Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch 11 - Momen (Part 2 )


__ADS_3

Ch 11 - Momen (Part 2 )


Di dalam kota, mereka tidak menemukan satupun penduduk yang tinggal di kota itu. banyak puing-puing bangunan mereka temukan. dan juga, mereka menemukan peralatan komunikasi, yang mereka yakini sebagai alat komunikasi pasukan atla ke-300.


"I-ini, sepertinya ini adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi," ucap albara, dengan merasa keheranan.


"Ha? apa kau menemukan sebuah benda?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Benar, aku menemukan benda ini di salah satu puing-puing bangunan ini. aku merasa jika benda ini bisa digunakan," ucap albara, dengan merasa yakin.


"Be-benarkah?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"itu hanya menurutku. untuk bisa mengetahuinya, kita harus menggunakan benda ini," ucap albara.


Albara menyalakan alat komunikasi itu. ia memangil seseorang lewat alat itu. sepertinya, alat itu berfungsi dengan sangat baik.


"Hah, berhasil," ucap albara, dengab merasa senang.


"Be-benarkah? apa kita bisa meminta bantuan lewat benda ini?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Tentu saja, tetapi kita harus menunggu," ucap albara.


Albara berhasil menelepon seseorang lewat alat komunikasi itu. setelah beberapa saat, terdengar seseorang mengatakan sesuatu lewat alat itu.


"Hallo, apa kau dengar dengan apa yang aku katakan?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Cepat ... Seet, Ada monster ... Seet," ucap penerima panggilan telepon itu.


"Ha? cepat, monster,? apa maksudnya?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Hallo? apa yang sedang kau bicarakan, apa kau dengar?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Pergi ... gedung ... sekarang!" ucap penerima panggilan telepon itu."


Dengan merasa kaget, albara langsung memegang tangan alisya. ia mengjak alisya berlari untuk masuk ke sebuah gedung dekat ia melakukan panggilan telepon.


"Alisya, cepat kita masuk ke gedung ini!" ucap albara, dengan merasa khawatir.


"Ha? a-ada apa?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Cepat ikut saja," ucap albara.


Krek ...


Mereka membuka pintu sebuah gedung. mereka masuk dan berlindung di dalam gedung itu. setelah mereka berlindung, terdengar ada puluhan ledakan besar terjadi di luar gedung itu.


Duar ...

__ADS_1


Setelah beberapa saat, ledakan itu tidak lagi terdengar. mereka selamat dari ledakan itu.


"Huh, tadi nyaris saja," ucap albara, dengan merasa lega.


"Alisya, apa kau baik-baik saja?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


tetapi, alisya terlihat sedang memeluk albara. ia merasa sangat ketakutan dengan ledakan itu.


"Huhuhu, albara apa kita berhasil selamat? a-aku sangat takut," ucap alisya, dengan merasa ketakutan.


"Heh ... tenang saja alisya, kita sudah berhasil selamat dari ledakan itu. kau tidak perlu takut lagi," ucap albara, dengan merasa senang.


dengan merasa sedikit lega, alisya berkata,"Albara ... a-aku ... terimakasih karena sudah menyelamatkanku,"ucap alisya, dengan merasa gugup.


"Hehe, tidak masalah. tapi, apa kau bisa ... hehe, " ucap albara, dengan merasa keheranan.


Alisya menyadari jika ia memeluk albara, ia menjadi sangat malu.


"Heh ... a-aku, maafkan aku. a-aku tidak sengaja, a-aku benar-benar minta maaf," ucap alisya, dengan panik.


"Tidak masalah, sekarang yang harus kita pikirkan ... Kenapa tiba-tiba ada sebuah ledakan besar di kota ini?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Aku juga tidak tau. apa mungkin ada seseorang yang sengaja ingin meledakan tempat ini," ucap alisya, dengan merasa gugup.


"Seseorang? itu mungkin saja. tetapi untuk apa seseorang ... ingin meledakan tempat ini?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Itu tidak mungkin ... itu tidak mungkin terjadi," ucap albara, dengan merasa percaya diri.


