
Ch. 46 - Kedatangan Yang Tidak Disadari
Di dalam kamar rein, terlihat rein sedang menangis. ia menangis berharap seseorang bisa menolongnya.
"Huhu ... kakak, selamatkan aku. kenapa aku bisa ditemukan oleh mereka? aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
Pada malam itu udara terasa dingin, rein memperhatikan jendelanya, ia menyadari jika jendela itu terbuka dan menyebabkan udara di luar masuk ke dalam kamarnya.
"Dingin sekali ... aku lupa untuk menutup jendela ini. hm ... aku akan menutupnya sekarang."
Tanpa berlama-lama, rein segera menutup jendela itu. akan tetapi, ia tidak menyadari jika albara berada di luar.
Krek ...
Terlihat albara sedang memanjat dan mencoba masuk ke dalam kamar rein dari jendela, akan tetapi usahanya gagal total sebab rein menutup jendela itu.
Albara yang kebingungan pun berkata, "Heh? kenapa dia menutup jendela itu? padahal hanya ini jalan masuk paling ke dalam kamarnya?"
Alisya ikut memanjat dinding itu. ia terlihat sangat ketakutan karena memanjat terlalu tinggi. Ia gemetaran dan berkata,"Tu-tuan ... ba-bagaimana sekarang? se-sepertinya rein menutup jendela itu. sekarang kita harus bagaimana?"
Albara tersenyum, ia memikirkan solusi untuk masalah itu. ia kemudian mendapatkan sebuah ide dan menceritakan rencanaya.
"Asisten ... jika jendela ini ditutup, maka kita harus masuk lewat pintu depan istana dengan menyamar."
Alisya dengan senang menjawab,"Baik tuan ..."
Setelah 5 menit berlalu, albara dan alisya menyelinap masuk ke dalam istana itu dengan diam-diam tanpa ketahuan. Mereka melewati lorong, serta mencari kamar rein.
Albara berhenti di sebuah ruangan, ia masuk bersama alisya dan berkata,"Asisten ... apa kau tau dimana kamar rein berada? aku kira rein berada di lantai 5. kita sudah mencarinya ke semua kamar di lantai 5 ini!"
Alisya memikirkan petunjuk dari komandan Qing. ia dengan senang menjawab,"Tuan ... bagaimana dengan kamar yang ada di ujung lorong itu? kita belum kesana kan?"
Albara memperhatikan kamar itu, ia melihat 2 orang sedang menjaga tempat itu dengan membawa senjata. Albara merasa curiga, dengan senang ia menjawab,"Asisten ... kau benar, sebaiknya kita memeriksa tempat itu. ayo kita kesana sekarang!"
"Em! Baik!"
__ADS_1
Tap tap tap ...
Albara dan alisya mendekat ke kamar itu. mereka dengan tenang melewati setiap tentara dan juga pelayan di istana itu. terlihat mereka tidak mencurigai kedatangan albara dan alisya, mereka malah menggangap mereka sebagai tamu terhormat. Setiap pelayan menyapa mereka, terlihat setelah mereka hampir sampai, 2 penjaga itu menghentikan mereka.
Salah satu dari mereka berkata,"Hei anak muda? untuk apa kau datang ke kamar ini? apa kalian sudah tau ini kamar siapa?"
Albara tanpa ragu ia menjawab,"Paman ... aku diminta oleh seseorang untuk memeriksa ruangan ini ... namaku adalah kei, seseorang yang paling dihormati di wilayah ini. jika kau berani menghalangi kami, kami tidak akan ragu melapor ke atasan kalian! apa kalian mengerti?"
Mereka kemudian merasa takut dengan perkataan albara, salah satu dari mereka berkata,"Kei? belum pernah dengar nama itu? apa kau adalah cucu dari seorang jenderal?"
Albara tersenyum, ia dengan senang menjawab,"Apa kalian tau jenderal se? dia adalah kakekku. cepat biarkan aku masuk ke dalam! atau kalian akan menerima akibatnya!"
"A-anak muda ... ja-jangan seperti itu. Si-silahkan masuk ... ma-maafkan kami jika sudah membuat anda menunggu." Mereka sangat ketakutan dan tepaksa membiarkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan itu. mereka membukakan pintu sambil mengatakan itu.
"Akhirnya kalian mengerti juga. Asisten ... ayo kita masuk ke dalam." Albara kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Baik tuan ..." alisya mengikuti albara dari belakang, ia terlihat sangat gugup saat memasuki kamar itu.
