
Setelah kami latihan renang. Kami menuju GYM. Kami olahraga dibantu oleh orang yang sudah profesional. Aku, David, dan kak Dini sangat bersemangat karena kami tidak membayar uang sepeserpun alias gratis. Maklum saja karena GYM tersebut milik David Mulya. Anak orang terkaya di kota ini.
Setelah merasa cukup latihan, kemudian kami pulang kerumah masing-masing.
Aku langsung menuju rumah, memberi makan kelinci lucu dan ikan koki. Aku langsung menuju rumah membuka buku pelajaranku dan mengerjakan tugasku. Hidupku memang lebih baik dari yang dulu namun, ada rasa kerinduan terhadap keluargaku terutama pada kak Frans yang selalu menolongku.
Keesokan harinya aku bersiap menuju sekolah dengan pakaian yang bersih dan wangi. Aku berangkat mengendarai sepeda kesayanganku. Setelah sampai di sekolah, aku memarkirkan sepedaku dan berjalan santai namun ada hal yang membuatku tidak suka. Iya, ketua osis itu mendekatiku.
__ADS_1
"Hei, Riki! panggil ketua osis itu. "Apa kak!" jawabku tunduk dan mulai melihat keadaan karena jika bertemu dengannya harus sangat berhati-hati. "Waktu lombanya tinggal 6 hari lagi, apakah kau siap untuk keluar dari sekolah International School jika kau kalah tantanganku?" tanya ketua osis yang sok jago itu. Apakah kakak siap meninggalkan kak Sarah jika kakak yang kalah?" tanyaku melawan ketua osis tersebut. "Aku selalu siap Riki, wanita di dunia ini masih banyak. Tidak ada satu pun wanita yang berani menolakku. Aku kaya, tampan dan mempesona." Kemudian kak Adrian tertawa dengan sombongnya. Aku tidak seperti kau yang pengecut" Dia meludah kesembarang arah. "Kau suka kan dengan Sarah? tapi kau bodoh tidak mau mengatakan yang sejujurnya." Aku hanya membalas dengan senyuman. Aku tahu apa yang kak Adrian katakan itu memang benar adanya. Aku tidak berani menyatakan cintaku pada kak Sarah. "Riki, jangan menjadi bodoh mencintai orang lain. Cintailah dirimu sendiri. Aku punya penawaran padamu." kak Adrian melihatku dan mengelilingiku. "Kau cukup potensi untuk bergabung dalam geng kami The Troble Maker (TTM). Akan ku ajarkan kenakalan padamu namun, tetap dihormati, disegani dan dianggap sebagai orang baik. Seperti diriku ini. Guru-guru, kepala sekolah, pemerintah dan orang tuaku bahkan menganggapku sangat baik, namun mereka semua sangat bodoh. Riki, aku tahu tentang dirimu" ucap Adrian membuatku penasaran. "Apa yang kakak tahu?" tanyaku mulai penasaran. "Orang tuamu sudah lama meninggal bukan? tanya Adrian, aku mengangguk membenarkan kata-kata Adrian. "Dan kau mendapatkan penyiksaan dari keluarga Laura? Adrian bertanya namun aku hanya menunduk dan berpikir apa yang dikatakannya memang benar. "Ayo bergabung denganku, kita balas dendam pada mereka, aku bahkan akan menyerahkan Sarah padamu secara cuma-cuma karena aku tahu kau sangat mencintainya, kau tidak akan keluar dari sekolah ini. Dan kita lupakan tantangan itu!" Aku mulai berpikir.
iya, Adrian ada benarnya juga. Rasa sakit yang menimpaku sangat menyedihkan. Tawarannya sungguh sangat menarik dan bahkan dia mau menyerahkan kak Sarah untukku secara cuma-cuma. Sangat menggiurkan.
"Bagaimana? masih kurang? 2000 dolar akan kuberikan padamu setiap bulannya" ucap Adrian. Aku masih berpikir
"Masih kurang? aku akan mengangkatmu menjadi orang kepercayaanku, dan apapun yang kau minta akan ku kabulkan asalkan kau mengabdi padaku. Aku akan memberimu tahta terhebat, harta yang berlimpah dan wanita yang sangat kau cintai." senyum Adrian misterius.
__ADS_1
Aku mulai tergiur dengan tawarannya yang sangat menggoda. "Kak Adrian! bisa sedikit menjauh dari keramaian. Jika perlu tidak ada guru atau teman-teman yang melihat kita termasuk David."
Adrian mengajakku ke markasnya di belakang yang sangat tersembunyi bekas perpustakaan yang tidak terpakai. Adrian terlihat senang dan bahagia. "Kak bisa tidak teman kakak ini keluar dan cukup kita berdua saja yang tahu tentang tawaran kakak" ucapku padanya. "Kalian dengar tidak kata Riki? ayo keluar!" Teriak Adrian memenuhi ruangan.
Wahh aku bahkan sangat dihormati, dia bahkan meneriaki temannya demi aku.
"Bagaimana?" ucap Adrian lembut. Satu pukulan melesat kewajahnya dan aku menarik kerah bajunya. "Kau pikir kak Sarah itu barang ya, kau pikir aku tergila-gila dengan hartamu dan kau pikir aku tergiur dengan tahtamu itu hah?" Adrian mendorongku keras "Apa maksudmu?" Adrian mulai penasaran. "Kau sudah gila, meskipun aku benci pada keluarga kak Laura tapi aku tidak sekeji yang kau tawarkan itu. Aku lebih tergiur dengan tantanganmu dari pada menyerahkan diriku dan hidupku padamu yang gila itu." Aku keluar dari ruangan tersebut memukul pintu dengan berani dan melangkah dengan yang cepat. "Aku benci tawarannya itu. Aku tidak sekeji itu" ucapku dan hal tersebut terus teringat dipikiran Adrian. "Kurang ajar kau, tidak tahu diri. Aku akan membuatmu menderita" ucap Adrian memakiku.
__ADS_1