Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch 12 - Kota dan benteng


__ADS_3

Ch 12 - Kota dan benteng


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. dengan sangat hati-hati, Albara masuk ke setiap rumah dan bangunan.


Ia mencari benda yang mungkin saja bisa digunakan. tetapi, mereka tidak bisa menemukan satupun benda yang bisa digunakan. Setelah itu, mereka terus berjalan menuju pusat kendali di kota itu.


Tap ... tap ... tap ...


"Sepertinya semua bangunan ini rusak akibat ledakan itu," ucap alisya, dengab merasa keheranan.


"Benar, kita harus tetap berhati-hati. mungkin saja ada musuh yang menunggu kedatangan kita," ucap albara, dengan merasa waspada.


Alisya melihat bangunan mencurigakan berada di dekat mereka. dengan penasaran, ia berkata,"Albara, bangunan apa itu? kenapa ada dinding penghalang yang mengelilingi gedung itu?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Bangunan itu? sepertinya itu adalah sebuah benteng yang tidak terkena ledakan. aku merasa penasaran, ayo kita masuk ke benteng itu," ucap albara, dengan merasa penasaran.


"Ha? ba-baiklah," ucap alisya, dengan merasa gugup.


Mereka mendekat ke benteng itu. tempat itu sedikit gelap, dan dikelilingi oleh banyak kendaraan yang terkena ledakan.


tetapi, anehnya hanya benteng itu tetap berdiri kokoh walaupun disekitarnya terjadi ledakan besar.


Tap ... tap ... tap ...


Mereka mendekat ke benteng itu. tetapi, tanpa mereka sadari, puluhan pemanah membidik mereka dari benteng.


Dengan merasa penasaran, albara terus mendekat sampai pada akhirnya.


"Tembak!" ucap seseorang yang berada di benteng.


Push ...


Puluhan anak panah ditembakan.


"Alisya! cepat berlindung!" ucap albara, dengan merasa kaget.


Mereka berlindung tepat di puing-puing bangunan dari tembakan panah itu. musuh terus menembakan panahnya tanpa berhenti.


Push ...


Pat ...


pat ...


"Siapa mereka? kenapa mereka menuerang kita?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Sepertinya mereka memiliki senjata untuk bereperang. kita harus berlindung karena kita kalah jumlah dan persenjataan," ucap albara, dengan merasa khawatir.


Tiba-tiba, musuh mengeluarkan sejata baru mereka. mereka membidik albara dan alisya dengan senjata itu.


"Tembak!" ucap orang yang berada di benteng itu.


Push ...


"berlindung!" ucap albara, dengan merasa khawatir.


Duar ...


mereka meledakan tempat itu secara beruntun. bangunan di sekitar tempat itu, ikut terkena ledakan besar itu.


kini, posisi albara dan alisya terpojok. setelah berlindung cukup lama, mereka melihat satu skuadron helikopter datang beserta pasukan mendekat ke benteng itu.


"ha? helikopter? " tanya alisya, dengan merasa keheranan.


"Sepertinya mereka adalah tentara yang dikirim ayah," ucap albara, dengan merasa senang.

__ADS_1


didalam helikopter, pilot pesawat menemukan albara sedang berlindung di puing-puing bangunan.


"Lapor, target ditemukan. meminta perintah," ucap pilot helikopter itu.


"Dimengerti, selamatkan target," ucap seseorang yang berbicara lewat alat komunikasi.


"Diterima, menjalankan perintah," ucap pilot helikopter itu.


Helikopter itu mendarat dekat di tempat albara. pilot meminta albara untuk segera masuk ke dalam helikopter mereka.


"Cepat masuk, kita sudah tidak punya banyak waktu!" ucap pilot itu.


"Baik! alisya, ayo!" ucap albara, dengan merasa sedikit khawatir.


"baik," ucap alisya.


Mereka berdua berlari mendekat ke helikopter. dengan sekuat tenaga, akhirnya mereka bisa masuk ke helikopter itu dengan selamat.


"Target berhasil diselamatkan," ucap pilot helikopter itu.


"kerja bagus, segera meninggalkan tempat itu," ucap seseorang yang berbicara lewat alat komunikasi.


"Menerima perintah, " ucap pilot helikopter itu.


Helikopter itu terbang melesat menjauh dari benteng itu. sementara sisanya diperintahkan menghancurkan benteng.


Duar ...


Ledakan besar terjadi di benteng itu. albara merasa sangat senang karena ia berhasil selamat.


"Huh, syukurlah kita berhasil kabur. alisya, apa kau baik-baik saja?" tanya albara, dengan penasaran.