Tap ... tap ... tap ...
Albara dengan keheranan berkata,"Asisten ... apa kau yakin ini adalah ruangan yang kita cari? kenapa tempat ini sangat gelap?"
Alisya dengan gugup menjawab,"Tu-tuan ... a-aku yakin ini tempat ini."
Tiba-tiba, seseorang yang berbaring di ranjang itu menghilang. seketika albara dan alisya kaget melihat kejadian itu.
"A-asisten! dimana orang yang tadi berbaring di ranjang itu?" Albara kebingungan dengan apa yang sudah ia lihat, ia terlihat sangat keheranan dan bertanya tanya kemana orang itu menghilang.
Alisya menyadari jika seseorang sedang bersiap untuk menembak mereka, alisya dengan gugup berkata, "Tu-tuan ... seseorang dibelakang kita sedang memegang sebuah senjata. kita ketahuan?"
"Apa? pistolku kemana?"
DOOR!
"Kalian ketahuan! apa kalian pikir bisa menyelinap masuk ke dalam kamarku ini? hahaha ... " Terlihat rein sedang berada di belakang mereka, ia membawa pistol milik albara dan merasa senang.
__ADS_1
Albara dan alisya yang memakai pakaian yang sama sekali tidak dikenali oleh rein merasa keheranan, ia kemudian menjawab,"Apa kau rein?"
Rein keheranan, ia bertanya-tanya kenapa tembakanya tidak mempan, ia gemetaran dan berkata,"I-ini? ke-kenapa tidak berhasil? bu-bukanya aku menembak kalian?"
Rein gemetaran, tanganya gemetaran memegang pistol itu. lampu di ruangan itu menyala, terlihat rein sangat khawatir karena ia mengira dirinya akan disakiti oleh albara dan alisya.
Albara berbalik dengan ia senang menjawab,"Sayang sekali ... pistol itu tidak aku isi peluru. apa kau berfikir akan bisa melenyapakan kami dengan mudah?"
Alisya mengambil senjatanya, ia dengan senang berkata,"Tuan ... syukurlah kita selamat. kau memang hebat tuan."
Rein yang keheranan mendengar suara mereka kemudian berfikir. ia menyadari jika suara itu tidak asing baginya.
Dengan bingung ia bertanya,"Ka-kalian sebenarnya siapa? A-apa kalian datang hanya untuk menakut-nakutiku?"
Albara tersenyum, ia menjawab,"Hehe ..m Kami adalah pen-"
Krek ...
Tetapi 2 penjaga itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. salah satu dari mereka menyela,"Tuan muda! ada apa? kenapa tadi terdengar seperti suara tembakan? apa tadi terjadi sesuatu?"
Menyadari mereka masuk dengan tiba-tiba, albara mengambil kembali pistolnya, ia harus dengan terpaksa berpura-pura di hadapan mereka, dan menjawab,"Haha ... ini adalah pertunjukan agar dia bisa memberitau dimana keberadaan penjelajah itu! apa kalian keberatan?"
"A-apa? di-dia ingin menanyakan keberadaan albara? aku pun tidak tau dimana dia berada." Rein terlihat sangat ketakutan, ia dengan gugup mendengar perkataan albara.
Mereka senang, salah satu dari mereka menjawab,"Tuan ... itu ide yang sangat bagus ... Jika ada masalah, kami akan membantu tuan ... maaf karena kami tiba-tiba masuk ke dalam."
"Tidak masalah! tetapi pastikan agar siapapun tidak boleh menggangu! kalian tidak boleh membiarkan orang lain masuk! apa kalian mengerti?" Albara terlihat sangat senang, ia memperhatikan mereka sambil tersenyum.
"Baik tuan ... kami tidak akan membiakan orang lain masuk ke dalam." Mereka keluar dari ruangan itu, pintu ditutup .
Krek ...
Albara merasa lega, ia memperhatikan rein dan mendekat ke arahnya,"Hehehe ... sekarang tidak akan ada yang bisa menghentikanku."
"A-apa yang akan kau lakukan? tu-tuan ... ma-maafkan aku. aku salah aku mohon lepaskan aku." Menyadari jika albara mendekat, Rein sangat ketakutan. ia sangat gugup dan menjauh dari albara.
__ADS_1
Bersambung ...