Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch. 40 - Keadaan


__ADS_3

Ch. 40 - Keadaan


Kekacauan yang terjadi di utahara, membuat jenderal fe merasa sangat kecewa kepada bawahanya. ia mengadakan pertemuan dengan tuan putri leona beserta bawahanya di kota negara skar.


Para perwira militer berkumpul dari pihak negara skar maupun dari pihak negara atlan. tidak lama kemudian, putri leona datang, ia masuk ke dalam ruangan itu ditemani oleh pengawalnya.


Ia disambut baik oleh jenderal fei, jenderal fe menyapa,"Tuan putri ... silahkan duduk. saya sudah lama menunggu anda."


Tanpa megucapkan sepatah katapun, Putri leona duduk. dengan merasa sangat tenang, ia kemudian berkata,"Jenderal fei ... Langsung saja pada intinya, kenapa kau memanggil kami untuk mengadakan pertemuan ini? apa ada masalah lagi?"


Jenderal fe menjawab,"Tuan putri ... seseorang sudah menerobos wilayah utahara, seorang intelijen dari negara anda juga membuat kekacauan dengan membuat ledakan besar di sekitaran hutan pemanah. kami sangat tergangu dengan itu, puluhan tentara dari negara kami terluka dibuatnya."


Putri leona memperhatikan jenderal fe, ia sangat tenang saat mendengar itu. wajahnya terlihat serius, ia menghela napas dan menjawab,"Jadi ... Untuk apa aku meminta intelijenku untuk kembali ke wilayahku? jika dia memang berasal dari negaraku, seharunya kalian bisa mengatasi masalah ini sendiri, kenapa harus meminta bantuanku."


Jenderal fe sangat kesal mendengar jawaban itu, ia mengepalkan tanganya dan berusaha menahan diri untuk marah. putri leona mengetahui jika jenderal fe marah, dengan merasa sanat tenang, ia menjawab,"Sepertinya kau marah, melihat tingkah lakumu, aku sudah bisa menebaknya."


Jenderal fe tidak bisa menahan diri, ia berdiri dan berkata,"Tuan putri! anda sudah keterlaluan! apa anda ingin perang terjadi antara dua negara besar? anda harus menjaga perkataan anda! jangan melewati batas!"


Putri leona berdiri, dengan tenang ia menjawab,"Justru anda yang sudah melewati batas. pertemuan ini hanya memperburuk keadaan, kau juga terlihat sangat marah. pertemuan ini hanya sia-sia."


Jenderal fe geram, ia memperhatikan putri leona sambil mengepalkan tanganya. dengan merasa sangat kesal, ia kemudian berkata,"Kau! apa kau ingin perang terjadi? apa ka-"


Putri leona menyela, ia berkata,"Jika kau ingin perang terjadi. maka aku negara atlan siap berperang melawan negaramu. pengawal, ayo kita pergi. ini hanya buang-buang waktu saja."


"Baik tuan putri."


Tap tap tap ...


Mereka keluar dari tempat itu. pertemuan itu hanya semakin memperburuk keadaan. putri leona sepertinya sangat mendukung albara. ia dikenal sangat tenang saat menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


Seorang perwira merasa khawatir, ia berkata,"Tuan putri ... apa mereka tidak akan marah jika anda mengatakan itu? apa perang akan segera terjadi?"


Putri leona memperhatikan perwira itu, dengan tenang ia menjawab,"Kau tidak perlu khawatir. ini semua sesuai perhitunganku ... perang tidak akan terjadi, mereka harus meminta izin kepada pemimpin mereka untuk memulai perang."


"Tapi tuan-"


Lona menyela, ia berkata,"Kauu percayalah kepadaku. apa kau meragukan keputusanku?"


"Tidak tuan putri, maafkan saya."


Tap tap tap ...


Sementara itu, diwilayah utahara ... terlihat albara melihat sebuah desa dikelilingi benteng tepat depanya. ia memperhatikan desa itu dan menyadari jika desa itu adalah desa dimana komandan Qing bersama pasukanya bersembunyi.


Ia mendekat dan berkata,"Aisten ... apa kau bisa menggunakan senjata?"