"Em! tentu saja, tadi itu hampir saja," ucap alisya, dengan merasa senang.


"Tuan muda, apa anda baik-baik saja?" tanya pilot helikopter itu.


"Tuan muda, jenderal memerintahkan saya untuk menjemput tuan. kita akan segera mendarat di pangkalan militer di dekat kota ini," ucap Pilot itu.


"ha? pangkalan militer?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Jenderal? untuk apa seorang jenderal meminta saya dijemput dari kota itu?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Tuan muda, jenderal ingin bertemu dengan anda. sebaiknya anda persiapkan diri terlebih dahulu," ucap pilot itu.


"Baik," ucap albara.


Helikopter itu melesat dan mendarat di sebuah tempat dekat kota itu. mereka sampai dan diminta untuk turun dari helikopter itu.


"Tuan, kita sudah sampai. anda boleh turun sekarang, " ucap pilot itu.


"Baiklah," ucap albara.


Tap ... tap ... tap ...


Mereka turun dari helikopter itu. beberapa tentara mendekat ke arah mereka. mereka berkata,"Tuan muda, kami diminta untuk mengantar anda menuju ruangan jenderal," ucap tentara itu.


"baik," ucap albara.


"Alisya, kau harus tetap bersamaku," ucap albara, dengan merasa senang.


Albara memegang tangan alisya, mereka bergandengan tangan untuk pergi bersama ke kantor jenderal.


Tap ... tap ... tap ...


Setelah mereka sampai di depan pintu ruangan itu. mereka diminta untuk masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Tuan muda, silahkan masuk. jenderal sudah menunggu anda. ia juga meminta gadis yang bersama denganmu untuk ikut masuk ke dalam," ucap tentara itu.


"baik, alisya, ayo kita masuk," ucap albara, dengan merasa gugup.


"ha? ba-baik," ucap alisya, dengan merasa senang.


Krek ...


Mereka membuka pintu ruangan itu. ruangan itu sangat gelap.


Tap ... tap ... tap ...


Tiba-tiba.


Brug ...


Pintu itu tertutup.


"ha? Al-albara? a-apa benar ini tempatnya?" tanya alisya, dengan merasa penasaran.


"Alisya, kau tidak perlu takut. aku berasa bersamamu, tidak ada yang bisa menyakitimu," ucap albara, dengan merasa senang.


Tiba-tiba, lampu menyala, ruangan itu sudah tidak gelap. ada seseorang yang berada di depan mereka.


"Penjelajah albara dan seorang gadis, selamat datang ke markas pasukanku," ucap orang itu.


"Kau ..." ucap albara, dengan merasa penasaran.


"Benar albara, aku adalah kakekmu, senang bisa melihatmu setelah sekian lamanya," ucap jenderal atau kakeknya dengan merasa senang.


"Ha? kakek?" tanya alisya, dengan merasa keheranan.


"Benar, aku adalah kakeknya. aku adalaj seorang jenderal pemimpin pasukan di wilayah ini, panggil aku dengan jenderal Se. ini pertama kalinya aku melihat cucuku bersama seorang gadis, apalagi gadis itu sangat cantik. Hm ... apa kau mau menikah dengan cucuku gadis muda?"tanya kakek albara, dengan merasa penasaran.


"Hah? a-aku ..." ucap alisya, dengan merada penasaran.


"Sudah kakek, lupakan tentang itu. aku ingin tau kenapa kau memintaku datang ke tempat ini? sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di daratan ini?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Albara, kakek ada ditempat ini karena satu hal," ucap kakek albara.


"ha? hal apa yang bisa membuat kakek berada di tempat ini?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Itu adalah ..." ucap kakeknya.


tetapi, tiba-tiba.


Duar ... sebuah ledakan besar terjadi di kota itu.


"ha? suara apa itu?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


Roar ...


Tiba-tiba, terdengar suara misterius di kota itu. Suara itu terdengar seperti suara monster.


Tiba-tiba, monster muncul di tengah kota itu. dengan badan yang besar, monster itu mengaung, Roarr ...!!


Alarm peringatan serangan dinyalakan. kini, mereka bersiap untuk menghadapi monster itu.


kriing ...!!


"Peringatan, peringatan," ucap alarm peringatan itu.


"Kakek, sebenarnya ada apa ini?" tanya albara, dengan merasa penasaran.


"Tidak ada waktu lagi. saatnya kita bertindak," ucap kakek albara.

__ADS_1


(Bersambung ... )


__ADS_2