
Pagi hari aku telah sampai di sekolah. Hatiku begitu berdebar karena hari ini adalah hari dimana perlombaan akan dilaksanakan.
"Riki, bagaimana sudah siap keluar dari sekolah International school?" ujar Adrian mengamatiku dengan senyum licik.
"Aku siap, kak Adrian apakah kau sudah siap untuk kehilangan kak Sarah?" tanyaku padanya dengan mengangkat alisku.
"Aku sangat siap Riki, wanita di dunia ini sangat banyak tidak ada satu wanita pun yang menolak diriku anak pengusaha terkaya di kota ini. Aku hanya kehilangan satu wanita tapi yang harus kamu tahu ketika aku kehilangan satu wanita ada banyak wanita yang antri untuk mendapatkanku"
"Baiklah kak Adrian" tundukku malu
"Aku tidak yakin kau menang melawanku! Riki ayo bergabung bersamaku. Aku sangat terkesan dengan kepintaran dirimu. Kita lupakan tantangan itu" Ucapnya memberi solusi
"Apakah kau takut kehilangan kak Sarah?" Aku mengernyitkan dahi
"Aku sama sekali tidak takut! Riki, aku muak sekarang. Baiklah kita perlihatkan siapa yang paling hebat!" Amarah Adrian
"Kita lihat saja nanti"
"percaya diri sekali kamu? Ingat Riki, kalau kau kalah dan keluar dari sekolah ini, sekolah manapun tidak mau menerimamu." Tawa Adrian misterius
"Orang miskin seperti diriku tidak pantas sekolah dimanapun jadi aku sama sekali tidak takut ancamanmu. Sangat hebat pun aku berenang kamu telah sating skor bukan, agar kau menjadi pemenang?" Aku menyilangkan tanganku dan melihat Adrian dengan ujung ekor mataku.
"Hahaha, kau pikir aku selicik itu? Aku bisa saja melakukan yang kau katakan itu. Tapi melihat kemampuanmu dalam berenang sangatlah buruk untuk apa aku bersusah payah melakukan itu?" Tawa Adrian misterius seperti telah memenangkan lomba saja.
__ADS_1
"Iya, aku akan kalah, selamat Adrian" Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.
"Nanti saja di depan semua orang kau lakukan seperti itu" Adrian mengibas tanganku tanda menolak dan langsung pergi meninggalkanku.
Aku berjalan perlahan merencanakan strategi apa untuk mengalahkannya. Setelah sampai dikelas jam pelajaran di mulai. Guru masuk ke kelas memberikan pelajaran. Bel istirahat berbunyi aku dan David keluar kelas dan duduk di kantin favorit kami.
"David, aku tidak yakin akan menang" Ujarku lirih membuat David tak sampai hati melihat wajahku yang penuh kesedihan.
"Jangan pasrah Riki! Ayo optimis dan tunjukkan pada ketua osis gila itu bahwa kau sang pemenang!" Semangat empat lima David berkobar.
"Iya berdoa lah untukku!" Ucapku
"Pasti" David mengepal tangannya menunjukkan rasa semangat yang luar biasa.
"Hei Riki dan David" Senyum manis kak Sarah
"Hei kak!" Ucap kami serentak
"Kalian sudah mempersiapkan diri dalam perlombaan renang ini?" David masih melirik tipis dan melanjutkan menyantap makanannya dan menampilkan wajah tidak suka.
"Kami sudah mempersiapkannya kak, berdoa lah agar kami menang kak!" Senyumku
"Kakak sudah mendoakan kalian agar menang, tetapi kakak berdoa agar Adrian bisa juara satunya." Tertawa kecil kemudian tersenyum manis.
__ADS_1
"Sudah ku duga" Ucap David lantang bahkan tidak tergoda dengan senyuman kak Sarah biasanya dia sangat menyukai senyuman kak Sarah atau mungkin dia sudah mencintai orang lain? entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu.
"Apa yang kamu duga dek? Kak Sarah menatap David penasaran menggeser kursi kemudian duduk dan memegang pipinya.
"Iya sudah ku duga kalau kakak lebih mendukung pacar kakak yang aneh itu" Ucap David dengan berani.
"Iya kan kakak dukung pacar kakak. Memangnya itu sebuah kesalahan?" Tanya kak Sarah heran dan terus memperhatikan.
"Ayo pergi dari sini! Aku sudah kehilangan selera untuk makan disini!" David menarik lengan bajuku.
"David, kendalikan dirimu bukankah dia pernah kau cintai? mengapa kamu kasar begini?" tanyaku heran dengan berbisik di telinga David.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi, semenjak dia lebih membela orang yang paling aku benci di dunia ini" Bisik David kepadaku.
"Kalian menceritakanku ya?" Ucap kak Sarah cemberut
"Tidak, tidak kak, kami tidak menceritakan kakak. David moodnya lagi tidak bersahabat mohon kakak lebih terbiasa ya?" senyumku
"Oh begitu, ayo duduk lagi aku mau cerita sesuatu!" Senyum kak Sarah imut dan penuh pesona.
"Ayo David kita duduk lagi" senyum manis yang ku buat-buat.
"Ah, tidak mau" Bisik David padaku
__ADS_1
Aku mengernyitkan dahi kemudian David tahu betul maksud isyaratku itu. Dia duduk dengan tenang walaupun perasaan hatinya tidak suka.