"Heh? a-apa perkataanku salah?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Benar, pertama, kita belum memiliki musuh. kedua, untuk apa mereka menyerang kita dengan ledakan sebesar itu, jika mereka menginginkan setengah batu yang bisa membawa kita menjelajahi kota yang hilang, kenapa mereka meledakan tempat ini . ketiga, kenapa mereka bisa tau kita berada di tempat ini," ucap albara, dengan merasa perkataanya benar.


"Heh, a-apa kau yakin jika tidak ada yang menginginkan setengah bagian batu itu?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Tidak ... tetapi, oh ya, aku baru ingat ada seseorang yang menginginkan batu ini. dia seorang gadis ... sepertinya dia mengetahui siapa diriku ini. mungkin diayang sudah meledakan tempat ini," ucap albara, dengan merasa percaya diri.


"Hehe, mungkin perkataanmu ada benarnya juga," ucap albara, dengan merasa senang.


"Huuh ... tadi kau mengangap perkataanku tidak benar. jadi sekarang kau mengangap perkataanku benar. aku kesal kepadamu, " ucap alisya, dengan merasa kesal.


"Hehe, Gawat, sepertinya dia marah kepadaku? bagaimana cara membujuk dia supaya bisa memaafkanku?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Hehe, aku akan berusaha!" ucap albara, dengan merasa percaya diri.


Dengan merasa keheranan, alisya mendengar perkataan albara. ia berkata,"kau akan berusaha untuk apa?" tanya alisya, dengab merasa penasaran.


"Agar kau bisa memaafkanku! Sekarang ... AKU MOHON KEPADAMU! MAAFKAN AKU," ucap albara, dengan merasa percaya diri.

__ADS_1


Tiba-tiba, duar ...


"Alisya, Awas!" ucap albara, dengan merasa khawatir.


"ha?" tanya alisya, dengan merasa keheranan.


Duar ...


Ledakan besar terjadi. puing-puing bangunan berjatuhan tepat di tempat albara dan alisya berlindung.


tetapi, beruntung alisya berhasil selamat berkat bantuan albara. alisya merasa sangat kagum dengan albara.


"Alisya, apa kau baik-baik saja?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Aku baik-baik saja. i-ini semua berkatmu," ucap alisya, dengan merasa gugup.


Alisya melihat albara sedikit terluka. tetapi beruntung luka itu tidak parah. alisya merasa bersalah karena sudah membuat albara terluka.


"Albara, kamu terluka. apa aku bisa mengobati lukamu?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"hehe, ini hanya luka kecil. aku baik-baik saja kok," ucap albara, dengan merasa percaya diri.


"albara, kamu jangan seperti itu. a-aku ingin mengobatimu karena sudah menyelamatkanku. a-apa kau tidak membiarkan aku untuk membantumu?" tanya alisya, dengan merasa gugup.


"Membantuku? em ... baiklah, kau boleh mengobati lukaku," ucap albara, dengan merasa senang.


"Aku akan mengambil obat. setelah itu aku akan mengobatimu," ucap alisya, dengan merasa gugup.


Setelah mengambil obat, alisya mengobati albara dengan sangat hati-hati.


"Albara, apa terasa sakit luka ini?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Hehe, luka ini tidak terasa sakit karena kau sudah mengobatinya. alisya, terimakasih," ucap albara, dengan merasa senang.


"Sama-sama," ucap alisya, dengan merasa gugup.


"Alisya, a-apa kau ... " ucap albara, dengan merasa penasaran.


"Emm ... baiklah, aku memaafkanmu," ucap alisya, dengan merasa senang.


"Be-benarkah? a-apa kau serius?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Em ... tentu saja. kau menyelamatkanku tadi. a-aku merasa senang karena kau menyelamatkanku," ucap alisya, dengan merasa gugup.


"Aku sudah berjanji untuk melindungimu. oleh karena itu, aku menyelamatkanmu," ucap albara, dengan merasa senang.


"Albara, terimakasih," ucap alisya, dengan merasa gugup.

__ADS_1


(Bersambung ... )


__ADS_2