
"sayang" teriak Adrian mengejar kak Sarah. Kak Sarah lari karena kelelahan dia berhenti, kemudian duduk di bangku taman menyeka air matanya yang terus menghujani pipinya.
"Sayang, maafkan aku!" ucap Adrian lirih
"ini bukan yang pertama kalinya Adrian kau menipuku, untuk apa lagi ada sebuah hubungan kalau aku sudah mulai tidak percaya pada dirimu" ucap kak Sarah lirik dan terlihat air mata yang terus menghujani pipinya yang mungil. dan di iringi isak tangis yang perlahan. "Aku merasa cemburu padanya, aku sangat sayang padamu. Beraninya ada laki-laki yang mendekatimu." ucap Adrian meyakinkan kak Sarah
Bohong sedikit tidak masalah. Adrian
"Adrian, Riki itu sudah ku anggap sebagai adikku sendiri." Adria geram "Bohong!"
__ADS_1
Kok malah dia yang marah. Sarah
"Hah" sesekali Sarah menyeka air matanya. "Riki mencintaimu, aku sangat cemberu padanya" ucap Adrian dengan wajah merah padam. "Tidak mungkin, kalau dia cinta padaku itu mungkin wujud cinta adik pada kakaknya, coba kau yang berada di posisiku. Adikmu yang menderita begitu. Apakah kau terima?" marah kak Sarah. "Tentu saja tidak, aku akan melindungi adikku"
Aku malah tidak peduli dengan Adikku bahkan kalau dia mati sekalipun aku tidak peduli.
"Itu lah yang kurasakan aku tidak mau adikku tersakiti" lirih kak Sarah, Adrian berusaha mengusap air mata kak Sarah dengan sapu tangan. "Hentikan biar aku saja yang melakukannya" jawab kak Sarah membuat Adrian menciut. Apakah hubungan kita akan berakhir? tanya Adrian memastikan pada Sarah. "Gak tahu, udah sana pergi tinggalkan aku sendiri." kak Sarah cemberut masam diwajahnya. "Tapi sayang aku ingin menemanimu dalam kesedihanmu itu" Adrian mencoba menenangkan kak Sarah. "Aku butuh kesendirian titik, udah sana pergi" sambil memukul tangan Adrian
Bel masuk berbunyi aku masuk kelas dalam keadaan yang sangat mengerikan, aku sakit kemudian terdapat berbagai bekas pukulan di sekujur tubuhku. Ibu Naura masuk memberikan pelajaran sesekali iya melihatku. Namun dia tidak perduli keadaanku. Guru ini orangnya sangat tidak perduli, iya hanya mengajarkan saja setelah tugasnya selesai dia masuk keruagaannya. Memang banyak murid-murid yang tidak menyukainya. Dia hanya perduli dirinya sendiri dan pekerjaannya. ini terbukti pada diriku yang lunglai dan wajahku penuh bekas luka. Dia sama sekali tidak menanyakan sedikit pun tentang keadaanku.
__ADS_1
"Diluar dugaan ya Ki" David membingungkanku. "Kenapa Vid? tanyaku penasaran. "Guru itu sama sekali tidak perduli padamu yang tampak mengerikan begini. Minimal dia tanyakan keadaanmu?" Aku menghela nafas panjang " Sudah lah Vid dia mungkin seperti itu sifatnya." David menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya dengan keras "Halah... Guru seperti itu sangat bodoh dan memilukah dia sama percis seperti kepala sekolah. " ucap David geram. "Vid tolong jangan membahas ini, lebih baik kita perhatikan saja tugas-tugas kita, fokus pada tujuan kita belajar untuk pintar dan berbuah kesuksesan".
Bel pulang sekolah berdering, murid-murid berhamburan dari kelasnya masing-masing. Menunggu jemputan atau menuju parkiran dan mengeluarkan kendaraan mereka masing-masing.
"Ki pulangnya bersama kakak ya!" kak Sarah menawarkan tumpangan. "Tidak usah kak, Riki pulang bersamaku biar lebih aman, aku akan membawanya ke dokter." David sangat kesal sekali di lihat dari garis wajahnya. "Ohhh." ucap kak Sarah meninggalkan kami
David masih marah padaku, Dia benar-benar sangat marah.
Mobil jemputan David tiba dihadapan kami. David memerintahkanku masuk ke mobil.
__ADS_1
"Ki masuk ke mobil!" ucap David. Wajah David masih sangat khawatir melihatku yang terluka begini. "iya" Aku masuk dan masih sangat lemas dan lunglai. "Pak supir, bantuin dong lihat temanku ini dia sangat kesusahan menaiki mobil" ucap David kesal karena dari tadi sopirnya hanya melihat dari kaca sepion bukannya menolong "Baik tuan"