
Duar ...
Suara ledakan terjadi di dekat danau, tampak albara berada di istana sambil memperhatikan ledakan itu.
"Itu? apa yang sebenarnya sudah terjadi? apa mereka akan saling bertarung?"
Albara memperhatikan ledakan itu dengan bantuan sebuah teropong, ia melihat syah se bertarung melawan rena.
"Hei! apa kau hanya akan diam dan tidak membantu mereka? kau kan penjelajah albara?"
Tanpa ia sadari, seorang gadis misterius dengan mengenakan jubah kerajaan berada di sampingnya. ia tampak sedikit mengenali albara.
"Ha?! ka-kau? ke-kenapa kau bisa berada di sampingku? sejak kapan kau berada di sampingku?" Ujar albara.
"Kenapa? apa kau butuh bantuan untuk pergi ke sana? um ... aku bersedia membawamu pergi ke sana, ehe ..."
Gadis itu memegang tangan albara, tampak ia akan menggunakan kekuatan teleportasinya.
"Apa?! he! si-siapa kau sebenarnya? ke-kenapa kau bisa ..."
Wussh ...
Belum sampai ia selesai mengatakan itu, tampak mereka menghilang dari tempat itu.
Wussh ...
"Ha? ke-kenapa kita bisa berada di atas langit seperti ini? hei! sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?" Ujar albara.
Tiba-tiba, mereka berada di langit, seketika mereka terjatuh dengan sangat cepat.
"Berpegangan yang erat, karena aku belum terbiasa menggunakan kekuatan ini, maka ada sedikit kesalahan!"
Gadis itu memegang tangan albara, tampak mereka terjatuh dari atas ketinggian.
"Huaaaa! apa ini adalah akhir bagiku? petualanganku belum selesai, sekarang kita tidak mungkin bisa selamat setelah terjatuh!"
Albara ketakutan, tampak ia putus asa menyadari jika mereka mungkin tidak akan pernah selamat.
Brug ...
Mereka terjatuh, tampak mereka masuk ke dalam sebuah hutan. tampak albara pingsan dan tidak mengingat kejadian itu.
__ADS_1
5 Jam sudah berlalu, kini mereka benar-benar tersesat. terlihat albara dengan perlahan mulai membuka matanya.
"Ini ... a-apa aku berhasil selamat? apa aku baik-baik saja? ini ... rasanya sangat nyaman, entah kenapa a-aku tidak menyadari jika bisa tidur di tempat yang sangat nyaman ..." Ujar albara.
"Oh, jadi kau senang berbaring di pangkuan seorang gadis? he-he ... akhirnya kau bangun juga ..."
Ia tidak menyadari jika dirinya berbaring di pangkuan gadis itu, tampak gadis itu membiarkan albara untuk tidur di pangkuanya.
"I-ini ... Heeeh!! ke-kenapa kau bisa berada di tempat ini? a-apa aku tadi berbaring di pangkuanmu?! kau!"
Albara berdiri, tampak ia sangat malu menyadari dirinya berbaring di pangkuan gadis itu.
"Tidak perlu sungkan, tapi aku melihat kau sangat manja saat tidur, kau mirip seperti anak-anak," ujar gadis itu, ia menyentuh dagunya sambil memperhatika albara.
"He-he ... memalukan, ini kedua kalinya seorang gadis mengatakan itu kepadaku, he-he ... rasanya sangat memalukan."
Albara terlihat murung, tampak ia begitu malu dilihat tidur seperti anak-anak oleh gadis itu.
"Apa yang tadi kau katakan? berita buruknya, kita benar-benar tersesat di hutan? aku berfikir jika kita akan baik-baik saja."
Gadis itu tampak senang, ia menganguk berharap mereka akan baik-baik saja selama mereka bersama.
"Hei! apa kau tau, karena kau kita berada di hutan seperti ini! apa kau berfikir jika ada seseorang yang akan menyelamatkan kita?!"
"Um ... sakit! jangan seperti itu! apa kau tau siapa aku sebenarnya? kau akan mendapakan hukuman jika berani seperti itu!" Gadis itu menggertak, tampak ia ingin membuat albara tunduk kepadanya.
"Lalu? siapa kau sebenarnya? kenapa kau bisa menggunakan kekuatan seperti itu?" Tanya albara.