Alisya merasa keheranan, ia menjawab,"S-senjata? em! tentu saja ... aku selalu diajari ayah cara menembak."


Alisya tersenyum, ia menjawab,"Em! aku setuju ..."


Ckiitt ...


Mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk desa itu. pintu itu tertutup, seorang tentara keluar dan berkata,"Hoi kalian ... untuk apa kalian datang ke desa ini? apa yang kalian inginkan?"


Albara menjawab,"Paman ... kami datang untuk menemui komandan Qing. kami tau dia berada di desa ini, cepat buka pintu gerbang ini, sekarang!"


Tentara itu tertegun, ia kaget menyadari jika albara mengetahui informasi mengenai komandan Qing. dengan merasa sangat gugup, ia menjawab,"I-ini ... dimana kau mengetahuinya? kenapa kalian bisa tau jika komandan Qing berada di desa ini?"


Albara merasa senang, ia menjawab,"Paman ... mudah saja, kami mendapatkan informasi itu dari seorang intelijen! cepat katakan jika aku datang mencarinya, ini mengenai putri rein."

__ADS_1


Tap tap ...


"Kenapa dengan adiku? untuk apa kau ingin bicara denganku orang asing!" Tiba-tiba, komandan Qing datang dan menanyakan itu. ia memperhatikan albara dan merasa curiga kepadanya.


Albara terdenyum, ia turun dari mobil bersama dengan alisya. albara berkata,"Komandan Qing ... kebetulan sekali, tenang saja, aku bukan musuhmu. kita dipihak yang sama, percaylah."


Alisya dengan gugup ia berkata,"Komandan Qing, aku adalah asistenya. kami datang untuk menemuimu."


Komandan Qing memperhatikan albara, ia juga memperhatikan alisya dan menatap mereka. albara dan alisya gugup saat dilihat seperti itu, dengan merasa gugup albara berkata,"He-hei ... bisakah kau berhenti melihat kami seperti itu. apa kau tidak percaya kepada kami?"


Komandan Qing menjawab,"Aku sebenarnya tidak percaya kepada orang asing seperti kalian, terutama gadis yang kau bawa itu. untuk apa kalian membawa senjata? kalian telihat sangat mencurigakan."


Albara merasa khawatir, ia berkeringat begitupun dengan alisya. albara kemudian berkata,"Jadi?"


"Jadi ... karena kalian mengetahui sesuatu mengenai adiku. maka, tidak ada pilihan lain selain mempercayai kalian. masuklah ..." Qing dengan terpaksa harus mempercayai mereka. ia merasa sangat mencurigai albara begitupun dengan alisya, ia akan selalu mengawasi mereka.


Albara dan alisya merasa senang, mereka kemudian masuk ke dalam desa itu. komandan Qing mengajak mereka untuk membicarakan masalah itu di sebuah ruangan.


Dengan merasa sangat khawatir, komandan Qing berkata,"Kalian! cepat katakan dimana rein berada! katakan semua informasi yang kalian tau!"


Albara tersenyum, ia menjawab,"Tidak semudah itu, apa kau pikir aku akan mengatakanya semudah itu?"


Komandan Qing merasa sangat kesal, ia berdiri dan berkata,"Jika begitu! untuk apa kalian datang ke desa ini dan mencariku?!"


Albara tersenyum, ia menjawab,"Tenanglah Komandan Qing, kau tidak perlu seperti itu. jika aku bilang rein dibawa oleh mereka ... apa kau akan percaya kepadaku?"


"Dasar kau ini!" Tiba-tiba, komandan Qing memegang dagu albara. ia merasa sangat kesal dan memperhatikan albara. Alisya tidak tinggal diam, ia mengambil senjatanya dan membidik Komandan Qing.


Ia berkata,"Cepat lepaskan tuan! aku tidak akan membiarkanmu untuk menyakitinya! aku sudah berjanji menjadi pengawalnya! jika kau berani menyakitinya ... aku tidak aka mengampunimu!"

__ADS_1


Keadaan di tempat itu semakin memburuk. komandan Qing, ia sangat kesal kepada albara dan alisya. entah apa yang akan terjadi setelah ini? begitulah yang mereka pikirkan.


Bersambung ...


__ADS_2