Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch. 17 - Awas! badai pasir mendekat!


__ADS_3

Ch. 17 - Awas! badai pasir mendekat!


Dalam perjalanan mereka menjelajahi gurun sahai, secara mengejutkan, kakek yang mengaku telah membangun tembok di sekiling gurun sahai, tiba-tiba hilang secara misterius. Sepertinya, kakek itu hilang pada saat pasir beterbangan. siapakah kakek itu? begitulah yang albara tanyakan dengan penasaran.


Tetapi, mereka hanya fokus pada dua misi. misi mereka hanya untuk menemukan kota yang hilang dan menyelamatkan keluarga Alisya.


Kini, sudah 30 menit setelah kakek itu menghilang. albara dan alisya melanjutkan perjalanan mereka menjelajah gurun sahai.


Hari semakin panas di gurun itu, membuat albara dan alisya kelelahan berjalan menjelajahi gurun itu.


Tap ... tap ... tap ...


"Tuan penjelajah, a-apa kita bisa beristirahat? a-aku sangat kelelahan," ucap alisya, dengan merasa sangat kelelahan menjelajah gurun itu.


"Ba-baiklah, kita akan beristirahat. aku akan mencari tempat yang bagus untuk beristirahat. mungkin disekitar tempat ini ada seseorang, " ucap albara, dengan merasa senang.


Albara dengan menggunakan teropong mencari tempag untuk mereka beristirahat. albara terus menerus mencari, dan pada akhirnya ia menemukan sebuah tenda mencurigakan yang ada di dekat mereka.


Push ... (suara angin.)


"Asistenku, Sepertinya ada tenda di dekat tempat ini. kita bisa beristirahat di dalam tenda itu. hanya berjarak sekitar puluhan meter dari tempat kita berada saat ini," ucap albara, dengan merasa senang karena ia menemukan tenda itu.


"Be-benarkah? a-apa aku boleh minta sesuatu darimu tuan penjelajah?" tanya alisya, dengan sangat kelelahan.


Albara penasaran dengan apa yang alisya minta, ia berkata,"Kau mau meminta apa?" tanya albara, dengan sangat penasaran.


"Tuan penjelajah, maukah kau menggendongku? a-aku akan melakukan apapun jika kau mau membantuku kali ini," ucap Alisya, dengan memohon berharap albara mau melakukan itu.


"Jadi, kau mau aku menggendongmu? hehehe, jika aku menggendongmu kau akan melakukan apa saja," ucap albara, dengan merasa sangat senang.


"Tentu saja, apa kau mau?" tanya alisya, dengan penasaran.


Tiba-tiba, albara menggendong alisya. dengan merasa senang, ia berkata," tentu saja aku mau, ini sangat menarik. aku bisa menggendong gadis cantik," ucap albara dengan merasa senang.


"Ga-gadis cantik?" tanya alisya, dengan sangat penasaran.


"Haaa ... a-aku tadi ... I-itu tadi aku hanya bercanda saja. lu-lupakan saja," ucap albara, dengan merasa panik serta kaget.

__ADS_1


Tap ... tap ...


"Em ... menurutku kau juga sangat hebat, aku senang bisa digendong oleh penjelajah terhebat seperti dirimu. tadi itu, terimakasih banyak karena sudah mengatakan itu," ucap alisya, dengan merasa sedikit gugup mengatakan itu.


Tap ... tap ...


"Be-benarkah? baik asistenku, kau harus mengingat janji itu. hehe, aku boleh meminta apa saja kan?" tanya albara, dengan merasa senang menantikan itu.


Tap ... tap ...


"Aa ... be-benar, apapun yang kau mau. ja-jangan menatapku seperti itu," ucap alisya, dengan merasa gugup.


tap ... tap ...


"Baik, ternyata asistenku sedikit malu karena aku mengatakan itu. ini pertama kalinya aku menggendong seorang gadis," ucap albara, dengan merasa senang.


"Aaa ... a-apa aku terlihat begitu?" tanya alisya, dengan sangat panik.


"Benar asistenku, kau terlihat sangat imut saat sedang panik. wajahmu memerah lho," ucap albara, dengan senangnya mengatakan itu.


"A-aku ..." ucap alisya, dengan merasa sangat gugup.


Tap ... tap ...


Mereka sudah sampai di dekat tenda itu. albara merasa senang akhirnya dia bisa beristirahat setela satu jam berjalan kaki.


