
Ch. 55 - Pertemuan 5 Pengendali
Di sisi lain, tepatnya di perbatasan wilayah utahara timur dan utahara bagian selatan, terlihat albara dikejar oleh beberapa mobil dari belakang.
Bum ...
"Asisten! sepertinya mereka menemukan kita! dia ternyata lebih cerdik dari dugaanku! sekarang dia memanggil bantuan!"
Mereka saling balap-balapan kabur dari kejaran dan terlibat pertarungan yang sangat sengit.
"Pasukan! jangan biarkan mereka kabur! kita harus mendapatkan petunjuk mengenai libe! perintah dari jenderal, tembak saja mereka jika diperlukan!"
Felisya tampak pantang menyerah mengejar mereka berdua. ia memanggil bantuan dari markas terdekat untuk mengejar albara dan alisya.
"Tuan ... awas di depan!"
Alisya melihat sebuah jurang yang sangag dalam tepat di depan mereka. jurang itu sangatlah berbahaya. tanpa mereka sadari, mereka sudah memasuki wilayah perbukitan di utahara.
"Kau benar asisten! sekarang bersiaplah untuk terbang! semoga saja kita berhasil sampai di seberang jurang itu!"
Albara menyadari jika mereka tidak bisa menghentikan mobilnya. ia terpaksa meningkatkan kecepatan mobilnya untuk terbang melewati jurang itu.
Bum ...
"Aaa! ini sebenarnya bukan ide yang buruk! tapi cukup menantang bagi seorang penjelajah!"
Mereka terbang, terlihat mobil mereka hampir berhasil menyeberangi jurang itu tanpa hambatan. mereka sangat kaget dan berteriak sangat kencang
"Jurang? apa mereka nekat untuk menerobos? jika terjadi sesuatu kepada mereka! habislah aku!"
Felisya berusaha untuk menghentikan mereka menyeberangi jurang itu. ia dengan semampunya meningkatkan kecepatan mobil untuk menghalangi mereka.
Wussh ...
Tapi apa boleh buat, ia tidak mampu menghentikan mereka karena ia menyadari mereka sudah berhasil menyeberangi jurang itu dengan sangat mudah.
Ckitt ...
__ADS_1
Ia dan anak buahnya menghentikan mobil itu.mereka menyadari jika di depanya terdapat sebuah jurang, dan tidak mungkin mereka bisa menyeberangi jurang itu. perjuangan mereka terpaksa berakhir.
"Dasar! mereka sangat nekat! aku tidak bisa mengejar mereka lagi!"
Felisya keluar dari mobil itu, ia membuka pintu mobilnya sambil memperhatikan albara dan alisya menggunakan teropong miliknya.
"Hahaha ... sepertinya kau gagal! kali ini aku tidak akan berbuat ceroboh seperti dulu!"
Albara tertawa menyadari jika mereka tidak berhasil mengejar mereka. ia dengan tenang memperhatikan felisya dengan teropong miliknya.
"Heh ... aku tidak menyerah secepat itu lho! lain kali aku akan berhasil mengejar kalian! sekarang aku melepaskan kalian! tapi lain kali ... akan aku buat kalian menyesal!"
Felisya kemudian masuk ke dalam mobil, ia dengan kesal mengemudikan mobil itu ke arah berlawanan dengan albara.
"Semuanya! kita kembali! besok kirim perintah agar markas memberi bantuan helikopter untuk mengejar mereka!"
"Baik nona!"
Bum ...
Mereka kembali ke markas, setidaknya mereka tidak menyerah secepat itu. felisya adalah seorang gadis yang tidak kenal menyerah, ia akan kembali mencari albara besok.
Menyadari felisya bersama dengan anak buah mereka sudah pergi, albara kemudian masuk ke dalam mobilnya. ia menanyakan keadaan alisya setelah kejadian itu.
"Um ... tu-tuan, se-sepertinya a-aku sedikit pusing. tapi sekarang sudah baik-baik saja. apa kau sering melakukan hal seperti itu?"
Alisya dengan wajah penasaran bertanya kepada albara. ia keheranan dan kaget setelah terlibat aksi kejar-kejaran itu, dan menyadari jika albara selalu terlibat kejadian seperti itu.
