
Ch. 21 - Wise, Wilayah baru
Brum ...
"Asisten, sepertinya kita hampir sampai di wilayah Wise," ucap albara, dengan merasa sangat bersemangat.
"Be-benarkah? akhrinya kita bisa sampai juga," ucap alisya, dengan merasa sangat senang.
"Aku pernah mendengar jika wilayah itu tidak pernah ada penjelajah yang masuk atau menjelajah di wilayah itu. katanya, ada monster yang menguasai wilayah itu," ucap albara, dengan merasa sangat senang.
"Monster? a-apa kau serius?" tanya alisya, dengan merasa sangat gugup.
"Hehe, aku hanya bercanda saja," ucap albara, dengan merasa sangat senang.
"Hmph ... kau ini, membuatku takut saja. huh," ucap alisya, dengan merasa sangat kesal.
"Hehe, asistenku. apa kau marah? " tanya albara, dengan merasa sangat senang.
"Humph ... benar, aku sedikit marah," ucap alisya, dengan merasa sedikit marah.
Dari kejauhan, terlihat sebuah tembok besar yang mengelilingi wilayah itu. tembok itu diperkirakan setinggi hampir 100 meter.
Albara merasa keheranan melihat itu, ia tidak menyangka jika tembok yang mengelilingi wilayah itu, tidak setinggi itu.
"Tuan penjelajah, a-apa benar ini adalah wilayah wise? a-aku belum pernah melihat dinding sebesar itu," ucap alisya, dengan merasa sangat keheranan.
"Asistenku, sepertinya ini adalah sebuah benteng yang mengelilingi wilayah itu. sekarang, kita harus bisa masuk ke dalam wilayah itu," ucap albara, dengan merasa sangat bersemangat.
Brum ...
Mereka masuk ke dalam wilayah itu. tetapi, gadis itu berhasil mengejar mereka. ia berhenti di depan untuk menghalangi albara dan alisya.
Ckit ...
"Dasar ... siapa orang yang berani menghalangi kita? " tanya albara, dengan merasa sangat kesal.
"Tuan penjelajah. sepertinya kita dalam bahaya," ucap alisya, dengan merasa sangat gugup.
Tiba-tiba, gadis itu keluar dari mobil. Scring ... ia mengeluarkan pedangnya.
"Hei penjelajah! lawan aku sekarang! aku ingin bertarung melawanmu!" ucap gadis itu, dengan merasa sangat kesal.
"Dia? bukanya gadis yang waktu itu? dasar ... kenapa dia selalu menganguku?" tanya albara, dengan merasa sangat kesal.
"Tuan penjelajah? apa kau mengenal gadis ini?" tanya alisya, dengan merasa sangat penasaran.
"Lupakan saja. kita tidak perlu mempedulikan apa yang gadis ini inginkan," ucap albara, dengan merasa sangat keheranan.
Brum ...
Ia mengendarai mobil, dan menjauh dari gadis itu. Ia meningkatkan kecepatan mobil untuk bisa kabur dengan mudah.
__ADS_1
Gadis itu keheranan, ia berkata,"Beraninya dia melakukan itu? apa dia takut melawanku?" tanya gadis itu, dengan merasa sangat keheranan.
Ia kemudian masuk ke dalam mobil. ia mengendarai mobil dan mengejaf albara.
Brum ...
"Tidak akan aku biarkan orang ini kabur! aku ingin membalas dia yang sudah berani melakukan itu kepadaku!" ucap gadis itu, dengan merasa sangat kesal.
"Asisten, sepertinya dia tidak menyerah untuk mengejar kita. sebaiknya kita pilih jalan lain untuk bisa kabur!" ucap albara, dengan merasa sangat khawatir.
"Tuan penjelajah. sepertinya gadis itu sangat kesal kepadamu. apa kau melakukan sesuatu kepadanya?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.
"Tidak, dia menginginkan libe. dia pernah bertarung melawanku di kapal. sekarang, dia pasti menginginkan libe," ucap albara, dengan merasa sangat khawatir.
Brum ...
Di depan, terdapat barikade yang menghalangi mereka. barikade itu terbuat dari kayu.
"Tuan asisten? di depan ada barikade! bagaimana ini?" tanya alisya, dengan merasa sanga khawatir.
"Tenang saja asisten, kita akan melewati barikade itu," ucap albara, dengan merasa sangat percaya diri.
Brum ...
