
Albara menatap Alisya dengan kedua matanya, memberhatikan alina mendekat ke arahnya. ia dengan tangan kosong mendekat, tanpa takut sedikitpun resiko yang akan ia hadapi.
Tap ... Tap ... Dengan perlahan ia berjalan mendekat ke arah Asistenya, ia tersenyum hangat.
"Ke-kenapa kau seperti ini?! apa kau tidak takut jika aku akan menghabisimu sekarang?!" Seru Alisya, mengangkat pedangnya menatap Albara.
"Kau tidak akan melakukan itu, karena kau adalah temanku ... sekaligus, calon istriku," Ujar Albara.
Plang ... Ia menjatuhkan senjatanya, gemetaran cemas dengan tindakan yang ia lakukan. ia merasa dirinya tidak mampu melawan Albara.
"Kenapa? kenapa ini selalu terjadi? kenapa tanganku bergetar? kenapa? kenapa aku tidak mampu untuk menghabisimu!" Seru alisya.
Albara memegang tangan alisya, menatapnya dengan kedua matanya tanpa ragu memberinya kesempatan untuk percaya kepadanya.
"Kau ... kenapa?"
"Karena kau sudah berjanji kepadaku waktu itu. karena kau ingin menemukan keluargamu, sebagai gantinya kau akan menjadi istriku ... benar begitu kan?" Jelas Albara.
"Aku tau! aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkanya! Tapi apa kau bisa! kau hanyalah penjelajah! bukan pengendali seperti diriku ini!" Benta Alisya, mendorong albara berharap pria itu menjauh darinya.
"Ternyata begitu ... dia memang belum percaya sepenuhnya kepadaku, harus membuatnya percaya baru bisa menyelesaikan semua masalah ini," Gumam Albara, di dalam hati, dengan cepat ia kembali mendekat, memeluk Alisya dengan lembut dihadapan banyak orang.
"Ha? i-ini? kenapa rasanya ... sangat nyaman saat berada di dekatnya?" Gumam Alisya di dalam hati.
Raut Wajah alisya terlihat cemas. wajahnya memerah, merasa ada yang aneh dari pelukan itu membuat hatinya terasa aneh.
Hiks ...
Air mata mengalir, ia tidak mampu menahan air mata kesedihan yang ia pendam selama ini. sikapnya berubah seketika, semua pembalasan dendam yang akan ia lakukan seketika sirna.
"Menangislah, jangan menanggung semua sendirian. tenang, ada aku disini ... aku akan selalu ada untukmu ..." Ujar Albara.
"Mengapa kau melakukan semua ini? apa kau melakukan ini hanya untukku? kenapa bisa kau jelaskan?" Tanya Alisya gugup penasaran ingin mendengar alasan albara.
"Sudah aku bilang kepadamu ... aku menyukaimu pada saat kita pertama kali bertemu, aku melakukan ini hanya untukmu ... karena kau istimewa," Jelas Albara, menyatakan perasaanya dengan cara tulus.
Plang ... Seketika seluruh pasukan dibawah kendali Alisya menjatuhkan senjata mereka. mereka menghilang dalam sekejab, setelah angin bertiup sangat kencang tanpa jejak.
Kini semuanya telah berakhir, Alisya kembali ke jalan yang benar. walau ia belum menemukan keluarganya.
30 Menit kemudian, di tepi danau
__ADS_1
Albara duduk menemani Alisya menikmati pemandangan alam yang indah disinari cahaya matahari yang hampir terbenam pada sore itu.
"Jadi kau disini, kenapa duduk sendirian? perlu aku temani?" Ujar albara.
Alisya sedikit canggung untuk berbicara, sebab ia sudah melakukan kesalahan dengan melawan Albara.
"Aku tidak pantas lagi untuk menjadi rekanmu ... aku sebenarnya sudah tidak memiliki harapan setelah menyadari semua usahaku sia-sia. gerbang ini sebenarnya bukan gerbang untuk pergi ke kota yang hilang ... semua ini hanya omong kosong!" Jelas Alisya.
"Jadi ... Aku baru saja bertemu dengan seseorang, katanya dia adalah seorang ibu dari para pengendali ... Seseorang yang mungkin kau kenal, datang mencarimu ..."
"Si-siapa dia?"
Dari arah berlawanan, tampak Ratu Sei tiba-tiba muncul dihadapan mereka. ia tampak senang, memperhatikan Alisya seorang putri keturunan para pengendali.
"Benar ... Alisya, ternyata kau sudah tumbuh lebih besar. apa kau merindukanku?" Tanya Ratu sei.
