
Ch. 54 - Pengendali ke-1
Ketegangan terjadi di dalam ruangan itu, terlihat lia memegang pedangnya dan bersiap untuk menyerang rena.
Ia dengan sedikit kesal ingin mencoba menyerang rena karena curiga dialah pelaku dibalik kejadian itu. ia memejamkam matanya dan fokus untuk menyerang satu target yaitu rena.
"Kakak ... jangan menyesal karena kau akan dikalahkan olehku. walaupun kau sudah membuat banyak keributan, aku tetap diam saja ... tetapi kau sudah melewati batas, bersiaplah untuk menerima serangan ini!"
Ia mengumpulkan energi dari sekitar tempat itu. ia fokus memperhatikan pergerakan rena sekaligus akan fokus menyerangnya.
"Heh ... tapi sayang sekali kau tidak akan bisa melakukan itu. tenang adikku, jangan membuat kesalahan dengan menyerangku ..."
Rena tersenyum melihat amarah yang ada di dalam diri lia kepadanya. ia merasa lia sangat menarik perhatianya sekaligus senang ia bisa melihat lia yang begitu membencinya.
"Heh ... Konflik berkepanjangan antara kakak dan adik? Apa di tempat seperti ini akan ada pertarungan sesama pengendali? em ... siapakah yang akan menang ya? hehehe ..."
Yuna duduk di sebuah kursi yang ada di tempat itu. ia dengan santai menonton kejadian itu tanpa peduli kepada mereka sesama pengendali. ia terlihat sangat tertarik dengan pertarungan itu.
"Lia ... tenangkan dirimu. walaupun kau adalah teman baikku, aku minta jangan menyerangnya, itu akan membuat kau kesulitan! jangan membuat keributan di istanaku!"
Putri leona berusaha keras untuk menghentikan pertarungan itu. ia mendesak agar lia tidak menyerang rena karena ia sangat mengkhawatirkan mereka.
"Leona? kau ... tapi dia sudah ..."
Lia tampak kebingungan dengan perkataan putri leona, ia terlihat sangat kesal karena harus menghentikan serangan itu.
"Heh ... kenapa berhenti? ayo lanjutkan, apa kau ingin membiarkan dirimu dipermainkan seperti itu lagi? hehehe ..."
Yuna memprovokasi lia agar membulatkan tekatnya untuk menyerang rena. ia tampak sedikit kecewa mendengar perkataan lia yang terlihat ragu-ragu saat mengatakan itu.
"Putri yuna! apa maksud dari perkataanmu itu? kau ingin teman baikku bertarung melawan putri rena? apa kau ingin terjadi keributan di tempat ini? jaga bicaramu!"
Putri leona berdiri, ia tampak marah saat mengatakan itu dan mendesak agar yuna tidak memprovokasi mereka.
__ADS_1
"Heh ... apa kau keberatan? berbulan-bulan kita tidak mengadakan pertemuan. tetapi sekarang kita 4 pengendali sudah berkumpul, aku sangat penasaran dengan kekuatan yang kalian miliki, aku ingin melihat kemampuan kalian ... dan apa kau marah karena aku berusaha agar mereka bertarung?"
Yuna berdiri, ia memperhatikan putri leona dengan wajah yang dingin. ia tampak serius dengan perkataanya. ia ingin agar mereka bertarung supaya dia bisa melihat kemampuan mereka.
"Putri leona ... kalau kau ingin pertarungan, maka lawan saja aku! jangan memprovokasi mereka, lawanlah aku jika kau berani!"
Srung ...
Putri leona menarik pedangnya, ia tanpa ragu berusaha mengancam agar yuna segera menarik perkataanya yang membuat ia kesal. ia dengan tenang menggertak yuna dengan wajah datar.
"Heh ... walaupun kau pengendali ke-4, tapi kau berani juga melawan pengendali ke-2 seperti diriku? hm ... ini akan semakin seru ..."
Srung ...
Yuna membalas dengan mengangat pedangnya sambil memperhatikan pergerakan putri yuna. ia sangat tertarik dengan pertarungan yang akan terjadi.