"Itu ... kurasa aku sering mengalami kejadian seperti itu. tapi kau tidak perlu khawatir! karena aku seorang penjelajah, tidak akan terluka semudah itu!"
Brum ...
Mereka kembali melanjutkan perjalanan itu. mobil mereka melesat dengan kecepatan penuh. Tempat itu dipenuhi dengan rerumputan yang sangat luas. setidaknya, mereka sering melewati hutan serta wilayah perbukitan.
Di sisi lain, tepatnya di istana negara atlan. terlihat 5 pengendali sudah muncul di tempat itu. untuk ke sekian kalinya, 5 pengendali bisa kembali berkumpul. mereka saling meremehkan satu sama lain, tidak ada tanda persahabatan yang ditunjukan oleh mereka, mereka saling menunjukan kemampuan mereka satu sama lain.
"Heh ... apa katamu tadi? walaupun kau pengendali terkuat, jangan harap bisa meremehkan kemampuanku! syah se, jangan kira aku takut melawanmu!"
__ADS_1
Dengan sikap dingin, yuna memperhatikan syah be sambil tersenyum dingin ke arahnya. ia dengan berani mengatakan itu tanpa takut kepadanya.
"Dan untuk putri leona, apa tadi kau mengangap lichen sebagai temanmu? aku kira kau serius berteman denganya, ternyata hanya sebuah rencana untuk mengulur waktu! tidak aku sangka kau akan melakukan itu."
Yuna mendekat ke arah putri leona, ia dengan senang memperhatikan mereka dengan senyuman dingin.
"Putri Yuna, apa kau tadi berfikir aku melakukan itu demi seseorang? kau benar, aku melakukan ini untuk mengulur waktu, akan tetapi aku tidak suka kau memprovokasi orang lain sesama pengendali! sebagai tuan putri dan pengendali ... aku memiliki kewajiban untuk menjaga perdamaian di dunia ini!"
Putri yuna menjawab dengan serius, ia terlihat sangat berani menjawab tanpa ada keraguan di dalam dirinya.
"Heh? um ... ternyata aku salah menilaimu, kau tidak seperti dulu lagi. kalian memang sudah berubah!"
Yuna dengan tenang kembali duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan itu. secara mengejutkan, yuna tampak kembali tersenyum dengan hangat kepada mereka setelah kejadian itu.
Tap ... Tap ... Tap ...
"Uhuk ... syah se, aku pikir kau sudah berubah sejak pertama kali kita bertemu. tanpa ragu kau menyerangku sampai membuat keributan seperti ini. kau bahkan tanpa menyerangku pada saat yang tidak tepat."
Dari arah kabut tebal yang muncul setelah ledakan itu. terlihat lia keluar dengan tenang. kekuatanya sepertinya sudah pulih. ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memulihkan kekuatanya.
"Lichen ... apa aku menyakitimu? seseorang yang dipenuhi dengan amarah, akan kehilangan kendali jika tidak dihentikan ... aku hanya melakukan tugasku agar kalian bisa berteman. tapi sayang sekali ... kau dan yuna malah semakin sombong sejak hari itu."
Syah se dengan membawa tongkatnya masuk ke dalam ruangan itu. ia duduk dengan tenang sambil memperhatikan mereka tanpa diketahui oleh mereka.
Mereka kembali duduk di tempat itu, terlihat setelah kejadian itu mereka agak sedikit canggung.
"Uhuk ... baiklah semuanya, akulah yang mengadakan pertemuan ini ... sepertinya pengendali ke-6 tidak datang. sedangkan pengendali ke-7 kita belum mengetahui keberadaannya ... sekarang kita akan membahas tentang masalah yang baru saja terjadi di sekitar kita."
Syah se menyadari jike mereka tidak ber niat untuk melakukan pertemuan ini. ia dengan khawatir memulai pembicaraan.
"Um ..."
Salah satu dari mereka tidak menjawab, mereka sepertinya tidak peduli dengan masalah yang baru saja terjadi di sekitar mereka.
"Huh ... aku sudah menduga hal ini akan terjadi ... pembicaraan ini akan sia-sia."
Syah se menghela nafas, ia menyadari jika pembicaraan itu tidak dapat membuahkan hasil jika mereka terus seperti itu.
__ADS_1
Bersambung ...