"Ka-kau ... I-ibu? kau datang hanya untuk menemuiku?!" Ujar Alisya.
"Em! putriku ... sudah lama aku tidak bertemu denganmu, maaf ya aku terlambat datang menemuimu ..." Jelas Ratu Sei, memeluk Alisya dengan hangat.
"Tidak masalah, tapi ... ayah."
"Oh, kau tenang saja. aku sudah mengatur semua itu ... ayahmu, baik-baik saja dan berhasil aku selamatkan walau itu membutuhkan waktu," Ujar Ratu sei, menyentuh dagunya memikirkan keadaan ayah Alisya.
"Benar sekali. oh ya, pria ini apa dia adalah pcarmu? tampaknya dia tidak asing bagiku," Tanya Ratu Sei.
"Benar kali ..." Jawab albara.
Seketika Yuna, Lia, Yumina, Rena, Yumna, Dan yang lainnya datang tiba-tiba muncul di samping Albara berebut untuk memegang tanganya.
"Apa? tukang selingkuh! kenapa kau mengatakan itu tadi?!" Bentak Lia.
"Benar ... cepat katakan jawaban daro pertanyaan kami, apa kau bersedia menikahi kami?" Tanya Yuna.
"Benar! berikan kami jawabanya!" Ujar Yumna.
Yumina tampak tidak menghiraukan itu, akan tetapi wajahnya tidak menunjukan itu. ia melirik albara, menatapnya dengan tatapan aneh.
"Ehem ... Aku juga ingin menikahimu, karena semua ingin berebut untuk menikahimu, maka aku tidak akan kalah! dari yang lainnya!" Jelas Yumina.
"Eh? i-ini? apa kalian semua serius ingin menikahiku? bisa kalian beri jawabanya?" tanya albara.
__ADS_1
"Karena kami mencintaimu!" Bentak mereka.
"Ehem ... Tampaknya kau populer, Alisya ... apa kau tidak akan ikut-ikutan? kau mencintainya, bukan?" Tanya Ratu sei.
"Em ... Tentu saja aku tidak akan kalah dari mereka! Akan aku tunjukan kepadamu! ibu!" Seru Alisya.
Kini mereka semua ingin menjadi istri Albara, albara saat ini sangat populer. ia ragu ingin menikahinya semua sekaligus. tampak ia menemukan jawaban dari pertanyaanya.
"Jika itu yang kalian inginkan, maka apa boleh buat lagi. tapi, aku hanya mencintai seseorang saja di dalam hidupku, Aku hanha mencintaumu alisya ..." ungkap albara sekali lagi menyatakan perasaanya.
"Ehhh!!" Seru mereka.
Alisya tertegun, ia tidak menyangka jika ia dipilih oleh albara untuk menjadi istrinya. ia tampak senang, bahagia dengan perkataan albara.
"A-aku, aku mau saja ... tapi aku akan menjadi pacarmu terlebih dahulu sebelum kita menikah, bolehkah?" tanya Alisya.
"Tentu saja ... jika itu yang kau inginkan, aku bersedia menerimanya ..." Ujar albara.
1 Bulan kemudian
Di sebuah taman ibu kota negara atlan tampak Albara, bersama dengan Alisya, Lia, Yumina, Rena, Yumna berada di taman itu. mereka tampak rukun setelah kejadian 1 bulan yang lalu.
Kota yang hilang berhasil ditemukan, akan tetapi kota tersebut dilarang untuk dikunjungi secara langsung oleh Ratu Sei beserta para pengendali. Misteri berhasil dipecahkan, kini saatnya mereka menentukan masa depan mereka.
"Albara ... apa kau ingin kita berkeliling taman ini?" Tanya alisya.
"Em ... tentu," Jawab albara.
"Eh! A-aku juga tidak akan kalah darimu. aku akan tetap memiliki tujuan untuk menikahimu! benarkan semuanya!" Seru Yuna, memegang lengan Albara.
"Be-benar ... kami semua belum menyerah dengan tujuan kami! kami akan selalu memiliki tujuan untuk menikahimu!" Seru yumna.
Lia menganguk, merasa keputusan mereka benar. mereka belum menyerah dan tidak akan menyerah untuk menikahi albara.
"Aku juga, belum menyerah," ujar Yumina.
Dari kejauhan, tampak Felisya mengamati mereka. ia tersenyum, memperhatikan albara.
"Aku juga ... ingin menikahimu, albara."
Mereka semua bersaing untuk mendapakan albara. setiap hari mereka melewati hari dengan kegembiraan layaknya keluarga.
__ADS_1
Tamat ...