"Hehe ... aku adalah seorang tuan putri yang dipercaya oleh seluruh rakyatku untuk memimpin negara sebesar ini ... mana mungkin aku takut kepadamu, tugas seorang pemimpin jauh lebih sulit. walaupun itu aku akan berhadapan dengan pengedali dengan posisi 2 terkuat antara 7 pengendali, maka aku tidak akan ragu menyerang dengan sebilah pedang yang aku pegang saat ini."
Ia adalah seorang yang dipercaya oleh seluruh rakyatnya untuk menjadi seorang pemimpin di negara atlan. dengan rasa yang berani, percaya diri, dan juga beribawa, putri leona tidak ragu meski lawannya adalah seorang pengendali terkuat di urutan ke-2, karena ia sudah terbiasa menghadapi masalah seperti itu.
"Cukup omong kosongmu, akan aku hadapi kau sekarang juga. aku menerima tantanganmu itu!"
Ketegangan semakin memanas bagaikan api disiram bensin begitulah situasi yang mereka sedang rasakan di dalam ruangan itu. para pengendali yang seharusnya bekerja sama malah saling bertarung membuktikan siapa dari mereka yang lebih kuat.
Buak ...
"Uhuk ..."
Yuna, dan lia menerima serangan mendadak oleh seseorang. mereka berdua diserang oleh pasir yang entah berasal dari mana.
Brug ...
Mereka terpental akibat menerima serangan itu dan menabrak dinding ruangan itu.
__ADS_1
Duar ...
Terlihat kabut tebal bermumculan setelah mereka menabrak dinding itu.
"Kenapa ini bisa terjadi? siapa yang berani menyerangku?"
Putri yuna sangat kesal melihat dirinya diserang secara tiba-tiba oleh seseorang. ia dengan kesal keluar dari kabut itu tanpa terluka sedikitpun.
"Pengendali yuna, tenangkan dirimu ... kau sedang berhadapan dengan pengendali ke-1 yang terkuat diantara semua pengendali!"
Sesosok pria tua muncul di tempat itu. pada saat ia muncul, cahaya matahari menyinarinya. ia terlihat tidak asing di mata mereka. ia dikenal dengan nama, syah se.
"Pengendali ke-1 ... kau datang pada saat yang tepat. aku tidak sia-sia menunggu kedatanganmu ..."
Putri leona memperhatikan kedatangan syah se ke tempat itu. ia dengan senang menyapa syah se dengan tulus tanpa ada kebencian.
"Aku juga senang bisa melihat kalian bersama. putri leona ... mengapa kau senang dengan kedatanganku? apakah aku bisa mengetahui alasan dibalik senyumanmu?"
"Pengendali ke-1 ... aku senang dengan kehadiranmu dikarenakan ... yang bisa membuat 7 pengendali bisa bersatu dan tidak terpecah belah adalah kau. saat ini, kami para pengendali sedang kesulitan, saya senang dengan kedatanganmu ..."
Putri leona tersenyum, ia senang dengan kedatangan syah se ketempat itu sebagai penghenti bencana yang hampir terjadi. ia senang syah se datang tepat waktu.
"Putri leona ... jangan terlalu berharap kepadaku. bukan aku yang akan mempersatukan para pengendali, tugasku hanya mengawasi kalian ..."
Syah se dengan senang menyapa mereka semua. ia berjalan mendekat mereka untuk melihat situasi yang terjadi di tempat itu.
"Kakek tua! kenapa kau tidak sopan kepada kami semua! tanpa permisi kau langsung menghajar kami tanpa ampun sedikitpun, kau bahkan sudah menyerangku!"
Yuna tampak marah melihat dirinya diserang oleh syah se. ia salah mengenai itu, syah se hanya melakukan tugasnya dan tidak bermaksud untuk melukai mereka.
"Yuna ... kau sekarang sudah dewasa, jika kau ingin pertarungan, maka kau bisa melawanku sekarang. sebagai pengendali terkuat, kau jangan menyakiti pengendali lainnya!"
"Heh ... ternyata kau semakin sombong setelah kita bertemu untuk pertama kalinya, syah se."
__ADS_1
Yuna tampak bahagia setelah bertemu dengan syah se. ia senang dengan kedatanganya menyadari mereka kembali bertemu setelah sekian lamanya.
Bersambung ...