Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch. 50 - Seseorang sedang mengawasi Kalian!


__ADS_3

Ch. 50 - Seseorang sedang mengawasi kalian!


Kedatangan jenderal se, bersama dengan ratusan pasukanya, menandakan kemenangan akan segera mereka dapatkan.


"Benar cucuku ... ini aku, jenderal se akan membantu kalian sesuai janji yang sudah aku buat sebelumnya. semuanya, habisi mereka!"


"Hiyaa!"


Jenderal se, bersama dengan ratusan pasukanya melancarkan serangan balasan untuk memukul mundur tentara yang dipimpin oleh jenderal sah fei.


Duar ...


Terjadi pertarungan sengit di tempat itu, diperkirakan, jumlah pasukan yang datang pada saat itu 195 tentara yang datang.


DuDuDuDuDu ...


Mereka bersembunyi di semak-semak, sambil menghujani musuh mereka dengan senapan mesin mereka.


"Tembak! "


Duar ...


Terlihat, beberapa senjata artileri menembakan amunisi mereka tepat mengenai benteng itu.


"Awas! mereka memiliki senjata berat! berlindung!" Ucap seorang tentara.


Duar ...


Kini, posisi jenderal sah fei terdesak, ia terpaksa mundur bersama pasukanya yang tersisa masuk ke dalam kota itu.


"Jika kita bertarung habis-habisan melawan mereka ... bisa dipastikan kita akan segera dikalahkan! perintahkan pasukan untuk mundur! kita akan melancarkan serangan balasan setelah semua pasukan berkumpul di dalam benteng kota!"


"Baik tuan ..."


Tap Tap Tap ...


Mereka pergi dari tempat itu dikarenakan mereka belum sepenuhnya siap dengan perang melawan tentara negara atlan. mereka memilih untuk mundur dan mempersiapkan serangan balasan.


"Jenderal ... sepertinya mereka sudah mundur dari tempat ini. apakah sekarang kita akan menyerbu kota ini?"


Jenderal se mengamati kemunduran pasukan itu, ia menyadari jika mereka mengubah rencana dan memilih untuk menghentikan mereka.


"Sersan ... bawa pasukan masuk ke kota lewat terowongan rahasia! beritau mereka agar pasukan yang menyamar agar segera melakukan serangan! jangan biarkan mereka kabur!"


"Baik jenderal ..." Ia kemudian pergi dari hadapan jenderal se. ia berlari dan memiliki tugas memimpin serangan itu.


Albara dan alisya datang menghampirinya, mereka berdua datang dengan keheranan melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Kakek ... kau datang pada saat yang tepat. kau sudah menyelamatkan kami. kami semua selamat berkatkau," Ucap albara.


"Jenderal se, aku berterimakasih kepadamu karena sudah menelamatkan kami. berkatmu, kami bisa selamat dari mereka ... izinkan saya berterimakasih secara langsung."


Alisya mengucapkan terimakasih dengan tulus kepada jenderal se. ia dengan hormat mengatakan itu dan terlihat sangat sopan.


Jenderal se memegang pundak mereka berdua, ia tersenyum sambil memperhatikan mereka.


"Sudahlah ... kalian terlalu sungkan, aku juga melakukan ini demi menepati janjiku kepada kalian. aku senang bisa melihat kalian baik-baik saja setelah serangan artileri itu."


"Ha? serangan artileri? jadi kakek yang sudah melancarkan serangan itu? kakek, kau hampir saja membunuh kami karen serangan itu!"


Albara kaget saat menyadari jika kakeknyalah yang menyebabkan ledakan itu. ia keheranan dan sedikit marah kepadanya.


"Heh? tapi kalian berhasil selamat kan berkat ledakan itu? jujur saja ... kalian tidak akan selamat jika aku tidak melancarkan serangan itu."


Tap ... Tap ...


Tiba- tiba, komandan Qing mendatangi mereka. ia menyapa jenderal se dan memberi hormat kepadanya.


"Jenderal se ... aku sebagai tuan putri penguasa wilayah ini mengucapkan terimakasih kepada anda ... terimakasih karena sudah membantu saya dan menyelamatkan saya. saya berhasil menyelamatkan ayah berkat anda, jenderal. sebagai rasa terimakasihku, saya bersedia membantu anda jika anda dalam kesulitan."


Jenderal se tersenyum, ia memegang pundak komandan Qing dengan penuh kebahagiaan di matanya.


"Kau terlalu baik tuan putri ... ngomong-ngomong, seseorang ingin bertemu denganmu. dia pasti sudah kau kenal sebelumnya ..."


"Putriku ... aku senang bisa melihatmu baik-baik saja."