"Ha? ba-bagimana caranya?" tanya alisya, dengan merasa sangat khawatir.
"Caranya? tentu saja terbang melewati barikade itu," ucap albara, dengan merasa sangat senang.
"A-apa? terbang? bagaimana caranya?" tanya alisya, dengan merasa sangat penasaran.
"Ha? ba-bagaimaa caranya?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.
Tiba-tiba, mobil itu mengeluarkan sayap dan juga baling-baling. setelah itu, mobil itu terbang melewati barikade itu.
Push ...
"Hahaha, ternyata kakek se memiliki mobil seperti ini. aku merasa senang dia memberikan mobilnya," ucap albara, dengan merasa sangat senang.
"Hah? ke-kenapa kita bisa terbang?" tanya alisya, dengan merasa sangat keheranan.
Bak ...
Mobil itu kembali ke jalan. sekarang, albara sudah berhasil melewati barikade itu.
Ckitt ...
Gadis itu tidak bisa melewati barikade itu. jalan terhalangi oleh barikade. ia merasa sangat kesal karena albara berhasil kabur.
"Dasar ... kau selamat hari ini! lain kali aku tidak akan membiarkan kau kabur lagi!" ucap gadis itu, dengan merasa sangat kesal.
Di sisi lain, alisya merasa sangat kagum dengan albara, ia berkata,"Tuan penjelajah, ka-kau sangat hebat," ucap alisya, dengan merasa sangat keheranan.
__ADS_1
Brum ...
"Hehe, aku hebat kan. kau beruntung bisa menjadi asistenku. sekarang, aku memintamu untuk selalu bersamaku," ucap albara, dengan merasa sangat senang.
"Baik! aku akan selalu bersamamu," ucap alisya, dengan merasa sangat senang.
Mereka berhasil masuk ke dalam wilayah wise tanpa menghancurkan barikade itu. perjalanan mereka di wilayah wise baru saja dimulai.
Brum ...
Sekarang, mereka akan menunju sebuah desa kecil yang ada di wilayah itu. desa itu dikelilingi benteng yang terbuat dari kayu. di desa itu, juga terdapat banyak barikade yang mengelilingi desa itu.
Brum ... Mobil albara melaju sangat cepat.
Albara melihat banyak barikade di jalan menuju ke dalam desa. ia berkata, "Asisten, sepertinya ada barikade di depan. sepertinya kita harus terbang lagi melewati barikade itu. bersiaplah!" ucap albara, dengan merasa sangat bersemangat.
"Ha? ba-baik," ucap alisya, dengan merasa sedikit gugup.
Push ...
Mobil itu mengeluarkan sayap dan juga baling-baling. Push ... Mereka terbang melewati barikade itu. Tap ... Brum ... settlah berhasil melewati barikade itu, mobil kembali turun.
Brum ...
"Haha, ini sangat menyenangkan," ucap albara, dengan merasa sangat bersemangat.
"Huh ... syukurlah kita bisa melewati barikade itu," ucap alisya, dengan merasa sangat lega.
"Tuan penjelajah, kenapa di tempat ini terdapat banyak sekali barikade?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.
"Aku juga tidak tau. mungkin saja mereka sengaja memasang barikade ini untuk menghambat pasukan yang menyerang mereka," ucap albara, dengan merasa sedikit penasaran.
"Mungkin saja," ucap alisya, dengan merasa sedikit gugup.
Setelah melewati banyak barikade, akhirnya mereka bisa sampai di sebuah desa yang ada di wilayah itu.
Mereka memasuki desa itu. tetapi, desa itu sangat sepi dan juga tidak ada satupun orang yang terlihat.
Brum ...
Tetapi, setelah itu, mereka melihat sebuah kedai berada di tengah desa. "Asisten, ayo kita turun. kita belum makan siang ini, aku ingin membeli makanan di kedai itu," ucap albara, dengan merasa perutnya lapar.
"Ba-baik," ucap alisya, dengan merasa sedikit gugup, sambil turun dari mobil.
Tap ... tap ... tap ...
Mereka berjalan dan masuk ke dalam kedai itu. mereka membuka pintu kedai itu
Krek ...
alangkah kagetnya mereka melihat banyak sekali orang asing di tempat itu. semua orang asing, memperhatikan kedatangan mereka. mereka semua terlihat seperti penjelajah.
__ADS_1
"Wah? kenapa di tempat ini ada banyak orang?" tanya albara, dengan merasa sangat keheranan.
(Bersambung ... )