
Setelah kak Sarah menghantarku pulang, bibi Reni ternyata melihat mobil kak Sarah.
"oh.. pantes saja kau sering pulang lebih awal. Ternyata kau diantar?" geram bibi Reni
memangnya kenapa monster, kau saja tidak pernah memberiku uang saku.
"iya nyonya, kebetulan teman temanku baik" tundukku menandakan patuh
"Sudah sana bersihkan rumah ini, masak, dan satu lagi bersihkan gudang!"
Aku mulai mengerjakan yang di perintahkan bibi Reni, setelah selesai kak Franz melihatku kelelahan. "Riki kamu lelah ya?" aku tersenyum menatap kak Franz. "Tidak tuan Franz" jawabku penuh senyuman menutup dusta yang ku katakan. "jangan bohong! kakak tahu kamu lelah dari wajahmu" dengan menatap wajahku lama. "iya tuan aku sedikit lelah." Kak Franz mengeluarkan dompet dari saku belakangnya membuka dan terlihat beberapa uang 100 ribu dan 50 ribu. Kak Franz memberikan ku uang 100 ribu. "Nah.. Anggap saja ini gajimu."
"Tidak usah tuan saya ikhlas melakukannya" tolakku walaupun sebenarnya aku menginginkan uang itu.
Kak Franz mengulurkan tangannya meletakkan uangnya di tanganku. "Ambil saja, kau jangan menolaknya!"
"ba, baik tuan" aku menerima uang tersebut Aku langsung beranjak ke kamar menyimpan uang tadi.
Keesokan harinya, Aku berangkat bersama kak Sarah. Dia mengirim pesan pagi-pagi buta untuk menjemputku, terpaksa aku membatalkan David yang juga ingin menjemputku. Kak Sarah turun dari mobil mendekatiku dan menyapaku "Dek kau tinggal dirumah orang yang lumayan kaya. mengapa mereka tidak memberimu uang saku?" dengan suara lembut agar tidak terdengar siapapun. "Maaf kak aku tidak bisa menceritakan tentang hal itu pada kakak" "Yaudah yuk masuk ke mobil!" Setelah masuk ke mobil kak Sarah melihat Kak Laura dan Franz dari mobil "Dek itu kan Laura dan Kak Franz dia siapamu dek?"
" Hemm"
"Jawab dong dek!" Suara kak Sarah meninggi. Ntah mengapa aku ingin membicarakan kejujuran.
"Kak, berjanji lah untuk tidak mengatakan sesuatu tentang hal ini"
__ADS_1
Mobil sudah memasuki gerbang sekolah. Aku dan kak Sarah turun dari mobil kami jalan bersama "ceritakan dek, tadi kamu hanya bercerita sedikit" Rengek manja Sarah.
Wajah kak Sarah meluluhkan hatiku, Tuhan mengapa hatiku berdebar begini. Maaf monster aku tidak mau terus-terusan berbohong.
"Mereka sepupuku kak"
"Hah! sepupumu?"
"iya kak, aku tidak bohong tapi jangan tanyakan ini ke kak Laura dan kak Franz ya!.
mohonku pada kak Sarah"
"Jadi, majikanmu itu paman dan bibimu?" tanya kak Sarah penuh dengan penasaran. "iya kak ,kak keluarga itu memperlakukanku dengan sangat buruk kecuali kak Franz jadi jangan ceritakan ya kak!"
"Seburuk apa perilaku mereka padamu?" Kak Sarah makin penasaran.
Kak Sarah pergi meninggalkanku dalam keadaan kesal, ku dengar banyak gadis-gadis bergosip membicarakanku seakan-akan ada hal yang mengancamku.
Riki mengapa kau tidak menceritakan semua hal tentang dirimu aku merasa empati melihat keadaanmu. Kak Sarah
"Heh Riki! Anak miskin yang tidak tahu diri."
"Maksudnya apa ini kak?" Aku heran mendengar teriakan mereka
"Kau udah miskin, tidak tahu diri dan seenaknya mendekati Sarah"
__ADS_1
Memangnya mengapa? Aku tidak mendekatinya , justru dia yang mendekatiku. kesalku dalam hati.
"Jika kau dekati Sarah lagi, kau dapat masalah" Satu pukulan mengenai perutku sampai aku mengaduh karena sakit.
Apa ini geng The Touble Maker? Mereka kejam sekali. Aduh sakit sekali perut ini.
Ternyata kak Sarah melihat perlakuan mereka padaku. Dia berlari kecil mendekatiku "Kamu dipukul ya tadi?" maaf ya semua ini gara-gara aku." Wajah kak Sarah menatapku dengan penuh haru, air matanya jatuh di pipinya yang mungil itu. "Kak, ku mohon jangan menangis aku baik-baik saja" Aku mengusap air matanya dengan tanganku. "Maafkan aku kak telah menyentuh pipimu" aku tertunduk
"Aku tidak akan berhenti menangis jika kau tidak menceritakan tentang dirimu?" ya sudah lah kak, kakak mau nangis ya nangis aja, aku tidak peduli" Aku beranjak pergi dan tidak menoleh sedikit pun kearah kak Sarah.
Maafkan aku kak, cukup jangan kau cari tahu tentang diriku. Cukup aku yang merasakan kepedihan hidup ini, aku tidak mau kau mengetahuinya kak. Riki
Riki kenapa sih tidak mau terbuka padaku, Aku sepertinya menyukaimu. Huss pikiran aneh. aku kan sudah punya pacar. Kak Sarah
Aku melihat ponselku mengirim pesan yang isinya kak Sarah meminta maaf padaku, dia meminta aku menemuinya di perpustakaan.
Bel istirahat berbunyi aku memenuhi panggilan kak Sarah. "Riki aku minta maaf ya, ku mohon kau maafkanku. Riki berikan 1 hari waktumu untukku di hari pekan ini"
" Ti, ti, tidak, aku tidak mau!" dengan kesal kak Sarah mengancam. "Kau tidak mau ya sudah akan kuceritakan apa yang kau ceritakan padaku tadi kepada Laura." Aku geram marah, wajahku merah padam seperti udang rebus.
"kenapa sih, kakak gak mengertiin aku? Kalian orang kaya bisa seenaknya padaku yang miskin ini, kakak mau melihatku tersiksa?"
"ehh maafkan aku, ceritakan padaku tentang dirimu agar aku lebih bersyukur terhadap hidupku" kak Sarah mengeluarkan air matanya menghujani pipinya. Aku mengusap air mata kak Sarah "iya kak, akhir pekan aku berikan 1 hari waktuku . Aku mohon jangan menangis! tapi ijinkan aku pada paman dan bibi ya kak!"
"Baiklah akan kulakukan" senyum kak Sarah misterius
__ADS_1
Aku mengambil buku tentang harmonis kehidupan keluarga. Aku melihatnya dan terbayang kebahagian dulu yang aku rasakan dengan keluargaku.