Adipati Wei datang ke tempat itu, ia kemudian memeluk putrinya dengan perasaan bahagia. ia senang putrinya baik-baik saja setelah kejadian itu.


"A-Ayahanda? ke-kenapa kau bisa ada di tempat ini? bu-bukankah kau sedang berada-"


Adipati wei menyela, ia menjawab,"Sudahlah putriku ... berkat jenderal se, ayah bisa menemuimu lagi. berkat bantuanya, aku bisa menemuimu setelah kejadian tadi malam. dimana adikmu? kenapa dia tidak ada di tempat ini?"


Terlihat Adipati Wei tidak melihat rein di tempat itu. ia penasaran dengan keberadaan rein yang tidak ada bersama mereka.


"Eh? di-dia ... "


Albara sangat gugup menjelaskan kejadadian kemarin malam. ia mengetahui jika rein pingsan semalaman. ia menyadari jika rein sangat ketakutan.


Tap ... tap ...


"Ayahanda!"


Tetapi, seseorang berlari mendatangi mereka. rein berlari untuk menemui ayahnya dengan perasaan senang setelah lama tidak bertemu denganya.


"Putriku rein? kau ..."

__ADS_1


Rein kemudian memeluk ayahnya, ia sangat senang melihat ayahnya yang baik-baik saja setelah lama mereka tidak berjumpa.


"Ayahanda ... ma-maafkan aku karena pergi tanpa memberitau ayah. a-aku tidak akan pergi tanpa memberitau kau lagi."


Ia senang albara, alisya dan kakaknya dengan berani menyelamatkan ayahnya. ia senang bisa bertemu kembali dengan ayahnya.


"Putriku ... ayah senang bisa kembali melihatmu. apa yang sudah mereka lakukan kepadamu? apa kau baik-baik saja kemarin?"


Ayahnya terlihat sangat mengkhawatirkan keadaanya. ia merasa bersalah karena ia tidak bisa melindungi putrinya.


Rein memperhatikan albara dan alisya, ia dengan jujur mengatakan,"Ayah, ini semua berkat teman-temanku. mereka sangat berani menyelamatkanku ... ayah, aku selamat berkat mereka."


Adipati Wei memperhatikan mereka berdua, ia dengan senang menyadari jika putrinya selamat berkat bantuan mereka.


"Kalian berdua ... bagaimana caraku membalas apa yang sudah kalian lakukan? kalian sangat berani mempertaruhkan nyawa menyelamatkan putriku, aku mengucapkan terimakasih kepada kalian berdua."


Ia dengan senang mengatakan itu kepada mereka. ia terlihat sangat tulus mengucapkan rasa terimakasih kepada mereka.


"Adipati Wei ... anda tidak perlu sampai seperti itu. kami senang bisa membantu anda, benarkan asisten?" Tanya albara.


Alisya menjawab,"Tuan ... kau benar, kami senang bisa membantu anda."


Adipati wei memperhatikan mereka, ia sangat senang jika mereka sudah menyelamatkan putrinya. ia senang mereka dengan baik hati mau membantu menyelamatkan putrinya.


"Ngomong-ngomong ... pakaian kalian sangatlah bagus. cucuku, kenapa kalian berdua memakai baju seperti pasangan pengantin? apa kalian sudah menikah tanpa mengundangku terlebih dahulu?"


Jenderal se penasaran dengan penampilan mereka yang terlihat akan menikah. ia dengan senang memperhatikan mereka dan curiga mereka menikah tanpa sepengetahuanya.


"I-ini ... a-aku hanya."


Alisya terlihat sangat malu mendengar itu, ia sangat gugup saat mendengar perkataan jenderal se yang salah paham terhadap mereka. ia khawatir saat mendengar jenderal se curiga mereka menikah secara diam-diam.


"Kakek ... apa kau bercanda? kau pasti sudah tau, kan? kami memakai pakaian ini karena alasan penting! kau sedang salah paham kek!"


Albara sangat khawatir mendengar perkataan kakeknya, ia terlihat sangat malu mendengar itu.


"Heh? tapi sayangnya kakek juga tidak tau ... pasti kau sedang berbohong kan? he-he ..." ucap jenderal se.


Komandan Qing, adipati Wei dan rein senang mendengar itu. mereka sedang mengerjai albara tanpa sepengetahuanya, "He-he ..."


"Dasar! aku tidak berbohong! kenapa kalian semua tertawa!"


Dari kejauhan, tepatnya di sebuah menara kota utahara, terlihat Felisya sedang menangkap sebuah gambar albara dan alisya. Ia mendapatkan sebuah gambar albara yang sedang mengenakan pakaian itu.


"Em ... Kenang-kenangan yang bagus. ini adalah gambar yang sangat langka, he-he ..."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2