"Dengar baik-baik! namaku adalah alina! aku berusia 14 tahun, dan belum menikah! aku mempelajari kekuatan ini dari seseorang!"
Namanya adalah alina, ia berusia 14 tahun, lebih muda dari albara. di usia yang sangat muda, ia bisa mempelajari kekuatan seorang pengendali walau ia bukan keturunan langsung seorang pengendali.
"Tunggu? sepertinya aku pernag mendengarmu sebelumnya? tapi ... tetap saja! karenamu kita dalam bahaya dan nyaris tewas! apa kau tau jika kita malah tersesat bukanya sampai lebih cepat di danau!"
Albara kesal, ia sangat kesal menyadari jika semua itu adalah ulah dari alina. ia kesal kepada alina sampai tidak bisa mengendalikan diri.
Hiks ...
Suara tangisan terdengar, alina menangis setelah mendengar itu. tampak ia sangat sedih mendengar semua itu adalah kesalahanya.
"Heh?! a-apa dia menangis? sepertinya tadi itu aku terlalu berlebihan, mungkin aku harus memperlakukanya lebih baik. "
__ADS_1
Albara menyadari jika dirinya sudah keterlaluan, ia ingin memperlakukan alina dengan lebih baik.
"Sudahlah ... maaf karena aku terlalu berlebihan tadi, ini semua bukan salahmu, kita harus memikirkan cara untuk kembali."
Albara mengelus-elus rambut alina, tampak ia berusaha menghibur alina dengan lebih ramah.
"Be-benarkah? ehe ... jadi ini semua bukan salahku! horee! akhirnya kau mengerti juga!"
Alina gembira setelah mendengar itu, tangisan tadi hanyalah tipuan darinya. tampak ia berhasil menipu albara.
"Gadis ini? huh, sudahlah ... sebaiknya aku senang bisa membuatnya gembira seperti ini." Ucap albara.
Albara memperhatikan alina, ia memikirkan sebuah jalan agar bisa keliar dengan aman dari hutan itu.
"Ngomong-ngomong, berapa lama aku pingsan? rasanya aku pingsan selama ber jam-jam."
Albara penasaran, ia ingin tau berapa lama ia tertidur, tampak ia menyadari jika hari sudah hampir sore.
"Hoh, itu ... setelah terjatuh, kau pingsan selama 5 jam ... aku sampai lelah menunggumu bangun."
Alina kembali menyentuh dagunya, ia memikirkan kembali kejadian 5 jam yang lalu. tampak ia yakin jika albara pingsan selama 5 jam.
"Apaaa! 5 jam? jadi aku membuatmu menunggu selama itu? apa kau tidak lelah?" tanya albara.
"Tidak ... tapi aku senang melihatmu baik-baik saja. jujur saja, sebelum kau sadar, aku mendapatkan sebuah petunjuk agar kita bisa keluar dari hutan ini ... aku menemukan peta ini tadi ..."
Alina menunjukan peta itu, ia berharap peta itu bisa menunjukan jalan untuk mereka keluar dari hutan itu.
"Ini? aneh juga ... kenapa seseorang meninggalkan peta sepenting ini? tapi kenapa harus dipikirkan, ayo kita pergi sekarang! saatnya untuk pergi dari hutan ini! ayoo!"
Setelah melihat peta itu, ia menyadari jika mereka berada di tengah hutan wilayah wise. jalan keluar mereka hanyalah satu, mereka harus melewati lembah agar bisa sampai di danau.
"Heh ... tapi aku lelah, bisakah kau menggendongku? energiku terkuras habis setelah aku memakainya untuk mengobatimu, bisakah kau menggendongku?"
Alina tampak kelelahan, ia tidak sangup untuk berjalan kaki kembali ke kota. ia berharap agar albara bersedia membantunya.
"Aduh, apa boleh buat. karena sudah menyelamatkanku, maka aku akan menggendongmu," Ujar albara sambil menggendong alina.
"He-he ... kau baik sekali. "
Alina senang, tampak energinya sedikit demi sedikit mulai terkumpul.
__ADS_1
"Huh ... Begitulah ... bagaimanapun caranya, kita harus kembali dengan selamat," Ujar albara.
Bersambung ...