
Setelah bel masuk berbunyi Lia dan Franz langsung menuju kelas. Lia yang begitu penasaran, hebatnya masih memikirkan kejadian tadi. Lia sedikit melirik kearah Franz kemudian tersenyum manis. Namun ketika Franz mulai menoleh kehadapannya. Ia langsung berpura-pura membaca bukunya.
Bel pulang berbunyi, para siswa dan siswi langsung meninggalkan kelas mereka dan menuju parkiran atau jemputan. Lia jalan menuju gerbang. Ia sedikit bingung terhadap dirinya sendiri, berulang kali Franz muncul dipikirannya.
Kenapa terus memikirkan dia? Lia tersenyum lucu sedikit memaki pikirannya yang tidak bisa dikendalikan.
__ADS_1
Jangan mikirin dia kenapa sih Lia? Toh dia belum tentu mikirin kamu. Batin Lia
.....
"Riki! Sudah lama tidak bertemu" Ucap kak Saidah dengan lirih seperti sangat merindukanku. "Iya kak sudah lama sekali" Aku tertunduk malu menatap tanah. "Iya dek, kamu jarang ke musshola belakangan ini" Senyum kak Saidah menghangatkan hati. "Iya kak belakangan ini aku sangat sibuk." Kak Saidah menggelengkan kepalanya. "Karena sibuk, kamu jarang ke musshola. Apakah kamu meninggalkan solat?" tanya kak Saidah khawatir. "Iya kak, terkadang aku meninggalkan solat" Aku tertunduk malu, aku memang belakangan ini meninggalkan solat. "Dek, kakak ingatkan padamu. Sehebat apa pun kamu, sesibuk apapun kamu. Jangan pernah meninggalkan solat!" Perintah kak Saidah dengan tenang menatapku dengan gelora mengingatkan. "Iya kak, maafkan aku kak! karena kesibukanku aku menjadi lalai mengerjakan solat."Kak Saidah malah menggelengkan kepalanya. "Dek, jangan minta maaf pada kak, minta maaflah kepada sang pencipta. Allah SWT." Aku tertunduk malu karena salah. Belakangan ini aku jarang melakukan ibadah solat. "Iya kak, aku akan meminta maaf kepada Allah SWT.
__ADS_1
Kak Saidah tersenyum dan tersipuh malu melihatku.
Dek, Kenapa kakak jadi berdebar begini? Batin kak Saidah
"Kak, mengapa kakak selalu di musshola? aku tidak pernah lihat kak di kantin" Aku sangat penasaran dengan jawaban kak Saidah. Aku menopang wajahku dengan tangan. "Kakak ingin lebih dekat dengan Allah Swt. Kakak juga harus tahu diri dek. Tidak ada yang mau berteman dengan kakak kecuali orang-orang yang sederajat dengan kakak di sekolah ini dek." kak Saidah begitu mendalam memberikan penjelasan tersebut membuatku luluh dan berpikir luasnya tiada keadilan di sekolah International School. "Aku juga seperti kakak, tapi aku tetap bergaul kak dengan mereka. Kita juga butuh pengalaman." Kak Saidah tertunduk sedih, namun tidak mengeluarkan air mata. "Dek, kakak bisa apa? kakak cuma penerima beasiswa. Kakak ingin cari aman dek. Jika kakak nekat dek, kakak bakalan dikeluarin dari sekolah. Kakak tahu dek jika dikeluarin dari sekolah International School secara tidak terhormat. Tidak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya." Aku berusaha membantah perkataan kak Saidah yang menurutku itu konyol, iya seharusnya kita menghadapi badai bukan berlindung dibawah pohon. "Kak, kita tidak ada bedanya dengan mereka. Jangan takut dengan mereka kak. Mungkin kakak suka menghabiskan waktu di mussholla. Tapi kak, perpustakaan, lab komputer, kantin dan fasilitas lain juga berhak kakak dapatkan. Kita mungkin tidak bayar spp. Namun kita juga berhak atas fasilitas disini kak. Kakak jangan takut berteman. Mungkin kak, masih ada yang mau berteman dengan kakak dikalangan mereka. Karena tidak semuanya seperti yang kakak pikirkan." Kak Saidah mulai mencerna perkataanku yang ada benarnya juga. "Iya dek, kamu benar. Kakak juga ingin memperdalam ilmu agama kakak dengan membaca buku diperpustakaan. Kakak selalu ragu untuk datang namun mendengar penjelasanmu membuat kakak tidak ragu lagi dan kakak akan berusaha bergaul dan berteman. Agar kehidupan kakak yang selama ini monoton menjadi lebih berwarna." kak Saidah mulai tersenyum. Sepertinya mendapat solusi yang amat hebat. Membentur hatinya dan menjadi sebuah semangat. "Baiklah kak, ayo kita buat kisah kita lebih bermakna." Ucapku menyemangati.
__ADS_1