui perasaannya.


Dasar Lia, suka aja bilang! mengapa disembunyikan sih? Apa perlu aku mengikatmu dan mengancammu seperti yang kau lakukan padaku tadi.


"Alah basi! kalau kau suka sama Franz, ku cabik-cabik kau ya?" Ancam Tika dengan rasa emosional. "eh, jangan bahas kaya gini napa! Kalian membuatku iri" Ucap Yuni cemberut masam mendengar temannya bahas begitu. "Iya nih, Tika yang mulai diluan!" ucap Lia lesu dan menyalahkan Tika namun menyembunyikan sesuatu keanehan dalam dirinya. "Yuni, kau bersabarlah! pria di sekolah International School banyak, jadi berusaha lah" nasihat Tika untuk menenangkat Yuni yang terus-terusan lesu dan cemberut


Mereka langsung menuju ke kelas. Lia masih merasa lucu ketika mengingat masa lalunya, ketika Franz begitu perhatian padanya. Tapi dia malah merasa Franz hanya teman biasa. Namun pengakuan Franz tadi membuat dirinya sedikit aneh, ada rasa jantung sedikit berdebar kencang dan hati mulai luluh. Lia tidak berhenti memikirkan Franz dan sebelum nya Lia tidak pernah sama sekali berpikir tentang Franz apalagi mengingatnya. Namun sekarang Lia merasa Franz selalu terlintas dipikirannya.

__ADS_1


Dasar pikiran bodoh, Franz tadi cuma bercanda tahu, jadi tidak usah mekirin dia. Gumam Lia dalam hati menyalahkan pikirannya yang tidak terkendali.


__ADS_2