"Asistenku, kita sudah sampai, sekarang kau boleh turun," ucap albara, dengan merasa sedikit senang.


"Ba-baik," ucap alisya, dengan merasa sedikit gugup.


"Baiklah, kita akan masuk ke tenda ini. aku penasaran untuk apa seseorang membuat tenda di tengah gurun seperti ini," ucap albara, dengan merasa sangat penasaran.


Albara masuk ke dalam tenda itu. ia melihat seorang kakek tua yang sedang duduk di dalam tenda itu. Albara merasa pernah melihat kakek tua itu.


Tiba-tiba, kakek tua itu berkata,"Aku sudah menunggu kalian. selamat datang di tendaku ini. kalian pasti sedang dalam perjalanan menuju kota yang hilang. benarkan," ucap kakek tua itu, sambil merasa senang dengan kedatangan albara dan alisya.


Albara dan alisya penasaran, ia penasaran bagaimana kakek tua itu tau tujuan mereka.

__ADS_1


"Kakek, sebenarnya kau siapa? sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya," ucap alisya, dengan penasaran.


"Gadis muda, anda sangat sopan. aku tau kau pasti putri dari pemimpi grup penjelajah BluEx," ucap kakek tua itu, dengan merasa senang.


"I-itu benar, ba-bagaimana kau tau mengenai itu?" tanya alisya, dengan penasaran.


"Benar, kau siapa? kenapa mengetahui tujuan kami?" tanya albara, dengan penasaran.


Dengan senang, kakek tua itu menjawab," Anak muda, aku adalah seorang kakek tua yang tinggal di gurun ini. bagaimana aku mengetahui dirimu dan siapa orang tuamu, mungkin itu hanya sebuah kebetulan," ucap kakek tua itu, dengan merasa sangat senang.


"Kebetulan? apa kau bercanda? " tanya albara, dengan penasaran.


"Anak muda, apa menurutmu aku bercanda saat ini. aku sudah tinggal di gurun ini selamat ratusan tahun. aku tau tujuan kalian adalah untuk menemukan Libe," ucap kakek tua itu, dengan merasa senang.


"Libe?" tanya albara, dan alisya dengan penasaran.


"Benar, Libe adalah sebuah batu yang bisa membawa kalian menuju dunia lain. Libe pada awalnya hanya sebuah batu yang digunakan untuk membuka gerbang. tapi, seseorang sudah mencuri batu itu, salah satu bagian batu dibawa olehmu, dan setengah lagi dibawa oleh orang lain," ucap kakek tua itu, dengan merasa senang mengatakan itu.


"Jadi batu ini disebut Libe. kenapa kau tau kami memiliki Libe? apa kau adalah seorang peramal?" tanya albara, dengan penasaran.


"Kakek, bisakah kau membantu kami?" tanya alisya, dengan penasaran mengatakan itu.


Kakek tua itu berdiri dan berjalan keluar tenda. dengan senang, ia berkata, "Anak muda, aku bukan seorang peramal. aku hanya kakek tua yang beruntung saja. kebetulan, aku ingin memberitau kalian, ada badai pasir yang mendekat menuju tempat ini. dan, ada banyak orang yang menggunakan kendaraan datang mencarimu," ucap kakek tua itu, dengan sangat percaya diri.


"Ba-badai pasir? Tuan penjelajah? bagaimana ini?" tanya alisya, dengan sangat kaget.


"Aku? ini sepertinya akan sulit. kita akan dalam bahaya," ucap albara, dengan merasa khawatir.


Sementara itu, ucapan kakek tua itu benar. tiba-tiba, datang sebuah badai pasir mendekat menuju arah mereka, tinggi badai pasir itu mencapai seratus meter.


Push ... (Suara badai pasir.)


Albara melihat badai pasir itu menggunakan teropongnya. ia melihat ada sebuah badai pasir besar datang dengan sangat cepat, mendekat ke arah mereka.


"Asisten, ucapanya ternyata benar. sepertinya badai pasir itu sangat besar, kita dalam bahaya," ucap albara, dengan merasa khawatir.


"Be-benarkah? a-apa yang harus kita lakukan," ucap alisya, dengan sangat khawatir.

__ADS_1


Sepertinya ada badai pasir dengan tinggi mencapai seratus meter mendekat. akankah mereka berhasil selamat dari badai pasir itu? mereka akan segera mendapatkan jalan keluar dari masalah itu.


(Bersambung ... )


__ADS_2