Aku Mencintai Kakak Kelas

Aku Mencintai Kakak Kelas
Persiapan Perlombaan


__ADS_3

Keesokan harinya aku bangun lebih awal. Mengerjakan kewajibanku di rumah kak Sarah dan tidak lupa menjalankan ibadah salat. Kemudian aku memasak makanan dengan bahan seadanya dan menyantapnya. Dinginnya pagi, diluar masih diselimuti oleh embun pagi. Aku menatap kearah jendela melihat suasana pagi sambil menyantap makanan yang telah ku masak.


Setelah semua siap ku kerjakan, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Mengendarai sepeda kesayangaanku. Aku mulai menggayuh pedal sepeda. Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Pancaran sinar mentari yang hangat membuatku merasa sangat bersemangat. Kemudian sampailah aku di Sekolah International School.

__ADS_1


"Riki!" panggil kak Dini menyapaku


"Iya kak" sahutku padanya. Kak Dini menatapku sedikit lama kemudian dia mulai mencari bahan pembicaraan. "Emm" gumamnya padaku. "Ada apa kak?" tanyaku penasaran. "Lomba berenang tinggal bebarapa hari lagi akan dimulai, aku takut kau kalah dan dikeluarkan dari sekolah oleh Adrian." dia mengela nafas sedikit tergesa-gesa ada rasa takut bercampur sedih. "Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan tetap sekolah disini!" Kak Dini sedikit kesal padaku yang terlalu percaya diri sedangkan dia tahu betul akan kemampuanku. "Jangan terlalu percaya diri. Ingat Adrian itu siapa! dia paling ditakuti disini. Sekali saja kita berbuat kesalahan akan menanggung akibatnya." Kak Dini mulai sangat khawatir sesekali terlihat dia menggit bibirnya. "Kak aku tidak percaya diri. Akan ku serahkan semuanya pada Allah Swt. Allah yang akan membantuku." ucapku menenangkan kak Dini yang masih sangat ketakutan.

__ADS_1


Kak Dini kemudian pamit untuk masuk ke kelasnya. Aku berjalan perlahan dan membayangkan kalau seandainya aku kalah dari lomba tersebut. Aku benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah. Aku terus berdoa di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku berusaha menenangkan batinku yang sangat tersayat. Bagaimana kalau aku kalah dan keluar dari sekolah ini? tanyaku selalu di dalam hati. Aku menuju kantor sekolah, disana terdapat almari kaca. Ku lihat susunan piala yang terlihat rapi berjajar di dalam almari tersebut. Aku lihat sekilas terdapat banyak nama Adrian yang tertulis di piala tersebut. Berbagai macam perlombaan ia menangkan termasuk lomba berenang. Hatiku mulai was-was menuju detik-detik kekalahan yang menyambar batinku. Aku membuang semua perasaan buruk tersebut dan menuju kelas. Wajahku masih terlihat sangat gelisah. David terus memperhatikanku namun itu semua tidak ku perdulikan.


Sebentar lagi aku benar-benar akan berpisah padamu Vid jika aku kalah. Pikirku

__ADS_1


"Iya Vid, mungkin sebentar lagi kita akan berpisah. Kamu jaga diri baik-baik ya! Ucapku lirih karena sedih. "Jangan berkata begitu! ku mohon jangan pernah berkata seperti itu!" David menatapku dengan sedikit pancaran kesedihan dari wajahnya. "Aku tahu Vid, ini sangat berat buat kita tapi takdir mungkin berkata persahabatan kita telah selesai jika aku kalah nantinya." Aku tertunduk lesu merasa tinggal beberapa hari lagi aku benar-benar berpisah dari David. "Jangan berkata seperti itu ku mohon padamu Ki! Kita optimis Ki, aku yakin kekuatan tuhan diatas segalanya." Ucap David begitu semangat. "Doakan aku menang ya Vid, agar kita buat cerita baru di sekolah International School." saranku padanya. "Aku selalu berdoa demi kebaikanmu teman. Aku selalu berdoa untukmu!" Ucap David begitu indahnya didengar oleh telingaku. "Iya Vid, terima kasih." David memperhatikanku, seperti ada perasaan persahabatan yang begitu kuat didalam hatinya. "Pulang sekolah aku ingin kau dan kak Dini akan kerumahku. Kita berlatih disana." Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.


Terima kasih David, telah membuatku bersemangat kembali. Aku sangat bersyukur punya teman sebaik dirimu. Batinku dalam hati

__ADS_1


__ADS_2